Inflasi Palembang Turun, Tapi Kenapa Harga Pangan Masih Naik-Turun?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Angka inflasi Palembang pada September 2026 terlihat membaik. Namun, kondisi harga di lapangan masih menjadi perhatian pemerintah, berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Palembang pada September 2026 tercatat 2,40 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini turun dari Agustus 2026 yang mencapai 2,48 persen. Capaian tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.
Meski begitu, angka inflasi yang terkendali belum membuat pemerintah berhenti memantau pergerakan harga sebab sejumlah komoditas pangan masih menghadapi tekanan yang bisa memengaruhi harga di pasar, salah satunya cabai.
Kondisi itu disebabkan karena cuaca panas dan kemarau panjang sehingga berdampak terhadap tanaman cabai di sejumlah daerah, bahkan akibat dari kemarau, bunga cabai banyak yang rontok hingga akhirnya gagal panen.
Sehingga menimbulkan, pasokan berpotensi menjadi berkurang, jika kondisi tersebut berlanjut, tekanan terhadap harga cabai di tingkat konsumen juga perlu diantisipasi. Selain cabai, pemerintah juga mencermati ketersediaan beras premium kemasan lima kilogram serta perubahan harga BBM nonsubsidi.
Harga Pertamax Turbo tercatat naik dari Rp18.700 menjadi Rp20.000 per liter, selanjutnya Dexlite meningkat dari Rp20.150 menjadi Rp24.200 per liter dan sementara Pertamina Dex naik dari Rp21.650 menjadi Rp25.750 per liter.
Pemkot Palembang Siapkan Jurus 4K
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan kondisi inflasi perlu terus dipantau meski angkanya masih berada dalam sasaran.
Menurut dia, data perkembangan harga menjadi salah satu dasar pemerintah menentukan langkah antisipasi. “Transparansi dan penyampaian data secara berkala menjadi bagian penting dalam pengambilan kebijakan. Dengan data yang akurat, kita bisa lebih cepat mengantisipasi perkembangan harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi,” ujar Ratu Dewa.
Pemkot Palembang bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kemudian mengandalkan strategi 4K untuk menjaga stabilitas harga. Empat langkah itu meliputi ketersediaan, keterjangkauan atau kestabilan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.
Untuk menjaga pasokan, pemerintah menyiapkan kerja sama antardaerah, operasi pasar hingga rencana penambahan cadangan pangan. Sementara dari sisi harga dan daya beli, pasar murah didorong hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Kita terus menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga. Pasar murah juga menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mencegah terjadinya panic buying,” kata Ratu Dewa.
Distribusi juga ikut dibenahi melalui sejumlah langkah, mulai dari rehabilitasi jalan, revitalisasi pasar hingga pengaturan lalu lintas. Komunikasi dengan daerah penghasil, distributor dan agen komoditas juga diperkuat agar pemerintah bisa lebih cepat mengetahui perubahan pasokan maupun harga.
Wisatawan Palembang Naik, Hunian Hotel Justru Turun
Pada perkembangan sektor pariwisata Palembang juga menunjukkan kondisi yang cukup menarik. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tujuan Palembang pada Agustus 2026 mencapai 550.381 perjalanan. Angka tersebut meningkat 3,56 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, kenaikan perjalanan wisatawan itu tidak diikuti peningkatan tingkat hunian seluruh hotel berbintang. Hotel bintang empat, misalnya, mencatat tingkat hunian 60,91 persen pada Agustus, turun dari 66,56 persen pada Juli 2026.
Penurunan juga terjadi pada hotel bintang lima, tingkat huniannya berada di angka 52,95 persen, dibandingkan 56,78 persen pada bulan sebelumnya. Data tersebut mengambarkan perkembangan perjalanan wisatawan dan tingkat hunian hotel tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.
Sementara terkait soal lama menginap, tamu asing dan nasional di hotel berbintang tercatat rata-rata menginap 1,38 malam. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan hotel nonbintang yang mencatat rata-rata lama menginap 1,14 hari.
Ratu Dewa mengatakan pengendalian inflasi dan pengembangan pariwisata sama-sama berkaitan dengan aktivitas ekonomi Kota Palembang, harga pangan yang stabil, distribusi yang lancar dan daya beli masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi ekonomi daerah.
Pemkot Palembang pun akan melanjutkan koordinasi bersama BPS Kota Palembang, TPID dan berbagai pemangku kepentingan. Data, kata Ratu Dewa, akan terus digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan kebijakan agar langkah pemerintah sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
“Sinergi lintas sektor akan terus kita perkuat dengan menjadikan data sebagai salah satu dasar dalam perumusan kebijakan. Dengan demikian, stabilitas ekonomi dan pembangunan Kota Palembang dapat terus berjalan secara berkelanjutan,” pungkas Ratu Dewa. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
