Kamis, 15 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » “Saatnya Palembang Punya Co-Working Biar Anak Muda Gak Cuma Jago Ngedit Caption”

“Saatnya Palembang Punya Co-Working Biar Anak Muda Gak Cuma Jago Ngedit Caption”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 25 Jun 2025
  • visibility 801
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ZAMAN sekarang, internet gratis udah kayak angin ada di mana-mana, mau nongkrong di kafe hipster dengan nama kopi yang lebih rumit dari nama bayi zaman now, tinggal beli segelas gula aren, Wi-Fi langsung nyambung. Namun, walaupun internet mudah diakses, tempat berkarya yang benar-benar mendukung kreativitas itu masih langka, terutama di Palembang sebagian besar anak muda kita masih jadi pejuang kopi dingin, kerja dari kafe, dikejar deadline sambil dengerin obrolan orang sebelah yang curhat soal mantan. Fokus pun bubar jalan, proposal yang harusnya jadi unicorn malah mentok jadi dokumen yang nggak pernah dikirim.

Padahal, yang dibutuhkan anak muda zaman sekarang bukan sekadar tempat duduk dan koneksi internet. Mereka butuh tempat hidup, tempat di mana ide bisa tumbuh, diskusi bisa mengalir, dan colokan gak rebutan sama rice cooker.

Di sinilah peran co-working space masuk tempat kerja bareng yang bukan sekadar ruangan ber-AC dengan meja berjajar dan tulisan motivasi nempel di tembok. Co-working itu ekosistem, tempat di mana energi ide menular, seperti ketawa di grup WA keluarga. Di sana ada desain grafis diskusi bareng web developer, ada penulis yang tiba-tiba ketemu ilustrator yang cocok, dan ada barista yang tahu bedanya kopi robusta dengan roaster robustir.

Tapi sayangnya, di Palembang, ruang seperti ini masih bisa dihitung pakai jari tangan sambil megang pempek, banyak yang masih ngira co-working itu tempat kerja buat anak-anak sok startup atau freelancer yang belum jelas arah hidup. Padahal, seperti kata Theodore Levitt dari Harvard, “Kreativitas itu memikirkan hal-hal baru. Inovasi itu melakukan hal-hal baru.” Nah, anak muda kita tuh udah kreatif, tapi kalau tempatnya masih sempit, ya inovasi itu tinggal di pikiran, gak pernah turun jadi karya.

Tony Bacigalupo, pendiri New Work Cities, juga pernah bilang, “Orang berkembang di lingkungan tempat mereka merasa terhubung. Co-working bukan soal meja, tapi soal energi.” Ini dia yang masih kurang di Palembang energi, bukan energi listrik PLN yang naik-turun, tapi energi komunitas tempat dimana yang bikin orang semangat bangun pagi, bukan karena ada zoom meeting, tapi karena tahu mereka akan duduk di ruang di mana ide-ide besar bisa lahir dari percakapan kecil.

Lihat kota lain, Chiang Mai di Thailand, kota yang dulunya cuma dikenal buat wisata, sekarang jadi markas digital nomad se-Asia Tenggara, coworking space-nya ratusan. Di Tallinn, Estonia, coworking ada sampai ke desa.

Pemerintah mereka tahu, internet cepat doang gak cukup, harus ada tempat buat mikir bareng. Bandung punya Bandung Creative Hub. Malang dan Makassar punya coworking yang didukung Pemda bahkan Surakarta udah kerja bareng Kementerian Parekraf buat bikin akademi game. Anak-anak Solo nanti kerjaannya bikin game, bukan cuma main game sambil makan makaroni pedas level 5.

Terus kita kapan?, kalau Palembang terus-terusan hanya mengandalkan kafe sebagai tempat kerja kreatif, jangan heran kalau talenta kita lari ke kota lain yang lebih menghargai ruang ide, karena sejatinya, anak muda itu seperti biji kopi kalau ditanam di tempat yang tepat, disangrai dengan cinta, bisa jadi espresso berkualitas. Kalau dibiarin di dalam karung, ya jadinya bau dan jadi pakan tikus.

