Sumselterkini.co.id, – Di sebuah desa pesisir yang belum tentu masuk peta Google Maps, tinggallah seorang nelayan tua bernama Pak Dullah. Tiap pagi, beliau bercakap-cakap dengan angin dan ombak, bukan karena kesurupan, tapi karena hidupnya memang lekat dengan laut. Kalau laut bisa ngomong, mungkin mereka udah sahabatan sejak zaman ikan belum bisa berenang cepat.
Suatu pagi, saat Pak Dullah sedang merapikan jaring yang lebih tua dari sandal jepitnya, datang kabar besar dari warung kopi pinggir dermaga. “Pak, katanya Indonesia dapet tambahan kuota tuna!” teriak Jono, anak muda yang baru lulus pelatihan jadi tukang foto prewedding di perahu nelayan.
Pak Dullah yang biasanya kalem mendadak loncat kayak kena patil ikan lele. “Serius kau, Jon? Ini berarti bukan cuma laut yang makin luas, tapi juga harapan kita makin deras!”
Begitulah cara kabar dari Sidang IOTC di La Reunion, Prancis yang lebih terdengar seperti nama sabun hotel menjangkau desa nelayan. Padahal ini bukan kabar receh. Ini kabar kelas dunia. Indonesia, dengan segala kesabaran dan kelihaiannya dalam diplomasi laut, berhasil menambah kuota tiga jenis tuna bigeye tuna, yellowfin tuna, dan si lincah skipjack tuna alias cakalang. Tambahannya bukan receh, tapi ribuan ton. Itu kalau dikalikan harga pasaran, bisa bikin Pak Dullah nambah bilik buat burung merpati.
Bayangkan Indonesia itu seperti emak-emak arisan yang pinter nego. Di forum IOTC yang isinya negara-negara dengan gigi taring di dunia perikanan, Indonesia bukan cuma duduk manis, tapi aktif menyodorkan proposal. Bahkan 14 proposal dari Indonesia berhasil diadopsi. Kalau ini dunia percintaan, Indonesia itu tipe yang bukan cuma cinta dalam diam, tapi juga aktif ngajak makan malam dan ketemu orang tua.
Negosiasi tentang transhipment alias alih muatan, konservasi hiu, sampai sistem pemantauan kapal alias VMS, semua dilahap habis. Kita bahkan berhasil menggolkan pengecualian soal kehadiran observer (pengamat) di kapal rawai tuna. Artinya? Indonesia nggak cuma pandai melaut, tapi juga lihai mengatur strategi di meja perundingan. Ini bukan main-main. Ini seperti ketika tukang bakso keliling tiba-tiba menang sayembara bisnis nasional.
Indonesia juga jago main tim. Bersama Maladewa, Afrika Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka, kita membentuk Coastal States Alliance. Semacam aliansi Avengers versi nelayan, isinya negara-negara pantai yang punya kepentingan sama laut yang sehat, nelayan yang sejahtera.
Kalau dulu suara kita suka kalah sama negara-negara besar dengan kapal segede lapangan bola, sekarang kita nyatuin suara. Karena ya… suara nelayan kecil bisa bergemuruh juga kalau disuarakan bersama.
Tambahan kuota tuna itu bukan cuma soal angka dan tonase. Ini tentang martabat. Tentang nelayan-nelayan seperti Pak Dullah yang akhirnya punya peluang lebih besar untuk dapat hasil laut dengan cara yang adil. Tentang industri perikanan dalam negeri yang bisa tumbuh tanpa harus menunduk pada dominasi kapal asing. Dan tentu saja, tentang Indonesia yang tidak sekadar ‘punya laut’, tapi berdaulat atas lautnya sendiri.
Namun, seperti kata Pak Lotharia Latif, Dirjen Perikanan Tangkap, tambahan kuota bukan alasan untuk serakah. Justru ini saatnya kita menunjukkan bahwa menangkap ikan itu ada etikanya. Harus terukur, pakai alat tangkap yang sesuai, dan dilaporkan dengan rapi. Jangan sampai kita dikira maling di rumah sendiri. Kita bukan pencuri, kita penjaga. Penjaga laut, penjaga masa depan.
Menteri KKP, Pak Trenggono, juga tidak main-main. Beliau mendorong ekonomi biru, konsep yang bukan cuma menguras laut, tapi menjaga keseimbangan. Seolah bilang ke dunia, “Kami bisa makan dari laut tanpa membunuh laut.” Itu kalimat puitis yang seharusnya dicetak di kaos nelayan dan dijual online.
Dan Pak Dullah? Beliau kini makin semangat. Jaringnya ia tambal dengan cinta, perahunya ia cat ulang dengan harapan. Di atas laut yang tak pernah tidur, ia melaut sambil tersenyum, karena tahu bahwa Indonesia sedang bergerak di jalan yang benar. Bukan cuma demi ikan, tapi demi anak cucunya yang kelak bisa berenang di laut yang tetap penuh kehidupan.
Karena di negeri ini, tuna bukan sekadar ikan, tapi simbol perjuangan, keberanian, dan harapan.
Langkah Indonesia dalam memperjuangkan kuota tuna di forum internasional bukan cuma soal diplomasi hebat di ruang ber-AC, tapi juga tentang peluh dan harapan yang menetes di perahu-perahu kecil di pelosok negeri. Ini adalah bukti bahwa negara hadir, tidak sekadar sebagai penonton, tapi sebagai pemain utama dalam menjaga kedaulatan laut.
Dengan kuota yang bertambah, nelayan makin punya peluang. Dengan sistem yang lebih tertib, ikan bisa tetap lestari. Dan dengan semangat kolektif seperti Coastal States Alliance, suara negara-negara berkembang pun kini menggema lebih keras di samudera kebijakan dunia.
Harapan kita sederhana agar laut tetap biru, ikan tetap menari, dan nelayan tetap bisa pulang membawa rezeki, bukan hanya cerita. Karena ketika laut dijaga, masa depan ikut dibela. Dan Indonesia, lewat tangan-tangan cekatan para nelayannya, bisa terus membuktikan bahwa kedaulatan itu bukan soal ukuran kapal, tapi keberanian menjaga laut sendiri.
Dan Pak Dullah? Ia masih tersenyum di dermaga, menatap cakrawala dengan keyakinan baru bahwa esok lusa, cucunya bisa melaut bukan di laut yang kosong, tapi di laut yang penuh kehidupan, dan penuh cinta pada negeri sendiri.[***]