Industri

Ekspor Pupuk Terbuka, Kebutuhan Petani Tetap Prioritas

ist

PELUANG ekspor pupuk Indonesia mulai terbuka di tengah dinamika global yang memengaruhi rantai pasok dunia, meski demikian hingga kini, pemerintah dan pelaku industri menegaskan belum ada keputusan final menyusul arah kebijakan itu masih pada tahap perhitungan dan penjajakan, dengan satu garis tegas, yaitu kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) Maryono dihubungi akhir pekan lalu melalui WhatsApp menegaskan, dalam skema tersebut pembagian peran sudah jelas.

Perusahaan di level operasional seperti Pusri tetap berfokus pada produksi, sementara kewenangan ekspor berada di tingkat holding/ Pupuk Indonesia.

“Ekspor dilakukan oleh Pupuk Indonesia Holding, sementara Pusri fokus pada produksi. Kami pastikan kebutuhan pupuk dalam negeri, khususnya subsidi dan ketahanan pangan, tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Penegasan ini menjadi penting di tengah munculnya kekhawatiran publik terkait potensi berkurangnya stok pupuk subsidi jika ekspor dilakukan. Pusri memastikan, fungsi produksinya tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan nasional terlebih dahulu.

Sejalan dengan itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, belum lama ini menyampaikan  peluang ekspor memang ada, namun pelaksanaannya tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Seluruh kebijakan tetap mempertimbangkan siklus tanam dan kebutuhan riil di lapangan.

“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Secara total memang ada kelebihan, tapi kita juga memperhatikan musim tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” jelas Rahmad mengutip laman resmi pertanian.go.id, senin (20/4/2026).

Menurutnya, pendekatan ini diperlukan agar distribusi pupuk ke petani tidak terganggu, terutama pada periode tanam yang menjadi puncak kebutuhan.

Dengan demikian, ekspor hanya akan dilakukan pada waktu dan volume yang benar-benar aman, dari sisi pemerintah, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk nasional dalam kondisi aman meski dunia tengah menghadapi tekanan geopolitik yang berdampak pada distribusi pupuk global.

“Ini membuktikan ketahanan pupuk kita kuat, saya ingin menyampaikan kepada petani bahwa pupuk kita cukup, tidak terpengaruh kondisi perang, bahkan berlebih,” kata Sudaryono.

Ia mengungkapkan, kapasitas produksi nasional yang besar mendorong adanya potensi kelebihan pasokan, dari hasil perhitungan sementara, terdapat surplus sekitar 1,5 juta ton yang membuka ruang untuk ekspor secara terukur.

Sudaryono menegaskan  ekspor bukan menjadi prioritas utama, pemerintah tetap menempatkan kebutuhan dalam negeri sebagai yang paling utama sebelum mempertimbangkan pasar luar.

“Kita utamakan kebutuhan pupuk dalam negeri, setelah itu terpenuhi, baru kelebihan bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Sebelumnya peluang ekspor tersebut mulai dilirik oleh sejumlah negara mitra, seperti Australia dan  India yang menjadi salah satu negara yang menyatakan minat, terutama karena adanya perbedaan musim tanam yang dinilai tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri Indonesia.

Unggul produksi pupuk

Bahkan, Australia juga membuka ruang kerja sama di sektor pupuk, termasuk potensi impor urea dari Indonesia. Pembahasan ini muncul di tengah gangguan rantai pasok global, yang antara lain dipicu oleh dinamika geopolitik dan jalur distribusi internasional.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena mampu memproduksi pupuk, khususnya urea, berbasis gas alam domestik, kondisi ini membuat ketergantungan terhadap impor relatif lebih rendah dibanding sejumlah negara lain.

Meski peluang dari India dan Australia mulai terbuka, pemerintah tetap menekankan pendekatan kehati-hatian. Penjajakan kerja sama masih berlangsung, dan belum mengarah pada komitmen ekspor dalam jumlah tertentu.

Pola perdagangan pupuk juga berjalan dua arah. Indonesia tidak hanya berpotensi mengekspor, tetapi juga tetap mengimpor bahan baku tertentu seperti fosfat untuk mendukung produksi dalam negeri.

Kondisi stok pupuk nasional sendiri disebut berada pada level memadai dengan dukungan produksi yang terus berjalan.

Hal ini menjadi salah satu dasar perhitungan dalam melihat peluang ekspor, tanpa mengganggu distribusi domestik.

Dengan berbagai faktor tersebut, arah kebijakan pupuk nasional saat ini masih berada pada tahap penghitungan dan penyesuaian.

Peluang ekspor memang terbuka, namun realisasinya akan sangat bergantung pada kondisi kebutuhan dalam negeri, siklus tanam, serta dinamika pasar global ke depan. (***)

To Top