Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pertambangan & Energi » Karpet Merah Batu Bara, Kamar Lain Bicara Krisis Iklim

Karpet Merah Batu Bara, Kamar Lain Bicara Krisis Iklim

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 723
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MALAM ini udara terasa dingin, sejak siang hujan turun tak tentu arah sebentar reda, lalu nyambung lagi. Mirip kebijakan yang setengah-setengah, tapi tetap dipaksakan jalan. Daripada bengong sambil dengar suara hujan, saya membuka laptop dan membaca beberapa berita.

Niatnya sederhana, mengisi waktu. Tapi ternyata yang terbaca justru bikin pikiran ribut.

Di hari yang sama, saya menemukan dua artikel. Yang satu rilis resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Yang satunya laporan diskusi Walhi di salah satu media online lokal. Bacanya memang tidak berurutan, tapi efeknya beruntun, seperti minum es teh manis, lalu langsung disusul kopi pahit tanpa jeda.

Di artikel pertama, Gubernur Sumsel H. Herman Deru menjamu tamu istimewa, Duta Besar India untuk Indonesia, Mr. Sandeep Chakravorty, bersama Konsul Jenderal India di Medan, Mr. Ravi Shanker Goel. Pertemuan berlangsung di Griya Agung Palembang, Rabu (14/1/2026).

Suasananya hangat, ramah, penuh senyum diplomatik. Karpet merah digelar rapi, kamera menyala, dan meja pertemuan diisi dua topik utama, ekspor batu bara ke India serta kerja sama pendidikan dan pertukaran pemuda.

Lengkap, tinggal tambah pempek kapal selam, tekwan, dan foto bersama berlatar ukiran songket, sudah sah disebut pertemuan berkelas.

Namun di artikel kedua, di kamar lain yang tak berkarpet merah, Walhi justru menggelar diskusi tentang krisis iklim dan petaka ekologis.

Tak ada jamuan, tak ada basa-basi, isinya data, peringatan, dan kalimat-kalimat yang bikin dahi berkerut. Intinya satu bumi makin rusak, kebijakan sering kalah oleh modal, dan masyarakat terus jadi korban tetap.

Dua artikel, satu hari, satu kota…
Tapi suasananya seperti dua dunia…

Rasanya seperti satu rumah sedang hajatan, sementara rumah sebelah kebakaran.

Dalam rilis Pemprov Sumsel, batu bara tampil gagah. Duduk manis di meja kehormatan sebagai komoditas unggulan.

Jika seandainya ekspor ke India terealisasi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat, ekonomi bergerak, dan daerah makin sejahtera. Secara teori ini terdengar mantap dan masuk akal.

Bahkan secara hitungan kas daerah juga, kabar ini memang menggoda, apalagi batu bara masih laku. Pasarnya global, pembelinya antre sehingga dompet daerah bisa ditambal.

Tentu, cara berpikir pembangunan yang percaya dompet sehat adalah tanda daerah bahagia, kabar seperti ini tentu terasa manis sering langsung dianggap angin segar, sampai lupa menghitung asap yang ikut keluar.

Masalahnya, batu bara itu, seperti tamu rapi yang datang pakai sepatu mengilap, tapi lupa melepas alas kaki saat masuk rumah. Setelah tamu pulang, yang repot bukan dia, melainkan tuan rumah yang harus membersihkan karpet.

Sebab di balik setiap ton batu bara, ada cerita yang jarang muncul di rilis resmi, lubang tambang yang tak ditutup, sungai yang warnanya mirip kopi tubruk, debu yang masuk ke paru-paru warga, dan konflik lahan yang lebih panjang dari pidato sambutan.

Sementara itu, di kamar lain, alarm sudah menyala, sebab ketika batu bara dielus di ruang kehormatan, Walhi justru menyalakan sirene peringatan. Mereka sepakat, apa yang kita alami hari ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan petaka ekologis hasil ulah manusia sendiri.

