Jumat, 25 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » IPLM Naik, Tapi Minat Baca Masih Tertatih: Kita Mengejar Angka atau Budaya?

IPLM Naik, Tapi Minat Baca Masih Tertatih: Kita Mengejar Angka atau Budaya?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 47
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jemput Bola Literasi, Menjangkau Anak Kota & Menyentuh Pinggiran?

MENJELANG petang di Kampung ku, tepatnya di Perumahan Pesona Harapan Jaya bilangan Kalidoni, Palembang memang dikenal masih daerah pinggiran dan jauh dari kebisingan Kota.

Pemandangan anak-anaknya setelah  pulang sekolah masih sederhana, ada yang berlarian di teras rumah, dan jalan Blok Perumahan,  ada pula bercanda-canda sambal bermain, dan ada yang mulai sibuk dengan dunianya sendiri.

Di salah satu rumah, seorang anak asyik menggulir layar ponsel, jempolnya lincah, matanya terpaku, waktu seakan tak terasa, saking asyiknya bermain ponsel, ia berselonjor di kursi sanita teras rumah.

Namun di salah satu rumah, tak jauh dari situ, suasananya berbeda, ibarat perbedaan itu mencapai derajat, dan bikin aku salut, pasalnya seorang anak duduk rapi di ruang tamu, membuka buku pelajaran. Di meja, tersusun buku-buku yang mungkin tak banyak, tapi cukup untuk ia ulang pelajaran sekolah.

Bahkan di malam akhir, sebagian anak sibuk bermain, namun sebaliknya ia tetap akrab dengan buku untuk membacanya.

Karena kata salut itu, saya pun sempat berbincang dengan ayahnya. Ayah saat itu menjawab tak ada yang istimewa, hanya memang anaknya sudah terbiasa dengan membaca dan terus ia jaga hingga duduk sekolah menengah atas.

Itulah kebiasaan yang tak bisa di rumah meski di tengah arus zaman yang lebih cepat bikin anak berubah akibat perkembangan teknologi.

Dua potret ini memang seperti dua dunia yang berjalan berdampingan, sebab yang satu sudah akrab dengan layar sebagai hiburan, dan bermain menjadi salah satu kewajiban, dan yang satu masih setia menjadikan buku sebagai sumber ilmu.

Jika kaitan dengan literasi, literasi itu bukan hanya kemampuan membaca, tapi kebiasaan, bahkan cara hidup.

Upaya mendorong literasi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) baru-baru ini sebenarnya menunjukkan perkembangan positif, pasalnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) terus bergerak naik.

Bahkan untuk mendorong itu, program-program literasi diperkuat, layanan diperluas, termasuk melalui perpustakaan keliling dengan pola ada yang mulai menjemput bola.

Secara kasat mata, tentu kabar baik, sebab grafiknya naik, laporan rapi, program berjalan, namun pertanyaannya, apakah budaya membaca ikut tumbuh, atau kita baru sebatas memperindah guna mengubah data untuk laporan tahunan?.

Kita jangan berpuas diri dulu, tapi harus tetap mendorong meski secara angka dan gratik mulai meningkat, apalagi dibalik peningkatan IPLM tersebut, ada satu indikator yang belum benar-benar bangkit, yaitu terkait Tingkat Kegemaran Membaca (TKM).

Bahkan pemerintah provinsi sendiri mengakui hal ini sebagai pekerjaan rumah yang belum selesai. Artinya, ada jarak antara capaian angka dan kenyataan di lapangan. Ibarat, siswa dengan nilai rapor yang membaik, tapi belum tentu benar-benar memahami pelajaran.

Pengakuan itu bahkan datang dari pemerintah sendiri, dalam Rapat yang mengusung tema “Membangun Sinergi Terpadu untuk Peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM)” belum lama ini Gubernur Sumatera Selatan Herman Deri menilai, meski capaian literasi secara indeks terus menunjukkan tren positif, kegemaran membaca masyarakat belum bergerak secepat yang diharapkan. Artinya ada pekerjaan rumah yang belum selesai, dan itu tidak bisa dituntaskan hanya dengan memperbaiki angka.

Sementara program jemput bola melalui perpustakaan keliling menjadi salah satu strategi utama yang harus terus didorong lagi.

Apalagi buku itu tidak lagi menunggu pembaca datang, malah sebaliknya, justru harus mendatangi pembaca. Gagasan ini jelas progresif, dalam kondisi akses yang belum merata, pendekatan seperti ini memang diperlukan.

Tapi perlu diingat juga kehadiran perpustakaan harus mencapai target yaitu memang dikerumuni anak-anak untuk membaca, jangan sebaliknya hanya sebagai kunjungan sesaat untuk memenuhi program?

