Inspirasi

CATATAN PINGGIR : Rumah Tahfidz & Senter Kecil di Tengah Gelapnya Dunia

ist

Sumselterkini.co.id, – Di Prabumulih, sebuah kota mungil di Sumatera Selatan yang biasanya terkenal karena sumur minyak dan pecel lele pinggir jalan yang gurih, kini muncul sumur baru yang lebih dalam sumur hafalan Qur’an. Bukan dari masjid ber-AC atau bangunan megah berkubah emas, tapi dari rumah-rumah biasa yang di dalamnya mengalir ayat demi ayat  kadang sambil anak-anak main karet gelang, kadang sambil ibu-ibu masak rendang.

Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, baru saja meresmikan TPA/TPQ Plus Tahfiz Qur’an Al-Hayza di kota ini. Peresmian itu adalah bagian dari visi besar menjadikan Sumsel provinsi religius lewat program “Satu Desa, Satu Rumah Tahfidz”. Sebuah program yang awalnya diragukan, tapi kini justru jadi bukti bahwa suara Qur’an bisa bergema dari ujung dusun hingga tengah kota. Kalau niatnya baik, jalan pasti terbuka kayak pintu rumah pas Lebaran siapa pun boleh masuk, asal bawa niat dan ketupat.

Tapi, mari kita jujur sebentar Rumah Tahfidz bukan hal baru, di beberapa titik di Sumatera Selatan, bahkan sejak dulu masyarakat yang diam-diam menyemai gerakan ini. Di Palembang, ada Rumah Tahfidz Al-Fattah, Nurul Iman, dan puluhan lainnya yang berdiri bukan karena SK gubernur, tapi karena kekhawatiran para orangtua melihat anak-anak makin akrab dengan TikTok ketimbang Tafsir Jalalain.

Di Prabumulih sendiri, inisiatif serupa lahir dari masyarakat. Santri menghafal di ruang tamu, ustaz ngajar sambil ngopi hitam dari gelas plastik. Uang kas dari donatur, makan siang dari ibu-ibu komplek. Ini gotong-royong level Qur’ani, bukan hanya sekadar formalitas program.

Tentu, peran pemerintah tetap penting. Tapi jangan sampai kita jatuh ke jebakan “peresmian syndrome”, semangat di awal, loyo di tengah jalan, dan ngilang waktu monitoring. Rumah Tahfidz bukan proyek bangunan, tapi proyek akhlak. Kalau isinya cuma gedung kosong dan spanduk pudar, mending uangnya dipakai beliin kitab untuk santri.

Di banyak tempat lain, gerakan tahfidz sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan. Di Malaysia, anak-anak tahfidz disediakan beasiswa hingga Timur Tengah. Di Turki, ada sekolah khusus hafidz dengan sistem boarding dan kurikulum nasional yang terintegrasi. Bahkan di Nigeria   yang sering dianggap tidak stabil, rumah tahfidz tumbuh pesat karena dianggap sebagai pilar utama mengatasi kemiskinan moral dan kekerasan.

Di Indonesia sendiri, gerakan rumah tahfidz kini merambah ke banyak kota. Di Payakumbuh, Sumatera Barat, ada gerakan “Kampung Qur’an” yang menjadikan satu kelurahan penuh sebagai pusat tahfidz. Di Garut, pemerintah daerah menyediakan insentif untuk guru-guru tahfidz, agar semangat mereka tak padam di tengah keterbatasan. Bahkan di kota besar seperti Surabaya dan Makassar, rumah tahfidz mulai menyatu dengan kehidupan urban, menyelip di antara deretan ruko dan apartemen.

Hal ini menandakan bahwa membumikan Al-Qur’an tak lagi soal nuansa pedesaan, tapi juga menjadi bagian dari wajah kota modern. Rumah Tahfidz bukan simbol ketinggalan zaman, tapi justru menjadi perlawanan lembut terhadap gelombang krisis nilai yang makin menggila.

Dan kalau kita berkaca ke dalam, kadang pembangunan akhlak memang tak seramai pembangunan jalan tol. Ia sunyi, senyap, dan kadang tidak diliput media. Tapi ia bekerja diam-diam, meresap dalam pikiran dan perilaku anak-anak kita. Ia seperti embun pagi tak terdengar saat turun, tapi menyegarkan seluruh dedaunan.

