BUKAN hanya pelantikan biasa, di rumah Dinas Wali Kota Palembang, kemarin sebuah janji keras dilontarkan membela masyarakat tertindas di tengah wajah hukum yang masih sering terasa timpang.
Ketua YBH SSB DPC Kota Palembang, Candra Septa Wijaya, SH, tak bermain aman, ia langsung mengunci komit tanpa basa-basi.
“Saya dan seluruh pengurus YBH SSB Kota Palembang akan menjadi garda terdepan untuk membela masyarakat yang tertindas!,” tegasnya, lantang, disambut tepuk tangan.
Bukan janji kosong, kata dia, masalah ini soal kerja nyata.
“Penegakan hukum bukan cuma kata, jadi harus ada tindakan. Keadilan itu tidak datang sendiri, tapi diperjuangkan bersama,” ujar Candra.
Kalimatnya bahkan lebih keras dari sekadar seremoni.
“Meskipun langit akan runtuh, keadilan harus tetap ditegakkan,” tandasnya.
Pernyataan itu seperti tantangan terbuka, debab faktanya, di lapangan, akses hukum masih jadi barang mahal bagi sebagian masyarakat. Banyak yang tersandung kasus, tapi tak punya daya untuk melawan.
Maka dari itu, YBH SSB menguji dirinya sendiri, apakah benar siap berdiri di depan, atau sekadar kuat di atas podium.
Ketua Umum YBH SSB Provinsi Sumatera Selatan, Sigit Muhaimin, juga tak menampik beratnya pekerjaan itu.
Ia menegaskan, keadilan tidak bisa berjalan sendiri tanpa aksi nyata.
“Penegakan hukum di Sumsel membutuhkan aksi dari seluruh pihak. Keadilan harus dirasakan semua masyarakat, bukan hanya sebagian,” kata Sigit.
Namun, YBH SSB mencoba keluar dari pola lama. Mereka tidak hanya bicara hukum, tapi juga turun ke isu yang langsung menyentuh hidup masyarakat.
Salah satunya lewat aksi penanaman 500 bibit pohon di kawasan kolam retensi. Bukan hanya, tapi langkah konkret menghadapi persoalan banjir.
“Ini aksi nyata, penanaman ini untuk memperkuat tanah dan membantu mengurangi banjir di Palembang,” jelasnya.
Gerakan itu dilanjutkan dengan pembagian bibit cabai, bawang merah, dan bawang putih kepada masyarakat. Tujuannya guna mendukung ketahanan pangan.
“Tanaman ini bisa dimanfaatkan masyarakat. Ada nilai ekonomi, ada manfaat langsung,” ujar Sigit.
Menurut dia keadilan tidak hanya soal menang di pengadilan, tapi juga soal kehidupan yang layak.
Meski begitu, ujian sesungguhnya belum dimulai. Janji sudah diucapkan, publik menunggu pembuktian.
Pemerintah Kota Palembang ikut memberi sinyal dukungan. Wakil Wali Kota Palembang Prima Salam yang diwakili Staf Ahli Bidang Keuangan, Pendapatan Daerah, Hukum dan HAM, Edison, menegaskan peran YBH SSB bukan tugas ringan.
“Ini amanah besar. Tugas mulia untuk membela masyarakat yang membutuhkan keadilan. Pemerintah kota mendukung penuh,” kata Edison.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjaga persatuan dan membangun kota.
Namun publik tidak hanya butuh dukungan. Publik butuh hasil.
Di tengah mahalnya biaya hukum dan rumitnya jalur keadilan, kehadiran YBH SSB membawa harapan sekaligus tekanan, pasalnya setiap janji yang diucapkan di atas panggung, cepat atau lambat, akan diuji di lapangan.
Pelantikan sudah selesai
Tepuk tangan sudah berhenti.
Sekarang, tinggal menunggu action YBH SSB. (***)