Karena, pada intinya literasi bukan hanya soal menghadirkan buku, tapi harus lebih terasa dampaknya yaitu menghadirkan pengalaman membaca yang selalu diingatkan sampai puluhan tahun.

Tanpa interaksi, tanpa pendampingan, tanpa ruang diskusi, buku hanya akan menjadi benda yang singgah dibuka sekilas, lalu dilupakan, itulah disebut tanpa pengalaman.

Disamping itu, persoalan relevansi juga tidak bisa diabaikan begitu saja, misalnya banyak koleksi buku, baik di perpustakaan maupun layanan keliling, namun belum sepenuhnya menjawab selera generasi.

Misalnya ketika anak-anak terbiasa dengan konten cepat, visual menarik, dan cerita yang langsung menggigit, buku yang kaku dan usang jelas kalah bersaing.

Buku akhirnya bukan ditinggalkan karena tidak penting, tapi karena tidak lagi terasa menarik.

Tantangan lebih jauh

Lebih jauh lagi, tantangan literasi patut diperhatikan soal tidak seragam masalah, misalnya di kota, anak-anak tidak kekurangan akses, sebab buku ada, internet tersedia, fasilitas cukup. Tapi mereka menghadapi musuh lain yang lebih halus yaitu soal distraksi.

Membaca harus bersaing dengan video pendek, gim, dan hiburan digital yang tak ada habisnya.

Sebaliknya, di pinggiran, masalahnya lebih mendasar, yaitu keterbatasan. Buku tidak selalu tersedia, fasilitas minim, dan program belum tentu hadir secara rutin. Bahkan ketika perpustakaan keliling datang, kehadirannya belum tentu cukup sering untuk membangun kebiasaan.

Hal itu menjadi dua wajah tantangan literasi yang masih menjadi PR, lantara di kota, minat baca kalah oleh godaan, sementara  di pinggiran, minat baca terhambat oleh keadaan.

Pertanyaannya, apakah strategi yang ada sudah cukup peka membaca perbedaan ini?

Selama pendekatan yang dilakukan cenderung seragam, program dibuatnya menarik, indikator ditetapkan, lalu diterapkan secara luas. Padahal, literasi tidak bisa dibangun dengan satu tahap alias harus berjenjang karena literasi membutuhkan pendekatan yang lebih lentur, lebih membumi.

Tapi ada baiknya, karena ada perubahan cara pandang, seperti  di tingkat nasional, arah kebijakan perpustakaan kini tidak lagi bertumpu pada megahnya bangunan atau banyaknya koleksi, melainkan pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Selain itu, perpustakaan didorong menjadi ruang yang hidup dimana menjadi tempat aktivitas, interaksi, dan pertumbuhan.

Logikanya sederhana, misalnya gedung besar tanpa kegiatan hanya akan jadi monumen sunyi, sementara ruang sederhana yang aktif justru bisa menjadi pusat tumbuhnya budaya baca.

Disamping itu, di tingkat daerah, upaya menyelaraskan program lintas sektor juga mulai digerakkan. Misalnya kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari dunia pendidikan, dunia usaha, hingga komunitas literasi yang dipandang sebagai kunci, apalagi jika kita sadari bahwa literasi itu tidak bisa dibangun sendirian oleh pemerintah.

Oleh sebab itu, leterasi tersebut harus dibangun dengan cara menjadi gerakan bersama. Karena sejatinya, kebiasaan membaca tidak lahir dari program, melainkan dari lingkungan. Selain itu, anak-anak tidak belajar mencintai buku dari spanduk atau slogan, tapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Misalnya orang tua juga harus memberi contoh nyata misalnya orang tua membaca di rumah.
Dan guru  di sekolah dengan membiasakan dengan mengajar itu dengan cara bercerita, bukan sekadar mengajar yang bisa membuat anak betah memperhatikan dan mendengar, seperti bercerita seperti mendongeng penuh homor sehingga buku tetap dipegang.

Maka, jika kita ingin serius membangun literasi, yang perlu diperkuat bukan hanya distribusi buku, tapi juga ekosistemnya.

Apalagi dengan ekosistem itu bisa membuat membaca terasa lebih dekat, terasa menyenangkan tidak tegang dan jenuh.

Literasi tidak boleh berhenti di pusat kota, literasi harus bergerak lebih jauh menjangkau pinggiran, daerah yang selama ini mungkin hanya disentuh sesekali.

Program jemput bola harus naik level, dari sekadar menjangkau menjadi benar-benar menyentuh. Bukan hanya hadir, tapi membangun hubungan. Bukan hanya datang, tapi meninggalkan kebiasaan.

