RUMAH tak hanya untuk tempat berteduh dari panas dan hujan, rumah juga adalah cerita tentang bertahan, tentang dinding yang menua bersama waktu, atap yang tak lagi sepenuhnya setia menahan hujan, dan keluarga yang tetap tinggal meski tahu, tempat itu jauh dari kata layak.
Di tengah realitas itu, sebuah angka muncul 6.121, luar biasa cukup besar, tapi juga bukan angka yang otomatis menenangkan. Angka yang mencul itu tak lain target perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sepanjang tahun 2026.
Namun, terselip satu pertanyaan yang lebih besar dari sekadar capaian, yaitu masihkah gotong royong cukup kuat untuk menjawab persoalan ini?
Di kawasan Jalan Pantai Musi, Kelurahan 11 Ulu, Seberang Ulu II, Palembang, Selasa (5/5) Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, datang meninjau langsung pelaksanaan Gerakan Bersama Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni yang akrab disebut Gebrak Rutilahu. Bukan hanya melihat, tapi memastikan satu hal, gerakan ini benar-benar berjalan, bukan hanya berhenti di atas kertas.
Dua rumah menjadi titik awal cerita hari itu. Milik Nurmalinda dan Zainal Arifin. Tak ada yang istimewa dari bangunan mereka sebelumnya, justru sebaliknya. Di situlah letak pentingnya program ini menyentuh yang selama ini nyaris tak terdengar.
Nurmalinda, seorang ibu dengan tiga anak, sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online. Jalanan adalah ruang hidupnya, tempat ia menukar tenaga dengan penghasilan yang tak selalu pasti. Pulang ke rumah, ia masih harus menghadapi kenyataan lain, tempat tinggal yang belum sepenuhnya memberi rasa aman.
Ketika rumahnya masuk dalam program perbaikan, tak ada pidato panjang dalam benaknya. Hanya rasa syukur yang sederhana bahwa hidupnya, pelan-pelan, mulai berubah arah.
Di sinilah letak perbedaan mendasar program ini dibanding banyak program lain.
Ia tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah membuka jalan, tapi bukan satu-satunya pemain. Ada ruang bagi swasta, komunitas, dan masyarakat luas untuk ikut terlibat.
Konsep ini bukan hal baru bagi Herman Deru. Ia pernah melakukannya pada 2012, bahkan mencatatkan rekor MURI untuk program bedah rumah tanpa APBD. Kini, pendekatan yang sama dicoba kembali dengan skala yang lebih besar dan tantangan yang tentu berbeda.
Sementara pendekatan gotong royong menawarkan harapan. Ia bisa menjangkau lebih luas, bergerak lebih fleksibel, dan tidak sepenuhnya terikat pada birokrasi anggaran. Tapi di sisi lain, ia menyimpan risiko masalah ketergantungan pada partisipasi yang tidak selalu konsisten.
Apalagi, persoalan hunian bukan masalah kecil. Ia terkait dengan kemiskinan, akses ekonomi, hingga ketimpangan pembangunan. Menyelesaikannya butuh lebih dari sekadar niat baik, ia butuh sistem yang kuat dan keberlanjutan.
Menariknya, gerakan ini tidak berjalan sendiri. Secara bersamaan, kegiatan serupa dilakukan di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Melalui sambungan virtual, para kepala daerah ikut melaporkan progres di wilayah masing-masing. Sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa ini bukan aksi tunggal, tapi gerakan kolektif.
Namun kembali lagi, angka 6.121 tetap menyisakan ruang tanya. Berapa banyak rumah lain yang belum masuk daftar? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar menuntaskan persoalan ini?
Gerakan kolektif
Di sinilah gotong royong benar-benar diuji. Bukan dalam slogan, tapi dalam konsistensi. Apakah masyarakat masih mau terlibat? Apakah sektor swasta melihat ini sebagai tanggung jawab bersama? Dan apakah pemerintah mampu menjaga ritme gerakan ini agar tidak sekadar menjadi euforia sesaat?
Jawabannya mungkin tidak datang sekaligus. Ia muncul perlahan, dari satu rumah ke rumah lain yang berhasil diperbaiki. Dari satu keluarga yang hidupnya berubah, ke keluarga berikutnya yang mulai melihat harapan.
Bagi Nurmalinda, jawabannya sudah cukup jelas. Rumahnya yang dulu rapuh kini mulai dibenahi. Dinding diperkuat, atap diperbaiki. Bukan hanya fisik bangunan yang berubah, tapi juga rasa aman yang selama ini ia cari.
Dan mungkin, di situlah esensi dari seluruh program ini. Bukan sekadar mengejar angka 6.121, tapi memastikan bahwa di balik setiap angka, ada kehidupan yang benar-benar disentuh.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya soal bangunan. Ia adalah fondasi dari banyak hal, pendidikan anak, kesehatan keluarga, hingga martabat manusia itu sendiri.
Jika gotong royong masih mampu berdiri di atas semua itu, maka harapan belum benar-benar hilang. Tapi jika tidak, maka angka sebesar apa pun akan selalu terasa kurang.
Untuk saat ini, Sumatera Selatan sedang mencoba membuktikan di tengah keterbatasan, kebersamaan masih bisa menjadi jawaban.
Pelan-pelan, dari satu rumah ke rumah berikutnya. (***)