Kilang Plaju Berdiri Sejak 1904, Kini Jadi Garda Kedaulatan Energi Indonesia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Lebih dari satu abad setelah berdiri pada 1904, Kilang Plaju masih memegang peran penting dalam perjalanan energi Indonesia. Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, semangat menjaga kedaulatan energi kembali ditegaskan dari salah satu kilang pengolahan strategis nasional di Bumi Sriwijaya tersebut.
Bagi para pekerja PT Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang sejarah. Kemerdekaan juga berarti memastikan energi tetap tersedia, terjangkau, serta mampu menopang aktivitas masyarakat serta perekonomian nasional.
Pesan itu disampaikan dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 RI yang digelar di Lapangan Aneka Komperta Plaju, Senin (17/8/2026).
Upacara diikuti jajaran manajemen, pekerja, mitra kerja, serta siswa sekolah di lingkungan Kilang Plaju.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju, Khabibullah Khanafie, bertindak sebagai pembina upacara. Sejumlah pekerja muda turut mengambil bagian dalam pembacaan Naskah Proklamasi, Pembukaan UUD 1945, dan doa, sementara pengibaran Sang Merah Putih dilakukan oleh para pekerja Kilang Plaju.
Mengusung tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Pertamina membawa semangat tersebut ke lingkungan perusahaan melalui tema “Energi Merah Putih, Indonesia Makmur”.
Tema itu menjadi refleksi untuk seluruh karyawan bahwa sesungguhnya perjuangan menjaga kemerdekaan terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda.
Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, kini kedaulatan juga diwujudkan melalui kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
Dalam amanatnya yang membacakan pesan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Khanafie menyampaikan tiga makna penting kemerdekaan energi, yakni kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran.
“Kedaulatan adalah kemampuan bangsa menentukan masa depannya dengan kekuatan sendiri. Bagi Pertamina, menjaga ketahanan energi adalah menjaga kemerdekaan Indonesia,” ujar Khanafie.
Kedaulatan energi, lanjutnya, tidak berdiri sendiri. Aspek keadilan juga menjadi bagian penting agar manfaat energi dapat dirasakan masyarakat secara merata. Salah satunya melalui keberlanjutan program BBM Satu Harga yang ditujukan untuk memperluas akses energi di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, dari sisi kemakmuran, Pertamina terus mendorong pengembangan energi baru dan rendah karbon. Sejumlah inisiatif yang dikembangkan antara lain biodiesel B50, bioetanol, pemanfaatan minyak jelantah, hingga pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Oleh sebab itu, perjalanan Kilang Plaju tidak berhenti pada sejarah panjangnya sebagai fasilitas pengolahan minyak.
Tantangan energi hari ini menuntut kilang dan seluruh pekerjanya untuk terus beradaptasi, menjaga keandalan operasi sekaligus ikut menjawab kebutuhan energi Indonesia di masa depan.
Kilang Plaju sendiri merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak strategis nasional. Berdiri sejak 1904, kilang ini kini memiliki kapasitas pengolahan hingga 120 ribu barel per hari, dan menjadikannya bagian penting dari infrastruktur energi nasional.
Terdapat ribuan cerita tentang pekerja yang memastikan operasional kilang berjalan setiap hari, sebagai perusahaan minyak plat merah ini, karyawana bukan hanya bagian dari kegiatan operasional, melainkan kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan energi nasional.
“Energi terbesar Pertamina adalah pekerjanya. Selama semangat itu hidup di dalam hati setiap pekerja Pertamina, kita akan terus menyalakan harapan, menggerakkan pembangunan, dan menjaga Merah Putih tetap berkibar dengan penuh kehormatan,” kata Khanafie.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam peringatan tersebut. Keluarga besar Kilang Plaju turut memanjatkan doa dan menyampaikan empati kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, suasana upacara semakin semarak dengan penampilan siswa SMA Patra Mandiri 2 Palembang dan TK Patra Mandiri melalui paduan suara dan marching band. Kehadiran generasi muda tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa estafet menjaga Indonesia tidak berhenti pada satu generasi.
Oleh sebab itu, Kilang berdiri sejak 1904 ini, siap menghadapi tantangan energi masa depan, sehingga perjalanan Kilang Plaju terus berlanjut.
Jika kemerdekaan dahulu diperjuangkan dengan keberanian untuk menentukan nasib sendiri, maka semangat yang sama diterjemahkan melalui kerja menjaga energi Indonesia tetap tersedia, andal, dan semakin berkelanjutan.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
