BUMN

Bukan Hanya Pupuk, Cara Pusri Bongkar Kebiasaan Lama yang Bikin Panen Stagnan

ist

BERTANI  itu bukan sekadar tanam, tinggal dam panen, jika pola pikirnya masih begitu-gitu aja, ya jangan heran hasilnya kadang kayak sinetron, banyak drama, minim kepastian. Di sinilah gaya main baru diperkenalkan oleh PT Pusri Palembang bukan sekadar jual pupuk, tapi ngajarin “resep dapur” pertanian biar hasil panen gak lagi untung-untungan.

Bahasanya sederhana pemupukan berimbang. Tapi jangan salah, ini bukan istilah keren doang buat brosur. Hal ini semacam rumus wajib kalau mau hasil panen naik kelas. Kalau selama ini petani ibarat masak tanpa takaran, kadang kebanyakan garam, kadang lupa gula maka konsep ini datang sebagai “buku resep” yang lebih masuk akal.

Kuncinya ada di tiga huruf yang sering diremehkan antara lain N, P, dan K.

Nitrogen (N), ini ibarat nasi dalam sepiring makan. Dia yang bikin tanaman “kenyang”, tumbuh daun dan batangnya. Tanpa ini, tanaman bisa kerdil, pucat, dan gak bergairah—kayak orang kurang tidur.

Phospat (P), ini bagian yang sering dilupakan, padahal perannya krusial. Dia yang kerja di bawah tanah, memperkuat akar. Kalau akarnya kuat, tanaman gak gampang goyah, gak gampang stres. Ini fondasi dan kita tahu, yang kuat itu selalu yang dari bawah.

Lalu Kalium (K), ini semacam “bodyguard”-nya tanaman. Dia bikin tanaman tahan banting, gak gampang diserang hama dan penyakit. Plus, dia juga yang bikin hasil panen lebih berkualitas buah lebih padat, biji lebih bernas. Jadi bukan cuma banyak, tapi juga bagus.

Masalahnya, selama ini banyak yang main tebak-tebakan. Pupuk dipakai, tapi gak tahu kebutuhan tanah dan tanaman. Hasilnya? Kadang over, kadang kurang. Tanah lama-lama capek, hasil panen stagnan, petani yang pusing.

Di sinilah Pusri masuk, bukan cuma sebagai penjual, tapi jadi semacam “guru lapangan”. Edukasi terus digencarkan, dari cara pakai pupuk sampai pemahaman dasar soal kebutuhan tanaman.

Rustam Effendi, VP Komunikasi & Administrasi Korporat Pusri, bilang jelas: ini bukan soal jualan semata.

“Pusri tidak hanya fokus menyediakan pupuk, tapi juga memastikan petani paham cara penggunaannya. Kalau dipakai benar, hasilnya pasti beda lebih optimal, lebih stabil,” ujarnya.

Kalimatnya sederhana, tapi pesannya dalam pupuk bagus tanpa cara pakai yang benar itu sama saja buang-buang uang.

Makanya, Pusri juga dorong penggunaan pupuk NPK yang sudah diracik dengan komposisi tertentu. Ada yang 15-15-15, ada juga 17-6-25, sampai yang lebih spesifik untuk komoditas seperti kopi dan kelapa sawit.

Ini bukan soal angka doang. Setiap komposisi itu dibuat menyesuaikan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan. Jadi petani gak lagi “nebak-nebak”, tapi tinggal menyesuaikan.

Keunggulannya? Praktis. Satu pupuk, tiga fungsi. Unsur haranya sudah seimbang, butirannya seragam, dan gampang diaplikasikan. Gak ribet, tapi dampaknya terasa.

Yang sering luput juga soal waktu pemupukan. Banyak yang asal tabur tanpa lihat fase tanaman. Padahal ini krusial.

Di fase awal, sekitar 7–14 hari setelah tanam, pupuk diberikan buat dorong pertumbuhan akar. Ini fase penting, karena kalau awalnya lemah, ke depannya bakal keteteran.

Masuk umur 25–30 hari, baru masuk fase berikutnya dorong pembungaan dan pembentukan buah. Di sini, kebutuhan tanaman berubah, dan pemupukan harus ikut menyesuaikan.

Jadi bukan cuma soal “apa” yang dipakai, tapi juga “kapan” dan “berapa”.

Di tengah tantangan pertanian yang makin kompleks, cuaca gak menentu, lahan makin terbatas, biaya produksi naik, cara lama jelas gak cukup. Harus ada pendekatan yang lebih cerdas.

Dan di sinilah edukasi jadi kunci.

Apa yang dilakukan Pusri ini sebenarnya sederhana, tapi dampaknya panjang. Petani jadi lebih paham, tanah lebih terjaga, dan hasil panen lebih bisa diprediksi.

Kalau diibaratkan, ini bukan lagi bertani pakai insting, tapi sudah naik level jadi bertani pakai ilmu.

Dan di dunia yang makin keras, satu hal yang pasti: yang pakai ilmu, biasanya lebih tahan lama. (***)

To Top