Diskusi itu bicara soal gugatan terhadap korporasi, soal hukum yang sering kalah cepat dari kekuatan modal, dan soal pembangunan yang rajin menghitung untung, tapi malas menghitung rusak.

Ironisnya, diskusi Walhi tidak sedang bercerita tentang negeri jauh yang tak pernah kita datangi. Itu potret Indonesia hari ini, hutan terbakar, sungai berubah warna, dan masyarakat yang terus diminta mengalah demi satu kata sakti bernama pembangunan.

Suasananya seperti satu gedung yang lupa bercermin..
satu ruangan penuh tepuk tangan…
dan ruangan lain penuh bau yang tak bisa ditolak hidung.

Tak adil memang jika tidak diakui, ekspor batu bara berpotensi menaikkan PAD. Tapi jujur juga harus diucapkan, kerusakan lingkungan hampir selalu ikut naik dan biasanya lebih cepat dari PAD.

Masalahnya, dalam laporan keuangan daerah, sungai kotor tidak tercatat sebagai kerugian. Udara beracun tidak masuk kolom minus.

Anak-anak yang sakit ISPA tidak memengaruhi grafik pertumbuhan. Akibatnya, daerah terlihat untung di atas kertas, sementara masyarakat membayar dengan napas pendek dan air bersih yang makin jauh, ini bukan pembangunan, ini cicilan masalah.

Paradigma pembangunan

Walhi menyebut akar persoalan dengan terang, paradigma pembangunan. Selama keberhasilan hanya diukur dari angka PDB dan grafik ekonomi, lingkungan akan selalu jadi korban yang disuruh “bersabar”.

Lucunya, pembangunan selalu mengatasnamakan rakyat. Tapi ketika banjir datang, asap mengepung, dan lahan rusak, rakyat juga yang pertama disuruh mengerti keadaan.
Sementara yang bikin keadaan?
Biasanya sudah pindah rapat ke ruangan ber-AC.

Persoalannya sebenarnya sederhana, isu lingkungan belum sepenuhnya dianggap sebagai urusan kebijakan. Ia sering berhenti sebagai bahan diskusi, sementara keputusan pembangunan terus melaju dengan logika lama.

Padahal, pesannya jelas, kalau batu bara mau dijual, aturannya jangan kendor. Kalau korporasi untung, tanggung jawabnya jangan kabur.

Kalau PAD naik, biaya pemulihan jangan pura-pura lupa.

Dan kalau bicara masa depan, jangan cuma mewariskan lubang dan asap.

Yang biasanya untung, kas daerah, korporasi, dan pasar energi.
Yang menanggung biasanya warga sekitar tambang, sungai, hutan, sawah, anak-anak yang tumbuh di udara kotor, dan generasi berikutnya yang kebagian PR paling berat.

Ini bukan teori, ini pengalaman yang terus diulang.

Jadi, kalau membaca dua artikel itu rasanya seperti menonton dua adegan film yang diputar bersamaan. Yang satu penuh senyum dan jabatan tangan, yang satu penuh data dan peringatan.

Pertanyaannya sederhana, mau terus pura-pura tidak dengar, atau mulai mendengar sebelum terlambat?

Oleh sebab itu, karpet merah boleh digelar, tamu boleh disambut, dan kontrak boleh ditandatangani. Tapi kalau di kamar lain krisis iklim terus dibicarakan dan kita memilih menutup telinga, jangan heran jika suatu hari masalah itu masuk sampai ruang tamu.

Seperti kata pepatah “Untung hari ini jangan dibayar dengan rusak seumur hidup.” (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati Bulan K3, Wagub Tekankan Ini

    Peringati Bulan K3, Wagub Tekankan Ini

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.672
    • 0Komentar

    PERINGATAN Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional ke-50 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Lapangan PT Pusri Palembang, Rabu (12/2/2020) Wakil Gubernur Provinsi Sumsel Mawardi Yahya mengingatkan pentingnya strategi pengendalian yang lebih efektif, efisien serta inovatif dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja akibat kerja. Terlebih, berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, pada tahun 2018 telah terjadi 157.313 […]