Palembang itu kota besar, namun  kalau ruang ide-nya kecil, hasilnya ya ide yang sempit juga. kita perlu ruang yang bikin orang bisa gagal dan belajar bareng, bukan cuma ruang buat bikin event tiga bulan sekali dengan backdrop besar dan snack kotak. Palembang perlu ruang yang hidup setiap hari, yang ketika pintunya dibuka, semangat kerja ikut menyeruak bersama aroma kopi dan suara keyboard yang mengetik masa depan.

Tumbuh di ruang

Bayangin tahun depan, anak muda Palembang presentasi aplikasi buat sektor pertanian ke investor Jepang dari rooftop coworking space di Jakabaring, pakai jas tapi celana pendek karena hybrid meeting. Itu baru masa depan yang patut kita perjuangkan karena sejatinya, ide itu tidak cukup diseduh di kafe, ia harus ditumbuhkan di ruang yang menghargainya.

Jadi, kalau ada yang masih mikir, “Lah, ngapain susah-susah bangun co-working? Anak muda juga udah bisa kerja dari rumah kok!”  itu sama aja kayak bilang, “Nggak usah sekolah, kan udah ada Google.”

Kerja di rumah memang bisa. Tapi kerja di tempat yang menyala semangat, ketemu orang yang saling dorong, dan suasananya bikin otak mekar kayak kembang kol disiram pupuk organik, itu yang jarang kita punya. Co-working itu bukan soal fasilitas, tapi soal fasilitator mimpi, tempat ide-ide kecil bisa ketemu kompor gas dan meledak jadi karya besar.

Coba pikir, masa Palembang cuma dikenal karena pempek dan jembatan Ampera?. Keren sih, tapi kan bisa ditambah “Oh Palembang? itu kota yang jadi pusat inovasi anak muda Sumatera. Co-working-nya keren-keren, banyak startup lahir dari situ.” Lebih bangga gak, tuh?

Karena ujung-ujungnya, kalau anak muda kita terus dicekoki ruang sempit, acara dadakan, dan pelatihan satu arah… ya jangan heran kalau potensi besar berubah jadi potensi basi.

Sebelum ide-ide kita pindah domisili ke Bandung, Jogja, atau bahkan Chiang Mai, mari kita bangun ruangnya di sini. Bukan hanya untuk kerja, tapi untuk hidup bukan hanya untuk presentasi, tapi untuk tumbuh, bukan hanya untuk anak muda hari ini, tapi untuk generasi yang akan bilang nanti, “Aku jadi sukses karena dulu nongkrongnya bukan di warung, tapi di co-working yang dibikin Pemkot”.

Kita gak butuh gedung mewah cukup ruang yang nyaman, koneksi yang cepat, kopi yang layak, dan komunitas yang saling dorong. Sisanya? Anak muda Palembang sudah punya semangat, ide, dan stamina ngopi sampai malam. Sebelum slogan kota ini berubah jadi “Palembang Kota dengan Jumlah Colokan Paling Diperebutkan,” kita ubah arah. Buka ruang, buka peluang. Biar anak muda gak cuma viral, tapi juga produktif.

Dan siapa tahu, dari co-working di Kalidoni, lahir unicorn baru Indonesia. Atau minimal… lahir podcast yang gak hanya bahas mantan.

Ayo, Palembang geser dari co-lamun ke co-working, dari duduk di pojokan kafe sambil ngedit caption, ke ruang kerja bersama di mana ide bisa lahir, tumbuh, dan terbang. Karena masa depan kota ini bukan ditentukan seberapa besar billboard-nya, tapi seberapa besar ruang yang kita kasih untuk anak muda berpikir.

Salam kreatif, salam colokan penuh, dan salam bean bag nasional.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peletakkan Batu Pertama Rumah Tahfidz Ar-Riyadh

    Peletakkan Batu Pertama Rumah Tahfidz Ar-Riyadh

    • calendar_month Sabtu, 2 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 921
    • 0Komentar

    KEHADIRAN sejumlah Pondok Pesantren di Sumsel belakangan ini mendapat apresiasi tersendiri dari Gubernur Sumsel H.Herman Deru. Termasuk  Ponpes Ar-Riyadh salah satunya. Baginya keberadaan Ponpes sangat membanggakan dan membantu Pemerintah untuk membangun karakter akhlak Pemuda Sumsel di masa depan. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Perayaan Maulid Nabi dan Haul Ar-Riyadh ke 48 serta Peletakkan batu Pertama Rumah […]