Salah satu cara agar pendekatan ini tidak berhenti sebagai konsep, adalah dengan menghadirkan inovasi yang benar-benar menyentuh pengalaman anak dalam membaca. Misalnya melalui konsep gamifikasi sederhana seperti paspor literasi, di mana setiap buku yang dibaca menjadi poin yang bisa dikumpulkan.

Kegiatan membaca juga dapat dipadukan dengan storytelling interaktif, tantangan mingguan, hingga ruang ekspresi seperti menggambar atau menceritakan ulang isi buku.

Pemberian hadiah tetap bisa dilakukan, namun tidak semata berbasis jumlah kunjungan, melainkan pada konsistensi dan keterlibatan anak dalam proses membaca.

Di sisi lain, pendampingan dari relawan, guru, hingga orang tua menjadi kunci agar kebiasaan ini tidak berhenti saat layanan keliling selesai.

Dengan cara itu, setidaknya  perpustakaan tidak hanya hadir sebagai penyedia buku, tetapi sebagai ruang pengalaman yang membuat anak-anak ingin kembali dan kembali membaca.

Namun, ada satu hal yang kerap luput dibahas secara terbuka banyak program literasi masih berhenti pada rutinitas, belum sepenuhnya menyentuh perubahan perilaku.

Perpustakaan keliling datang dan pergi, kegiatan digelar, laporan disusun tetapi dampaknya sering tidak terukur secara mendalam. Apakah anak-anak yang disambangi benar-benar menjadi pembaca aktif? Apakah kebiasaan itu bertahan setelah program selesai? Pertanyaan-pertanyaan ini jarang dijawab dengan serius.

Pendekatan yang terlalu berorientasi pada proyek juga menjadi tantangan. Literasi sering diperlakukan sebagai agenda tahunan, bukan gerakan berkelanjutan. Akibatnya, energi besar di awal kerap meredup di tengah jalan. Program berjalan, tetapi tidak selalu berakar.

Langkah lebih terarah

Oleh karena itu, ke depannya diperlukan langkah yang lebih terarah dan konsisten,  pertama, memperkuat pendampingan, bukan hanya distribusi. Kehadiran buku harus diiringi dengan fasilitator guru, relawan, atau komunitas yang mampu menghidupkan interaksi dan menumbuhkan minat. Kedua, memperbarui koleksi dengan pendekatan berbasis minat pembaca, terutama generasi muda, agar buku tidak lagi terasa jauh dari kehidupan mereka.

Ketiga, menjadikan perpustakaan sebagai ruang aktivitas yang fleksibel tempat diskusi, kelas kreatif, hingga ruang ekspresi bukan hanya tempat meminjam buku. Keempat, memastikan program literasi menjangkau pinggiran secara rutin dan berkelanjutan, bukan cuma kunjungan sesaat. Dan yang tak kalah penting, melibatkan keluarga sebagai bagian dari ekosistem, karena kebiasaan membaca paling awal tumbuh dari rumah.

Dengan langkah-langkah itu, setidaknya literasi tidak lagi hanya program yang dijalankan, tetapi kebiasaan yang dibangun dan perlahan, tapi mengakar.

Oleh sebab itu keberhasilan literasi tidak diukur dari berapa banyak buku yang dibawa, atau seberapa tinggi indeks yang dicapai. Literasidiukur dari hal yang lebih sederhana, apakah masyarakat benar-benar membaca, memahami, dan menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari hidupnya.

Jika IPLM terus naik, tapi minat baca masih tertatih, maka ada yang perlu dibenahi. Mungkin kita terlalu fokus mengejar angka, hingga lupa bahwa budaya tidak bisa dibangun dengan cara instan.

Budaya, seperti menanam pohon, butuh waktu. Tidak cukup ditanam hari ini lalu berharap besok berbuah. Budaya harus dirawat, disiram, dan dijaga sebaliknya soal literasi pun demikian.

Literasi tidak tumbuh dari laporan, namun dari kebiasaan kecil yang terus diulang. Dari anak yang memilih membuka buku di malam minggu, di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak distraksi dari situlah, harapan itu sebenarnya masih ada. Tinggal bagaimana kita merawatnya bukan hanya di kota, tapi juga sampai ke pinggiran. (***)

 

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sepotong Pepaya di Halaman, Sejuta Harapan di Tangan Warga

    Sepotong Pepaya di Halaman, Sejuta Harapan di Tangan Warga

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 819
    • 0Komentar

    DI tengah hiruk-pikuk kota Palembang yang kadang lebih panas dari sambal ulekan mertua, datanglah kabar segar, seperti semangka di siang bolong Wali Kota Ratu Dewa resmi mencanangkan Gerakan Kota Palembang Menanam Buah, bukan menanam janji, bukan pula menanam utang, tapi buah-buahan beneran! Acaranya dimulai dengan tanam-tanam manja di pelataran Masjid Agung. Ada rambutan, kelengkeng, mungkin sebentar […]

  • Cerita lucu bayi kepada ibunya..

