3.220 Nakes Ikut CAT PPIH Haji, Tiap Kloter Hanya Punya 2 Petugas Kesehatan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : haji.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 3.220 tenaga kesehatan mengikuti seleksi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melalui Computer Assisted Test (CAT) pada Senin (31/8/2026). Mereka disaring untuk mengisi kebutuhan petugas kesehatan yang akan mendampingi jemaah haji di Tanah Suci.
Formasi petugas dalam satu kelompok terbang (kloter) terbilang terbatas. Sesuai ketentuan terbaru, setiap kloter akan didampingi empat petugas PPIH, terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah, dokter, dan perawat.
Artinya, hanya dua petugas dari unsur kesehatan yang berada di lini depan untuk membantu kebutuhan medis jemaah dalam satu kloter.
Kondisi tersebut membuat proses seleksi nakes haji tidak berhenti pada kemampuan mengikuti ujian CAT. Peserta yang dinyatakan lolos masih harus menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh hingga mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) sebelum ditetapkan sebagai petugas.
Kasubdit Penyiapan, Pemetaan, dan Rekrutmen Petugas Haji, Ihsan Faisal, mengatakan seleksi dilakukan secara berlapis untuk mendapatkan petugas yang benar-benar siap menjalankan tugas pelayanan jemaah.
“Petugas haji adalah ujung tombak pelayanan ke jemaah. Sesuai arahan pimpinan, proses rekrutmen harus dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan profesional sejak tahap awal untuk memastikan petugas yang dihasilkan betul-betul siap melayani,” ujar Ihsan saat meninjau pelaksanaan CAT di Kantor Pusat BKN Cililitan, Jakarta.
3.220 Nakes Ikuti CAT PPIH di 34 Lokasi
Ujian CAT PPIH bagi calon petugas dari unsur tenaga kesehatan digelar secara serentak di 34 titik lokasi Badan Kepegawaian Negara (BKN) di seluruh Indonesia.
CAT menjadi tahapan kedua setelah peserta melewati proses verifikasi administrasi dan dokumen.
Hasil ujian dijadwalkan diumumkan pada 1 September 2026. Peserta yang berhasil melewati tahap ini kemudian masuk ke proses pemeriksaan kesehatan atau Medical Check-Up (MCU).
Pemeriksaan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 8 September 2026.
Menurut Ihsan, hasil MCU tidak langsung menjadi keputusan akhir. Data kesehatan peserta masih akan diverifikasi dan divalidasi sebelum calon petugas ditetapkan untuk mengikuti tahapan berikutnya.
Lolos CAT Belum Berarti Berangkat ke Tanah Suci
Bagi 3.220 peserta yang mengikuti CAT, ujian berbasis komputer tersebut baru menjadi salah satu pintu penyaringan.
Setelah administrasi dan CAT, calon petugas masih harus membuktikan kesiapan kondisi kesehatannya melalui MCU. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi bagian dari proses penentuan peserta yang berhak mengikuti diklat PPIH.
Tahap terakhir berupa pendidikan dan pelatihan yang berlangsung intensif selama 30 hari.
Pelatihan tersebut dipersiapkan untuk membentuk kemampuan calon petugas, bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga kesiapan fisik, mental, serta tata kelola pelayanan jemaah.
“SesuaI timeline, hasil ujian CAT diumumkan besok, 1 September. Setelah itu peserta melanjutkannya ke proses MCU pada 3 hingga 8 September. Hasil MCU tersebut nantinya diverifikasi dan divalidasi kembali untuk menetapkan calon peserta yang berhak mengikuti diklat,” kata Ihsan.
Dokter dan Perawat Jadi Petugas Kesehatan Kloter
Dalam komposisi PPIH kloter, unsur kesehatan memiliki dua posisi utama, yakni dokter dan perawat.
Keduanya akan bekerja bersama ketua kloter dan pembimbing ibadah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah selama berada di Tanah Suci.
Dengan formasi tersebut, kemampuan petugas kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan pelayanan jemaah berjalan baik. Mereka dituntut mampu merespons berbagai kebutuhan kesehatan yang muncul selama pelaksanaan ibadah haji.
Karena itu, proses seleksi dibuat tidak hanya untuk mencari peserta yang mampu melewati ujian tertulis berbasis komputer, tetapi juga memastikan mereka memiliki kondisi kesehatan dan kesiapan yang sesuai dengan tuntutan tugas.
Rangkaian seleksi yang dimulai dari verifikasi dokumen, CAT, MCU, hingga diklat selama 30 hari tersebut pada akhirnya diarahkan untuk mendapatkan petugas haji yang mampu bekerja di lapangan.
“Petugas haji adalah ujung tombak pelayanan ke jemaah. Dari proses seleksi awal yang ketat ini, insyaAllah kita bisa menghasilkan petugas yang betul-betul profesional, amanah, dan sesuai kriteria,” pungkas Ihsan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
