SAMPAH sering kali dipandang sebagai urusan sepele dibuang, lalu selesai, hilang dari pikiran, padahal, kalau ditarik sedikit saja ke belakang, hampir semua aktivitas rumah tangga selalu meninggalkan jejak bernama sampah. Dari dapur sampai halaman rumah, dari plastik belanjaan sampai sisa makanan, semuanya menumpuk pelan-pelan.
Di Kelurahan Satu Ilir, Palembang, cara pandang seperti itu mulai digeser, bukan dengan teori panjang atau imbauan formal semata, tapi lewat aksi nyata di lapangan. Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, PT Pusri Palembang menggelar kegiatan Edukasi Pilah Sampah & Aksi Bersih Kampung Sehati pada 24 April 2026.
Kegiatan ini tidak hanya mengajak warga turun tangan membersihkan lingkungan, tapi juga memberikan pemahaman langsung tentang bagaimana sampah seharusnya dikelola sejak dari rumah. Karena pada akhirnya, persoalan sampah bukan soal besar atau kecilnya volume, tapi soal kebiasaan.
VP TJSL Pusri, Rahmawati, menjelaskan harapan utama dari kegiatan ini adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga aktif dalam pengelolaan sampah.
Artinya, warga tidak lagi sekadar membuang, tapi mulai memilah dan memanfaatkan. Dari kegiatan tersebut, ada lima langkah sederhana yang bisa diterapkan siapa saja, bukan sesuatu yang rumit, tapi justru sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Pisahkan Sampah Sejak dari Rumah
Langkah pertama ini terlihat paling sederhana, tapi justru paling menentukan. Memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah akan memudahkan proses pengelolaan selanjutnya. Tanpa pemilahan, sampah akan bercampur dan sulit dimanfaatkan kembali.
Sisa makanan, daun, dan limbah dapur bisa masuk kategori organik, sementara plastik, botol, dan kertas termasuk anorganik. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan konsisten, akan memberi dampak besar pada lingkungan.
2. Kenali Sampah yang Masih Bernilai
Tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan. Banyak jenis sampah yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik, kardus, hingga kaleng bekas.
Dalam kegiatan ini, warga diajak untuk mengenali jenis-jenis sampah yang bisa dikumpulkan kembali. Dengan begitu, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tapi sebagai potensi yang bisa dimanfaatkan.
3. Manfaatkan Bank Sampah
Salah satu pendekatan yang dikenalkan dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan Bank Sampah Beringin Sehati. Sistemnya sederhana: warga menyetor sampah yang sudah dipilah, lalu dicatat seperti menabung.
Dari sini, sampah berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar limbah, tapi menjadi “aset” yang bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Konsep ini juga mendorong warga untuk lebih disiplin dalam memilah sampah.
4. Libatkan Keluarga dan Lingkungan Sekitar
Perubahan kebiasaan tidak bisa berjalan sendiri. Apa yang dilakukan satu rumah akan lebih terasa dampaknya jika dilakukan bersama-sama.
Karena itu, warga didorong untuk melibatkan anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Mulai dari hal kecil seperti menyediakan tempat sampah terpisah di rumah, hingga mengajak tetangga untuk ikut berpartisipasi.
5. Lakukan Secara Rutin, Bukan Sekadar Kegiatan Sesaat
Bersih-bersih lingkungan sering kali dilakukan saat ada momentum tertentu. Namun, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi.
Kegiatan seperti yang dilakukan Pusri ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni Hari Bumi saja. Justru, yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan memilah sampah bisa terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Lurah Satu Ilir, Rudi Martino, juga mengingatkan pentingnya peran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan, dimulai dari rumah masing-masing. Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif menjadi nasabah Bank Sampah Beringin Sehati agar pengelolaan sampah bisa memberikan manfaat yang lebih luas.
Dalam aksi bersih tersebut, terkumpul sekitar 5,1 ton sampah dari lingkungan warga. Jumlah ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sampah memang tidak kecil. Namun di sisi lain, ini juga menunjukkan potensi besar jika sampah tersebut dikelola dengan baik.
Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, aksi ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil. Memilah sampah mungkin terlihat sederhana, tapi jika dilakukan bersama dan terus-menerus, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang.
Seperti pepatah, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Dalam konteks ini, bukan lagi bukit sampah yang menumpuk, melainkan kesadaran baru yang perlahan tumbuh di tengah masyarakat.
Dan jika kebiasaan ini terus dijaga, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, sampah tidak lagi dianggap sebagai masalah melainkan sebagai sesuatu yang punya nilai dan bisa memberi manfaat.(***)