Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » “Kalau Korea Bisa Ekspor Oppa, Masa Kita Kalah Sama Boneka?”

“Kalau Korea Bisa Ekspor Oppa, Masa Kita Kalah Sama Boneka?”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
  • visibility 799
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, –  Kalau UMKM kita ibarat makanan, dia itu sudah gurih, manis, ada pedes-pedesnya dikit. Lengkap, tapi sayang, masih sering cuma dijadiin menu katering seminar. Dipuji-puji saat launching program, difoto rame-rame, lalu dilupakan saat acara bubar dan snack box-nya tinggal bolu sisa.

Maka dari itu, kita layak menyambut program AKSI 2025 ini dengan harapan penuh, tapi juga kewaspadaan tinggi, soalnya, di republik ini, antara “niat baik” dan “hasil konkret” kadang seperti jarak dari Sabang ke Merauke jauh dan sering nyasar di tengah.

Program AKSI (Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia) katanya mau mempercepat ekspor produk kreatif dari UMKM. Ini langkah bagus, semoga bukan cuma aksi-aksian, sebab selama ini, UMKM kita seperti aktor berbakat yang dipaksa nonton dari bangku penonton, sementara panggungnya diisi oleh bintang-bintang besar yang kadang hanya bermodal koneksi, bukan inovasi.

Menteri UMKM sudah bilang, ekonomi kreatif dan UMKM itu ibarat dua sisi mata uang kemandirian dan inovasi. Tapi jangan sampai mata uangnya malah nggak laku di pasar dunia karena gak dikasih etalase yang layak. UMKM bukan hanya butuh pelatihan “cara packing yang instagramable”, tapi juga akses ekspor yang nyata, bukan seminar yang hanya berakhir dengan sertifikat dan nasi kotak.

Lihat Korea Selata, Mereka bisa ekspor BTS, BLACKPINK, sampai mi instan, dan semua dibungkus dengan budaya pop yang disulap jadi ekonomi. Bahkan karakter boneka Line Friends dari Korea bisa dijadikan aset keuangan. Sedangkan kita? Karakter lokal kita masih jadi wallpaper WhatsApp emak-emak, belum sampai meja investor.

Selain itu Jepang bisa jual Hello Kitty sampai Amerika Latin. Padahal kucingnya gak punya mulut dan gak pernah meong. Tapi karena dikemas dengan budaya dan branding yang kuat, dia jadi duta ekspor kawaii sedunia. India ekspor yoga, film Bollywood, dan bumbu masala, padahal yang dijual cuma gerakan dan rasa, bukan barang fisik. Tapi karena cerita dan citra-nya kuat, dunia ikut nimbrung.

Thailand sukses jual mangga ketan ke restoran hipster Eropa. Di sana, jajan pasar bisa naik kelas, asal ada plating mewah dan logo yang kece. Vietnam sekarang jadi raja ekspor kopi robusta, padahal dulu kita yang dikenal sebagai surganya kopi. Mereka lari cepat, kita masih sibuk rapat koordinasi antar dinas. Brasil bahkan bisa bikin sendal jepit merek Havaianas dijual di butik mewah. Kita? Sendal jepit lokal masih dianggap barang darurat kalau ke warung Indomie, dan Turki? Mereka ekspor drama sinetron kerajaan sambil jualan karpet.

Kita juga punya banyak sinetron, tinggal disulap sedikit judulnya bisa “Cinta di Atas Lidi Ekspor”.

Nah, dari situ kita belajar bahwa branding, akses pasar, dan keberanian menjual identitas lokal itu penting. Produk kita kaya akan budaya, dari batik sampai kripik, dari keris sampai komik lokal, tapi kalau cuma dipajang di festival-festival daerah, ya lama-lama bisa basi. Pepatah bilang emas tetap emas, tapi kalau dibungkus daun pisang, orang kira itu lemper.

Yang tak kalah penting adalah pembiayaan. Menteri UMKM sudah menyentil soal penggunaan kekayaan intelektual (KI) sebagai jaminan kredit. Ini penting banget. Masa iya, karakter animasi bikinan anak bangsa cuma dijadiin stiker di grup WA? Padahal di luar negeri, karakter seperti Minion bisa jadi aset milyaran dolar, kita harus mulai percaya ide bagus itu setara dengan tanah dan bangunan asal tahu cara menawarkannya ke bank.