Membangun generasi Qur’ani itu seperti menanam pohon durian tak bisa dipanen dalam dua tahun. Kadang butuh sepuluh tahun baru kelihatan hasilnya. Tapi kalau sudah berbuah, aromanya menyebar, rasanya manis, dan bikin orang datang dari jauh. Begitu pula anak-anak yang dididik di Rumah Tahfidz. Mungkin hari ini masih salah baca, masih ketiduran pas subuh, tapi kelak bisa jadi pemimpin, guru, atau orang bijak yang mengajak masyarakat pada jalan terang.

Rumah Tahfidz adalah upaya kecil menuju peradaban besar. Ini bukan lomba mengejar ranking MTQ semata, walau prestasi Sumsel yang masuk 10 besar nasional patut diapresiasi. Tapi yang lebih penting apakah santri kita tumbuh jadi manusia yang hormat pada orangtua, jujur dalam transaksi, dan mampu jadi teladan di tengah masyarakat?

Kita boleh bangun jembatan layang, tapi jangan lupakan jembatan hati. Kita bisa bikin stadion besar, tapi jangan lupa ruang kecil di mana ayat-ayat Allah diajarkan dengan sabar.

Dan jangan lupa pula bahwa Rumah Tahfidz bukan hanya milik umat Islam. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di dalamnya seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab  adalah nilai-nilai universal. Ketika seorang anak belajar tidak hanya membaca, tapi juga menghayati isi Al-Qur’an, maka ia tumbuh jadi manusia yang tahu arah dalam hidupnya. Dan itu adalah investasi paling penting.

 

Kebaikan

Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab “Al-ummu madrasatun idza a’dadtaha, a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Seorang ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya, maka engkau sedang menyiapkan sebuah bangsa yang harum akar budayanya.

Rumah Tahfidz adalah sekolah dari para “ibu” zaman ini  tempat di mana anak-anak tidak hanya dididik menghafal, tapi dibesarkan untuk hidup dalam nilai. Maka mari kita rawat, bukan hanya dengan dana, tapi juga dengan cinta, kelak bukan seberapa tinggi gedung yang kita bangun yang akan ditanya di akhirat. Tapi berapa banyak jiwa yang kita tuntun menuju kebaikan.

Dan semoga, suara ayat suci yang dibaca anak-anak dari rumah-rumah sederhana di Prabumulih itu bisa menembus langit, mengetuk rahmat, dan menjadi alasan negeri ini masih dijaga Tuhan karena dari rumah-rumah kecil itu, mungkin akan lahir tokoh besar masa depan   bukan hanya penghafal Qur’an, tapi penjaga nurani bangsa.

Jika kita ingin melangkah menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak cukup hanya dengan tambang emas, tapi juga tambang iman. Rumah Tahfidz adalah tambang itu   sunyi, dalam, dan penuh cahaya. Kita jaga rumah-rumah itu bukan hanya sebagai bangunan, tapi sebagai mercusuar. Agar anak-anak kita tahu, bahwa ketika dunia gelap dan bising, selalu ada cahaya dari rumah sederhana, tempat di mana ayat-ayat Tuhan dibaca dengan lirih  dan hati mereka dipenuhi cahaya.

Dan karena itulah, jangan pernah remehkan suara pelan dari surau kecil, atau lantunan Qur’an dari rumah yang gentengnya bocor. Di sanalah doa-doa paling jujur dilangitkan, dan di sanalah masa depan bangsa mungkin sedang dibisikkan.

Rumah Tahfidz adalah sumur di tengah gurun gersang nilai, ia tak hanya menyegarkan yang haus akan ilmu, tapi juga memberi arah bagi yang tersesat di zaman serba bingung ini. Maka tugas kita bukan hanya mendirikannya, tapi menjaganya tetap hidup  dengan keikhlasan, dengan dukungan nyata, dan dengan harapan yang tak putus-putus.

Kalau negara ini ingin kuat bukan hanya secara ekonomi tapi juga secara nurani, maka Rumah Tahfidz adalah salah satu pondasinya. Diam, tapi kokoh. Sunyi, tapi berpengaruh. Tak ramai disorot, tapi esensial, karena dalam dunia yang makin gaduh, justru tempat-tempat yang tenang itulah yang menjaga akal dan hati tetap waras.

Jadi, kalau hari ini kita masih punya anak-anak yang hafal surat Ar-Rahman lebih dulu daripada nama-nama artis TikTok, percayalah kita masih punya harapan. Dan harapan itu, berawal dari rumah-rumah tahfidz yang kini tumbuh di Prabumulih dan seantero Sumatera Selatan bahkan seluruh Nusantara, pelan tapi pasti, menyemai generasi terang dari jalan yang sunyi.[***]

Terpopuler

To Top