Ekonomi

Tak Sekadar Berangkat, 15 Pemuda Muba Naik Kelas ke Migas

ist

Kuota Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar

“RAMBUT boleh gondrong di rumah, tapi di PPSDM Migas ceritanya beda,” kalimat itu bikin beberapa peserta senyum-senyum kecut. Ada yang langsung ngusap kepala, ada juga yang refleks pegang kerah baju.

Suasananya cair, tapi tegangnya tetap terasa, soalnya yang dihadapi bukan liburan, melainkan pelatihan migas, ada yang main-main ditinggal di pintu gerbang.

Sebanyak 15 pemuda-pemudi Musi Banyuasin sedang bersiap menuju Cepu, Jawa Tengah. Tujuan mereka PPSDM Migas. Bukan sekadar ikut program, tapi masuk jalur serius dunia kerja energi.

“Kalian tahu kenapa dipilih?” suara dari depan ruangan terdengar jelas.
“Karena Muba dapat kuota paling banyak,” jawab seorang peserta, setengah ragu.
“Betul. Tapi lebih dari itu, karena kalian lolos seleksi,” jawabnya tegas.

Dan memang bukan cerita karangan, dalam pengumuman resmi PPSDM Migas Tahun Anggaran APBN 2026, Muba tercatat sebagai daerah dengan kuota peserta terbanyak secara nasional. Lima belas orang lho! gak pake pamer-pameran, itu buktinya. Di bawahnya ada Bojonegoro, Blora, Tuban, sampai Kutai Kartanegara, angka yang bukan datang karena kebetulan, atau titipan.

Kamis, 15 Januari 2026, Bupati Musi Banyuasin HM Toha Tohet bersama Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen dijadwalkan melepas langsung keberangkatan peserta. Bukan seremoni basa-basi, pesan yang dibawa jelas, daerah ini serius membangun manusianya.

“Ini program APBN,” ujar Bupati Toha.
“Artinya apa?”
“Artinya negara ikut turun tangan menyiapkan masa depan kalian.”

Kalimat itu tidak panjang, tapi cukup membuat ruangan hening sesaat.

Muba bukan daerah sembarangan, migas sudah lama jadi denyut ekonomi. Masalahnya sederhana tapi krusial, tanpa keahlian, anak lokal hanya jadi penonton di rumah sendiri. Pelatihan ini jadi jawaban atas pertanyaan lama itu.

Kelima belas peserta dibagi ke tiga jalur, K3 Migas Operator, Juru Las (Welding), dan Scaffolding Operator Dasar. Tidak ada jurusan “nanti lihat peluang”. Semuanya langsung bersentuhan dengan kebutuhan industri.

“Kalau sudah masuk PPSDM, disiplin itu bukan aturan, tapi napas,” pesan dari Disnakertrans.
“Kami paham, Pak,” jawab peserta serempak.

Kepala Disnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga, AP, tak menutup harapannya.
“Kami ingin kalian pulang membawa keahlian, bukan sekadar cerita,” katanya.
Nada suaranya tenang, tapi tekanannya jelas tanggung jawab.

Keberangkatan dijadwalkan 18 Januari 2026 melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Akomodasi di Wisma Widya Patra III, biaya pelatihan, hingga konsumsi ditanggung penuh APBN 2026. Tidak ada alasan untuk setengah-setengah.

Di PPSDM Migas, pembukaan punya aturan sendiri. Seragam putih-hitam berdasi. Rambut rapi, datang tepat waktu, bahkan  disini, kelalaian kecil itu bisa berujung pelajaran besar.

“Ini bukan soal pintar, tapi soal sikap,” kalimat yang sering diulang.
Dan semua peserta tahu, kalimat itu bukan ancaman.

Program Keluarga Maju

Cerita ini tidak berhenti pada 15 nama. Pemerintah Kabupaten Muba juga menyiapkan anggaran APBD 2026 melalui Program Keluarga Maju. Empat puluh pemuda-pemudi lainnya akan menyusul ke PPSDM Migas. Artinya, regenerasi bukan wacana, namun rencana jalan.

“Kesempatan ini mahal,” ucap seseorang pelan.
“Iya, ya” sahut yang lain, dan tidak semua dapat.”

Oleh sebab itu, keberangkatan 15 pemuda Muba ke PPSDM Migas Cepu adalah bukti  pembangunan bisa dimulai dari ruang kelas, bukan hanya dari proyek fisik. Saat anak muda diberi skill, daerah mendapat masa depan.

“Data ini memperkuat posisi Muba sebagai salah satu daerah penghasil migas yang serius menyiapkan tenaga kerja lokal bersertifikat.”

Perjalanan ke Cepu mungkin hanya beberapa jam. Namun pelatihan ini adalah lintasan panjang menuju kehidupan yang lebih mandiri. Saat mereka kembali, yang berubah bukan hanya nasib pribadi, tetapi arah Musi Banyuasin ke depan.

Jadi ilmu yang dibawa pulang nantinbya tak akan berisik seperti mesin bor, tapi dampaknya bisa jauh lebih dalam.
Dari ruang kelas, mereka belajar satu hal penting, yaitu masa depan tak cukup ditunggu, tapi harus disiapkan.

Kata pepatah itu. “Kalau minyak bisa diolah jadi energi, anak muda yang ditempa bisa jadi masa depan.” (***)

To Top