Tapi, sekali lagi, jangan sampai semangat ini cuma jadi seremoni, jangan sampai AKSI 2025 cuma sekadar “Acara Keren, Selesai, Istirahat”. Harus ada keberlanjutan, keberpihakan, dan keberanian membuat ekonomi kreatif tidak sekadar gaya hidup, tapi sumber devisa.

Kita juga harus ingat bahwa pasar domestik kita besar dengan lebih dari 270 juta penduduk, Indonesia bisa jadi double gardan sebagai produsen dan konsumen. Jangan sampai kita jago ekspor, tapi di kampung sendiri malah kalah sama produk luar.

Kalau UMKM kita terus diperlakukan kayak pengisi acara pinggiran yang hanya diminta joget saat pembukaan, lalu dilupakan saat sesi utama, ya selamanya mereka akan jadi bintang tamu, bukan pemeran utama. Sudah saatnya pemerintah bukan cuma jadi MC acara launching, tapi jadi manajer karier bagi para pelaku UMKM kreatif.

Agar ide tak lagi jadi poster pajangan, dan kreativitas tak lagi sekadar jadi “konten viral tapi tak dibeli”. Kalau program AKSI ini betul-betul jalan, bukan hanya tembus pasar ekspor, tapi bisa juga tembus hati rakyat, karena merasa didukung dari hulu ke hilir. Dan kalau semua lancar, siapa tahu, tahun 2026 kita bisa lihat dodol Garut tampil di Cannes, atau pempek jadi makanan penutup di festival film Venesia.

Karena seperti kata nenek saya “Kalau hidup cuma buat ikut lomba, mending jadi peserta 17-an. Tapi kalau hidup mau bermakna, jadilah tuan rumah di negeri sendiri, dan tamu terhormat di negeri orang,”.

Dan mari kita jujur banyak pelaku UMKM kita itu bukan kurang ide, tapi sering kehabisan nafas di tengah jalan. Dari izin usaha sampai pajak, dari label halal sampai surat keterangan usaha, kadang lebih susah dari skripsi anak ekonomi. Padahal mereka cuma mau jual keripik pisang dan kaos sablonan bertuliskan “Palembang Banget!”

Maka tugas negara, bukan cuma memberi panggung, tapi juga membersihkan panggung dari kabel-kabel yang bikin kesandung. Jangan biarkan UMKM kita mati gaya karena terkendala birokrasi yang mbulet kayak benang kusut dimakan kucing.

Lagi pula, ekonomi kreatif ini bukan cuma urusan ekspor atau omzet. Ia juga urusan harga diri bangsa. Kalau kita bisa bikin dunia ngiler lihat produk kita, itu berarti kita berhasil jual cerita, budaya, dan semangat gotong royong dalam bentuk barang yang nyata.

Dan jangan remehkan kekuatan UMKM, mereka ini ibarat ibu kos di tengah krisis di saat perusahaan besar bangkrut, UMKM tetap buka, tetap jualan, tetap bertahan. Mereka itu seperti tahu goreng di pinggir jalan: sederhana, tapi menyelamatkan lapar berjuta perut. Jadi kalau pemerintah memang serius dengan AKSI 2025, buktikan dengan aksi, bukan janji. Jangan cuma launching, lalu hilang ke Magelang untuk “retret koordinasi nasional sambil meditasi.”

Kalau AKSI 2025 ini berhasil, kita tak cuma jual barang, tapi menjual semangat, kreativitas, dan karakter Indonesia. Bukan hanya jadi negara yang kaya ide tapi miskin implementasi. Tapi jadi bangsa yang bisa bilang ke dunia “Kami punya barang, kami punya cerita, dan kami siap berbisnis tanpa basa-basi”.

Karena seperti pepatah Jawa bilang “Yang kreatif didukung, bukan dibikin sibuk ngurus fotokopi KTP buat bantuan”. Mari mulai sekarang, jadikan UMKM bukan cuma bahan pidato, tapi bahan bangga nasional. Dan semoga AKSI 2025 ini, bukan sekadar nama keren di baliho acara, tapi benar-benar jadi jalan tol bagi UMKM kreatif menuju panggung dunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Simak, Tips Persembahan Samsung : Bikin Foto Portraitmu Lebih Bercerita & Epic dengan Galaxy S23 Series 5G

    Simak, Tips Persembahan Samsung : Bikin Foto Portraitmu Lebih Bercerita & Epic dengan Galaxy S23 Series 5G

