Pusri Pangkas Sampah 3 Ilir hingga 2 Ton/Bulan Melalui Bank Sampah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PERSOALAN keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mulai terasa di sejumlah wilayah Palembang.
Di Kelurahan 3 Ilir, tekanan itu dijawab dengan pendekatan berbeda mengurangi sampah dari sumbernya.
PT Pusri Palembang mencatat, melalui Program Bank Sampah Sehati, volume sampah yang dikirim ke TPA dari kawasan tersebut berhasil ditekan hingga 1–2 ton per bulan.
Program ini berjalan sejak 2025, setelah sebelumnya diawali dengan komitmen pengelolaan sampah antara Pusri dan unsur Muspika setempat pada 2023. Hingga kini, sebanyak 522 warga telah terdaftar sebagai nasabah.
Skema yang diterapkan bertumpu pada partisipasi warga. Sampah tidak lagi langsung dibuang, melainkan dipilah sejak dari rumah.
Sampah anorganik seperti plastik dan kertas dikumpulkan untuk disalurkan ke bank sampah induk, sementara sampah organik diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan kembali di lingkungan sekitar.
Ketua Bank Sampah Sehati, Asmuni, mengatakan perubahan paling terasa bukan pada sistem, melainkan pada perilaku warga.
“Yang sulit itu di awal, saat mengubah kebiasaan. Setelah berjalan, warga mulai terbiasa memilah,” ujarnya.
Perubahan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya volume sampah yang masuk ke TPA, sekaligus membuka nilai ekonomi dari sampah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Selain fungsi lingkungan, program ini juga mulai memberi tambahan penghasilan bagi warga dari hasil penjualan sampah anorganik.
VP TJSL Pusri, Rahmawati, menyatakan program ini merupakan bagian dari upaya mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
“Fokusnya bukan hanya pengurangan sampah, tapi juga perubahan perilaku dan penciptaan nilai ekonomi,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak lagi bertumpu pada sistem angkut dan buang, tetapi mulai bergeser ke pengolahan di tingkat sumber.
Model ini dinilai lebih adaptif terhadap keterbatasan kapasitas TPA, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Ke depan, pola serupa akan didorong untuk diterapkan di wilayah lain dengan pendekatan berbasis komunitas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