  • Ini Rincian Kerusakan Rumah di Jatim Akibat Gempa M5,5

    Ini Rincian Kerusakan Rumah di Jatim Akibat Gempa M5,5

    • calendar_month Senin, 24 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    SEBANYAK 25 unit rumah warga di wilayah Jawa Timur (Jatim) mengalami rusak berat (RB) akibat gempa M5,9. Ratusan rumah lain mengalami kerusakan dengan tingkat sedang atau rusak sedang (RS) dan rusak ringan (RR). Hal tersebut berdasarkan pemutakhiran data dari BPBD terdampak per Senin (24/5), pukul 07.00 WIB. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB menerima laporan data […]

  • Menjadi Pemilih Berkualitas di Pemilu 2024 &Membaca Keajanggalan Pemilu 2019

    Menjadi Pemilih Berkualitas di Pemilu 2024 &Membaca Keajanggalan Pemilu 2019

    • calendar_month Minggu, 7 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 11.348
    • 0Komentar

    14 Februari 2024 telah resmi ditetapkan menjadi hari pesta demokrasi yang akan dilaksanakan secara serentak di 38 provinsi di Indonesia dalam melaksanakan Pemilihan umum serentak untuk menentukan pemimpin daerah, pemerintahan eksekutif dan juga legislatif diseluruh wilayah bumi ibu pertiwi. Tentu diharapkan pada Pemilu kali ini akan berlangsung dengan asas pemilu yaitu Luber-Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, […]

  • Gajah Jovi Tutup Usia, 34 Tahun Mengabdi Atasi Konflik Satwa Riau

    Gajah Jovi Tutup Usia, 34 Tahun Mengabdi Atasi Konflik Satwa Riau

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Gajah Jovi, satwa binaan Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas yang selama 34 tahun mengabdi membantu penanganan konflik manusia dan gajah liar di Riau, tutup usia pada Senin malam (3/8/2026). Gajah jantan berusia 46 tahun itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari akibat komplikasi infeksi yang memicu gangguan otot berat. Kabar duka […]

  • “Urap Bik Cik Moya, Resep Segar, Lezat, dan Gaya Kocak”

    “Urap Bik Cik Moya, Resep Segar, Lezat, dan Gaya Kocak”

    • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.318
    • 0Komentar

    SIAPA bilang urap itu cuma sayur dicampur kelapa parut?, kalau urap ala Bik Cik Mona, rasanya bukan cuma bikin lidah joget poco-poco, tapi juga hati ikut melompat kegirangan. Bik Cik Mona itu ibarat maestro dapur, kalau masak, sayur-sayuran di piring bisa bernyanyi sendiri karena senang dicampur tangan penuh cinta dan humor. Bahan-bahan Urap Bik Cik […]

  • 40 Hektare Zona Inti TNBBS Dirambah, 4 Tersangka Kini Ditahan

    40 Hektare Zona Inti TNBBS Dirambah, 4 Tersangka Kini Ditahan

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 45
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Empat orang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan setelah aparat mengungkap dugaan perambahan di sekitar 40 hektare zona inti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Bengkulu. Keempat tersangka berinisial TS (39), HY (63), SF (41), dan S (54). Mereka telah ditahan di Rutan Polda Bengkulu setelah penyidik melakukan pemeriksaan dan gelar perkara bersama Korwas […]

expand_less
WordPress Archive Maxi – Gutenberg Magazine & News Theme Maxify | Startup & Business News WordPress Blog Theme Maxima – Retina Ready WordPress Theme MaxiNet – Internet & IPTV Provider Elementor Template Kit MaxShop – Electronics Store Elementor WooCommerce WordPress Theme (9+ Homepages, 2+ Mobile Layouts) Maxus – Multipurpose eCommerce WordPress Theme Maya – Smart and Powerful WP Theme Mayosis – Digital Marketplace WordPress Theme Mazuma – Business Elementor Template Kit MBStore – Digital WooCommerce WordPress Theme