    • calendar_month Kamis, 4 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.800
    • 0Komentar

      Hingga saat ini portrait photography jadi salah satu teknik fotografi yang disukai oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang baru saja berkecimpung di dunia fotografi. Teknik yang berfokus pada manusia sebagai subjek foto ini dianggap menarik, karena mampu menampilkan ekspresi wajah dan suasana hati dari orang-orang yang dipotretnya. Teknik ini pun biasanya dipakai untuk memperlihatkan kepribadian […]

  • Asa Pj Gubernur Sumsel, PWI Dapat jadi Penyeimbang di Tengah Derasnya Arus Informasi Media Digital

    Asa Pj Gubernur Sumsel, PWI Dapat jadi Penyeimbang di Tengah Derasnya Arus Informasi Media Digital

    • calendar_month Kamis, 29 Feb 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.334
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Agus Fatoni mengungkapkan asanya kepada pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel.Eksistensi PWI dapat menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi media digital saat ini. Hal ini diungkapkan saat menerima audiensi jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel di Kantor Gubernur Sumsel, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (28/9/2024). Ia juga mengajak seluruh […]

  • Transformasi Pendidikan

    Transformasi Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 16 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.686
    • 0Komentar

    “Lain Lubuk Lain Ikannya” MASIH ingatkah kalian dengan pepatah di atas? Jika kita analogikan pada bidang kependudukan, pepatah itu bisa di satir mungkin seperti “Lain generasi lain inovasinya”. Tahun berapakah kalian tamat SMA? Pasti jawabannya berbeda-beda. Tapi jika ditanya seperti apakah sistem pendidikan di sekolah? Kemungkinan sebagian besar akan menjawab sama, dan bahkan ada sebagian […]

  • Tingkatkan Mutu Layanan  Bagi Masyarakat di Sumsel, Ombudsman Laksanakan Supervisi Penilaian Kepatuhan

    Tingkatkan Mutu Layanan Bagi Masyarakat di Sumsel, Ombudsman Laksanakan Supervisi Penilaian Kepatuhan

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.486
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H. Herman Deru menerima audiensi Komisioner Ombudsman RI Dr Johannes Widijantoro SH. MH beserta rombongan di ruang tamunya, Selasa (12/10) siang. Selain bersilaturahmi kedatangan Komisioner Ombudsman RI ini juga dalam rangka melakukan supervisi penilaian kepatuhan terhadap standar pelayanan publik di lingkungan Pemprov Sumsel. Dalam pertemuan tersebut Johannes mengaku senang dapat bermitra dengan Pemprov […]

  • Agar Pembeli Mengerti, Konsumen Perlu Diedukasi tentang Batik

    Agar Pembeli Mengerti, Konsumen Perlu Diedukasi tentang Batik

    • calendar_month Rabu, 13 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.456
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan, Rr. Tjandrawati mengungkapkan pentingnya edukasi kepada konsumen terhadap jenis batik yang ingin dibeli supaya konsumen mengerti dan membeli sesuai kebutuhan. “Konsumen perlu diedukasi mengenai jenis-jenis batik yang dijual oleh pedagang, agar dapat membeli sesuai kebutuhan yang diinginkan. Pasalnya, biasanya ada beberapa konsumen yang tidak […]

  • Pemberangkatan Calon Jamaah Haji, Masih Tunggu Keputusan

    Pemberangkatan Calon Jamaah Haji, Masih Tunggu Keputusan

    • calendar_month Minggu, 11 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.012
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Agama terus melakukan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1442 H/2021 M sembari menunggu informasi resmi dari Arab Saudi. Wamenag Zainut Tauhid Saadi mengatakan bahwa kemungkinan penyelenggaraan haji tahun ini masih terbuka meski dengan pembatasan kuota. “Kami masih optimis kemungkinan diselenggarakannya haji tahun ini masih terbuka,” tegas Wamenag saat mengikuti Rapat Koordinasi Bidang Haji se Kalimantan […]

expand_less
WordPress Archive Admin Columns Pro BuddyPress Columns Admin Columns Pro Events Calendar Admin Columns Pro Meta Box Admin Columns Pro Ninja Forms Admin Columns Pro Pods Admin Columns Pro Toolset Types Admin Columns Pro WooCommerce Columns Admin Columns Pro WordPress Plugin Admin Menu Editor Pro Admiral – Unique Multipurpose WordPress Theme