PANEN jagung di Desa Bumi Agung Jaya, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sabtu (16/5/2026), terasa berbeda dari zaman dulu. Kalau dulu petani pulang panen dengan badan pegal, baju basah kuyup, dan langkah kaki mirip habis naik Gunung Seminung, sekarang sebagian pekerjaan mulai dibantu mesin.
Suara alsintan meraung di tengah kebun jagung. Batang jagung roboh satu per satu, sementara petani tinggal mengawasi sambil sesekali bercanda dengan warga sekitar.
“Kalau dulu habis panen itu pinggang bunyi dulu baru bisa tidur,” celetuk seorang petani sambil tertawa.
Memang, zaman mulai berubah. Dulu panen jagung identik dengan tenaga ekstra. Karung dipanggul di pundak, tangan sibuk memetik, kaki mondar-mandir dari pagi sampai sore. Sekarang, mesin perlahan mulai mengambil alih pekerjaan berat itu.
Momen itu terlihat saat Wakil Gubernur Sumsel Cik Ujang menghadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 yang digelar Polda Sumsel bersama kelompok tani setempat.
Di tengah kegiatan, Cik Ujang menyinggung bagaimana teknologi mulai membantu para petani.
“Sekarang panen jagung sudah bisa menggunakan mesin, tidak seperti dulu. Saat ini sudah ada alsintan yang mendukung,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tapi bagi sebagian petani lama, perubahan tersebut terasa besar. Soalnya dulu panen jagung bukan cuma soal hasil, tapi juga adu kuat otot dan daya tahan badan.
Kalau musim panen tiba bersamaan, petani kadang sampai kelimpungan mencari buruh angkut. Belum lagi cuaca panas Sumsel yang kadang bikin tengkuk serasa dipanggang.
Sekarang pekerjaan jadi lebih cepat. Mesin membantu memangkas waktu panen dan mengurangi biaya tenaga kerja.
Petani pun tak perlu terlalu lama berjibaku di kebun. Ada yang berseloroh, sekarang panen jagung sudah beda level.
“Dulu panen pakai tenaga dalam, sekarang tinggal nyalakan mesin,” kata warga sambil tertawa.
Meski begitu, belum semua petani bisa menikmati kemudahan tersebut. Sebagian kelompok tani masih bergantian memakai alsintan karena jumlah alat terbatas.
Ada juga petani yang masih bertahan dengan cara manual. Bukan karena tak mau modern, tapi karena akses alat dan biaya belum sepenuhnya mudah dijangkau.
Ibarat kata, ada yang sudah masuk era panen modern, ada juga yang masih “main di liga lama”.
Namun perlahan perubahan mulai terlihat di sentra jagung Sumsel.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, produksi kumulatif jagung Sumsel periode Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 124.901 ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen. Jumlah itu meningkat 6.345 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Luas panen jagung Sumsel tercatat mencapai 18.906 hektare dengan produktivitas rata-rata 66,06 kuintal per hektare.
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan menjadi daerah dengan produktivitas tertinggi di Sumsel, yakni mencapai 70,52 kuintal per hektare.
Cik Ujang mengatakan Sumsel memiliki potensi besar untuk pengembangan jagung karena didukung sumber daya alam dan teknologi pertanian.
“Sumber daya alam Sumsel dan dukungan teknologi memiliki potensi besar untuk pengembangan jagung di seluruh wilayah Sumsel,” katanya.
SPPG Polri
Panen raya tersebut juga dirangkaikan dengan groundbreaking gudang ketahanan pangan Polri, peluncuran operasional SPPG Polri, penyerahan bantuan sosial, hingga bantuan benih jagung kepada kelompok tani.
Kegiatan itu diikuti secara virtual bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo melalui Zoom Meeting.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya menjaga ketahanan pangan nasional.
“Tidak mungkin suatu negara bertahan tanpa ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolda Sumsel Sandi Nugroho mengapresiasi dukungan seluruh pihak terhadap program ketahanan pangan di Sumsel.
Di tengah perubahan itu, petani Sumsel perlahan mulai akrab dengan teknologi. Kalau dulu kekuatan tangan jadi andalan utama, sekarang suara mesin mulai lebih sering terdengar di tengah kebun jagung.
Yang jelas, satu hal belum berubah: petani tetap harus kerja keras. Bedanya sekarang, yang ikut capek bukan cuma manusia, tapi juga mesinnya. (***)