  • Kayu Indonesia Punya Lisensi, Ekspor Produk Kayu Indonesia ke Jerman Meningkat

    Kayu Indonesia Punya Lisensi, Ekspor Produk Kayu Indonesia ke Jerman Meningkat

    • calendar_month Sabtu, 12 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.308
    • 0Komentar

    PROMOSI bersama para pemangku kepentingan dapat meningkatkan pangsa pasar produk kayu Indonesia di Jerman, apalagi kayu Indonesia sudah punya lisensi. Hal itu, disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, belum lama ini. Menurut Dubes Arif, promosi yang konsisten akan membuka pasar Jerman bahwa produk kayu Indonesia […]

  • Ini Dia, Empat Calon Sekda Kabupaten Lahat Yang Mengikuti Seleksi

    Ini Dia, Empat Calon Sekda Kabupaten Lahat Yang Mengikuti Seleksi

    • calendar_month Sabtu, 21 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 813
    • 0Komentar

    PLH. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, Drs. H Ahmad Najib hadir sebagai panitia pada Seleksi Jabatan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah Kabupaten Lahatdi Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Lahat, Sabtu (21/8). Ada empat pejabat yang siap diseleksi diantaranya Drs. Peterson Okki Bial sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Empat […]

  • Usai Dilantik, Kepala BNPB Tinjau Banjir

    Usai Dilantik, Kepala BNPB Tinjau Banjir

    • calendar_month Sabtu, 20 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 699
    • 0Komentar

    KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mayjen TNI Suharyanto meninjau kondisi banjir di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah, Sabtu (20/11) dan Minggu (21/11). Peninjauan banjir di dua provinsi tersebut menjadi debut perdana Mayjen TNI Suharyanto selaku Kepala BNPB setelah dilantik Presiden Joko Widodo pada Rabu (17/11). Lokasi pertama yang ditinjau lulusan Akmil 1989 […]

  • Tesso Nilo Bukan Sawitlandia, Saat Gajah, Harimau & Hati Nurani Bersatu

    Tesso Nilo Bukan Sawitlandia, Saat Gajah, Harimau & Hati Nurani Bersatu

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 604
    • 0Komentar

    KALAU hutan bisa curhat, mungkin Taman Nasional Tesso Nilo sudah nangis pakai daun pisang sebagai tisu. Bayangkan, dari 81.793 hektare luasnya, sekitar 70.000 hektare sudah berubah jadi kebun sawit. Lah, gajah sama harimau Sumatera mau tinggal di mana? Masa mereka disuruh jadi pemetik sawit freelance? Ini bukan sinetron dilema di Rimba Raya, tapi kisah nyata […]

  • Meningkat Pesat, Warga OKI di Vaksin Tercatat 350 Ribu Jiwa

    Meningkat Pesat, Warga OKI di Vaksin Tercatat 350 Ribu Jiwa

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 570
    • 0Komentar

    PROGRAM ‘Keroyok Vaksinasi’ yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir membuahkan hasil. Sejak dicanangkan Bupati Ogan Komering Ilir pada 25 Oktober 2021 lalu, Jumlah warga yang divaksin Covid-19 bertambah sebanyak 350.910 orang atau meningkat hingga 37 persen dari target 557 ribu jiwa. “Diawal pencanangan 25 Oktober lalu capaian kita baru sekitar 16 persen. Per hari […]

expand_less
WordPress Archive Grund - Creative Digital Agency Elementor Template Kit Grunge WordPress Theme Grupo Chat – Chat Room & Private Chat – Video Chat & Audio Chat – AI Chat – PHP Group Chat Code Gröwla – Digital Agency & Studio WordPress Theme GSlider – Premium Gutenberg Slider Block For WordPress Gsquare – Real Estate Theme Gueni – Business Solution Elementor Template Kit Guidan – NonProfit Charity WordPress Theme Gunomic – Shooting Range & Gun Club Elementor Template Kit Gunslinger — Gun Store & Hunting WordPress Theme