Wisatawan Indonesia Lampaui Malaysia di Uzbekistan, Umrah Plus Samarkand Mulai Dibahas
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : haji.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Wisatawan Indonesia mulai membuktikan posisi penting di mata Uzbekistan selama delapan bulan terakhir lantaran jumlah wisatawan asal Indonesia berkunjung ke negara Asia Tengah disebut telah melampaui wisatawan Malaysia, sehingga membuka peluang baru, termasuk gagasan menggabungkan perjalanan umrah dengan kunjungan ke sejumlah destinasi religi di Uzbekistan.
Peluang itu mengemuka saat Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf bertemu dengan Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov di Tashkent, Senin, 8 September 2026.
Pembahasannya tidak berhenti pada urusan jumlah wisatawan. Kedua pihak melihat ada hubungan sejarah dan spiritual yang bisa dikembangkan menjadi pengalaman wisata religi yang lebih kuat.
Nama Imam Bukhari menjadi salah satu penghubungnya, dan masyarakat Muslim Indonesia. Imam Bukhari bukan nama asing, apalagi tradisi pesantren di Indonesia juga lekat dengan kajian hadis, termasuk Shahih Bukhari.
Sementara Uzbekistan memiliki Samarkand dan Bukhara, dua kota yang menyimpan jejak penting sejarah peradaban Islam.
Sebab itu, muncul gagasan cukup menarik, yaitu kegiatan pendalaman hadis selama Ramadan dilakukan di Samarkand.
“Selama Ramadan, sebagian pesantren di Indonesia mengkhatamkan Shahih Bukhari. Akan menarik jika sebagian kegiatan itu dilakukan di sini,” kata Mochamad Irfan Yusuf.
Gagasan tersebut memperluas makna wisata religi, sebab perjalanan tidak hanya diarahkan untuk mengunjungi tempat bersejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar dan pendalaman tradisi keilmuan Islam.
Umrah Plus Uzbekistan Jadi Peluang
Irfan Yusuf juga melihat peluang lain yang lebih dekat dengan perjalanan jemaah, yakni menggabungkan ibadah umrah dengan kunjungan ke Uzbekistan.
“Umrah plus Uzbekistan merupakan tawaran yang menarik bagi jemaah umrah,” ujarnya.
Jika konsep ini berkembang, Uzbekistan memiliki sejumlah daya tarik yang bisa menjadi bagian dari perjalanan setelah atau sebelum umrah. Samarkand dan Bukhara menjadi dua lokasi yang mendapat perhatian, karena kaitannya dengan sejarah Islam dan tokoh-tokoh penting dalam tradisi keilmuan Muslim.
Namun, konsep tersebut tidak akan mudah berkembang tanpa akses transportasi yang memadai.
Maka dari itu, konektivitas penerbangan langsung antara Indonesia dan Uzbekistan ikut masuk dalam pembahasan.
Kedua negara itu disebut akan melanjutkan pembicaraan mengenai kemungkinan membuka konektivitas penerbangan langsung melalui maskapai masing-masing.
Sedangkan untuk sektor pariwisata sendiri, penerbangan langsung bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat perjalanan lintas negara menjadi lebih praktis.
Indonesia Sudah Dilirik Uzbekistan
Ada alasan mengapa pasar Indonesia mendapat perhatian, sebab Uzbekistan telah memberlakukan bebas visa bagi tujuh negara sejak 2017, termasuk Indonesia. Kebijakan tersebut membuat mobilitas wisatawan menjadi lebih terbuka.
Dalam delapan bulan terakhir, wisatawan Indonesia yang datang ke Uzbekistan bahkan disebut telah melampaui jumlah wisatawan Malaysia.
Abdulaziz mengatakan kondisi tersebut menjadi peluang yang ingin dikembangkan lebih jauh.
Uzbekistan tidak hanya ingin menerima wisatawan Indonesia, tetapi juga mendorong lebih banyak wisatawan Uzbekistan datang ke Indonesia.
“Kami ingin wisatawan Uzbekistan datang ke Indonesia, dan wisatawan Indonesia datang ke Uzbekistan,” kata Abdulaziz.
Komite Pariwisata Uzbekistan juga menyambut gagasan wisata religi berbasis pengalaman spiritual, termasuk program mendalami hadis selama Ramadan di Samarkand.
Bukan Cuma Wisata, Ekosistemnya Ikut Dibangun
Kerja sama Indonesia dan Uzbekistan kemudian bergerak lebih luas. Industri halal menjadi salah satu sektor yang ikut dibicarakan.
Uzbekistan menyatakan kesiapan memenuhi kebutuhan sertifikasi halal jika hal tersebut diperlukan dalam pengembangan kerja sama pariwisata kedua negara.
Disamping itu juga, sektor pembayaran digital juga mulai mendapat perhatian.
Bank Indonesia dan Bank Sentral Uzbekistan tengah membahas kemungkinan penggunaan QRIS dan UzQR.
Jika kerja sama tersebut terealisasi, wisatawan dari kedua negara nantinya memiliki opsi transaksi digital yang lebih praktis ketika bepergian.
Hubungan kedua negara juga diperkuat oleh kedekatan sejarah dan spiritual. Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin menyebut besarnya pengikut tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia sebagai salah satu modal sosial yang dapat mempererat hubungan masyarakat kedua negara.
Kunjungan Irfan Yusuf ke Uzbekistan sendiri berlangsung setelah sebelumnya menyambangi Samarkand dan Bukhara.
Pertemuan dengan Komite Pariwisata Uzbekistan pada 8 September 2026 juga memiliki makna simbolis. Tanggal tersebut bertepatan dengan satu tahun pelantikan Menteri Haji dan Umrah sekaligus lahirnya Kementerian Haji dan Umrah RI.
Uzbekistan juga mengaitkan rangkaian kunjungan itu dengan sejarah Presiden Soekarno yang pernah datang ke Samarkand sekitar 70 tahun lalu.
Pada 5 September 2026, Irfan Yusuf menghadiri peluncuran Hotel Hadith di Samarkand, bertepatan dengan tanggal kedatangan Soekarno ke kota tersebut pada 1956.
Hubungan lama itu kini, coba diterjemahkan ke bentuk yang lebih konkret, bukan hanya pertukaran kunjungan wisatawan, tetapi juga wisata religi, penerbangan, industri halal, promosi pariwisata hingga transaksi digital.
Ketika wisatawan Indonesia sudah disebut melampaui Malaysia di Uzbekistan, peluang tersebut menjadi semakin menarik untuk dikembangkan.
Umrah Plus Uzbekistan pun mulai muncul sebagai salah satu gagasan yang bisa menghubungkan perjalanan ibadah dengan jejak panjang sejarah Islam di Asia Tengah. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
