Indonesia Kuasai 49% Industri Kakao Asia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 27 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Kemenperin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Indonesia kuasai 49% industri kakao Asia, menjelaskan perannya sebagai salah satu kekuatan utama industri pengolahan kakao di kawasan. Di tengah fluktuasi harga kakao dunia, perubahan pola permintaan, dan meningkatnya tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, industri pengolahan kakao nasional justru mencatatkan kinerja yang terus membaik pada triwulan II 2026.
Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan kakao di Indonesia mencapai 110.410 ton, meningkat 30,1 persen dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat 84.844 ton.
Peningkatan tersebut turut mendorong produksi olahan kakao nasional tumbuh 8,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian itu menunjukkan daya saing industri pengolahan kakao Indonesia semakin kuat. Pemerintah, kata dia, akan terus mempercepat program hilirisasi agar Indonesia mampu menjadi pusat pengolahan kakao berskala global.
“Kemenperin terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta akselerasi implementasi prinsip keberlanjutan,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/7).
Selain mencatat pertumbuhan produksi, katanya Indonesia juga memberikan kontribusi sekitar 49 persen terhadap total volume industri pengolahan kakao di kawasan Asia.
Capaian tersebut lanjut dia, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok kakao regional sekaligus pemasok penting produk kakao olahan untuk pasar global.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menilai penyelenggaraan Indonesia International Cocoa Conference 2026 menjadi momentum strategis untuk mempererat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan petani.
Diharapkan sinergin ini mampu meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta mendorong penerapan sistem produksi kakao yang berkelanjutan.
Mengusung tema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World”, konferensi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri pengolahan kakao berkelas dunia.
Melalui pengembangan produk bernilai tambah dan penerapan standar keberlanjutan internasional, industri kakao nasional diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, dan perekonomian Indonesia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