    Cerita lucu bayi kepada ibunya..

    • calendar_month Sabtu, 17 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.583
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – cerita ini hanya sebuah humor tuk menghilang rasa capek hari ini, mungkin ada yang habis kerja bakti di kampungnya atau bersih-bersih rumahnya. Ada baik baca cerita bayi mungkin bisa menghibur diri : Suatu hari, seorang ibu dan bayinya sedang duduk di ruang tamu. Bayi itu menatap ibunya dengan tatapan bingung. Kemudian, bayi itu […]

  • Ini kebiasaan yang membuat diri cepat tua, apa saja?

    Ini kebiasaan yang membuat diri cepat tua, apa saja?

    • calendar_month Kamis, 20 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 850
    • 0Komentar

    TETAP awet muda dan sehat mungkin telah menjadi dambaan sebagian besar orang. Tujuannya tidak hanya untuk hidup lebih lama, tetapi juga memperpanjang tahun untuk hidup sehat. Yang patut disadari bahwa penuaan memang tidak bisa dihindari. Hanya saja, Anda dapat mencegah proses ‘penuaan’ lebih cepat terjadi. Menurut Stephen Anton, ahli dari Institute on Aging di Department […]

  • Ditengah Pandemi Covid-19, Bank Sumsel Babel  Selektif & Extra Prudent dalam Ekspansi Kredit

    Ditengah Pandemi Covid-19, Bank Sumsel Babel Selektif & Extra Prudent dalam Ekspansi Kredit

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.938
    • 0Komentar

    BANK Sumsel Babel [BSB] selektif dan extra rrudent dalam ekspansi kredit dimasa pandemi covid-19. Meski dampaknya diakui pertumbuhan kredit sedikit melambat. “Kalau kredit hingga posisi Desember tahun lalu sebesar Rp16,5 triliun dan Mei 2020 hanya Rp17 triliun, karena terkait ekspansi yang harus selektif dan extra prudent,  tapi kami optimistis kinerja masih positif,”kata Corporate Secretary Bank Sumsel […]

  • Dukung Sumsel Mandiri Pangan, TP PKK Akan Pelatihan Budidaya Tanaman Pangan

    Dukung Sumsel Mandiri Pangan, TP PKK Akan Pelatihan Budidaya Tanaman Pangan

    • calendar_month Senin, 14 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.548
    • 0Komentar

    SEBAGAI wujud dukungan terhadap  Gerakan Sumsel Mandiri Pangan,  Tim Pokja Tiga TP PKK Sumsel berencana mengadakan pelatihan  budidaya tanaman, budidayakan ikan dan  Lebah Kelulut   bekerja sama dengan Taman Sriwijaya dan sejumlah OPD terkait. Ketua Pokja 3 TP PKK Sumsel, Shinta Irasnawati menjelaskan peserta pelatihan nantinya berasal dari masyarakat umum dan kader PKK  dari berbagai Kabupaten […]

  • Pemkot Palembang – FKDM Tanjungpinang Sama-sama Kasih Masukan, Soal Apa ?

    Pemkot Palembang – FKDM Tanjungpinang Sama-sama Kasih Masukan, Soal Apa ?

    • calendar_month Kamis, 22 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 835
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Palembang mengajak Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Tanjungpinang untuk sama-sama belajar dalam menjaga kerukunan dan persatuan di masyarakat. Hal ini diungkapkan Asisten I Setda Kota Palembang Faizal AR saat menyambut kunjungan kerja FKDM Tanjungpinang, di Ruang Parameswara Setda Kota Palembang, Kamis (22/8/2019). “Selamat datang di Kota Palembang. Semoga kehadiran FKDM ini dapat menjadikan kita […]

expand_less
WordPress Archive Travel Trek - Tour and Travel Agency Elementor Template Kit Travel WordPress Theme – GoExplore! Travelador – Blog Tourism & WooCommerce Shop Theme Travele – Travel & Tour Agency Elementor Template Kit Travelera – WordPress Blog Theme Travelin - Travel Tour Booking Elementor Template Kit Travelio – Travel & Tourism Elementor Template Kit TravelKit – Journal & Blog Template Kit for Elementor Travella – Tours & Travel Agency Elementor Template Kit Travellers – Tour & Travels One Page Theme