Digitalisasi Industri Makanan dan Minuman, Timbulkan Dampak Positif
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Senin, 19 Apr 2021
- visibility 3.072
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pekerja membuat cincau di industri rumahan cincau Desa Jatisari, Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (14/4/2021). Menurut perajin, guna memenuhi lonjakan permintaan selama Ramadhan produksi ditingkatkan dari tiga drum menjadi 14 drum per hari, dan setiap drum dicetak menjadi 18 ember yang dijual dengan harga Rp22.000 per ember. ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INDUSTRI makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas pengembangan, antara lain dipacu untuk menerapkan teknologi industri 4.0. Transformasi digital ini dinilai membawa dampak positif terhadap peningkatan investasi dan produktivitas di sektor industri dan menciptakan tenaga kerja yang kompeten.
“Artinya, industri 4.0 memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Apalagi, dapat juga mendukung dan mempermudah aktivitas industri saat kondisi pandemi seperti saat ini,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (19/04/2021).
Menperin menegaskan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia, industri makanan dan minuman adalah satu dari tujuh sektor yang diakselerasi untuk mengadopsi teknologi industri 4.0. “Langkah strategis ini diharapkan dapat mendongkrak kinerja sektor unggulan tersebut,” ujarnya.
Kementerian Perindustrian mencatat, kinerja industri makanan dan minuman selama periode 2015-2019 rata-rata tumbuh 8,16% atau di atas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 4,69%.
Di tengah dampak pandemi, sepanjang triwulan IV tahun 2020, terjadi kontraksi pertumbuhan industri nonmigas sebesar 2,52%. Namun demikian, industri makanan dan minuman masih mampu tumbuh positif sebesar 1,58% pada tahun 2020.
Industri makanan dan minuman juga mempunyai peranan yang penting dalam kontribusi ekspor industri pengolahan nonmigas. Pada periode Januari-Desember 2020, total nilai ekspor industri makanan dan minuman mencapai USD31,17 miliar atau menyumbang 23,78% terhadap ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar USD131,05 miliar.
Saat kunjungan kerja ke PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora grup), Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim menyampaikan, pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi PT. Tirta Fresindo Jaya atas inisiasi untuk melakukan transformasi industri 4.0. “Kami berharap Mayora grup dapat terus bertransformasi memimpin sektor industri makanan dan minuman,” tuturnya.
Terlebih saat ini belum banyak perusahaan penanaman modal dalam negeri yang sudah melesat jauh bertransformasi menjadi industri 4.0. “Kami ingin perusahaan ini dapat menjadi lighthouse nasional untuk mendorong transformasi digital perusahaan industri nasional yang lebih baik,” imbuhnya.(***)
Ril
- Penulis: Irwan Wahyudi

Saat ini belum ada komentar