Jumat, 25 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » “Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dikenakan Pajak 12%”

“Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dikenakan Pajak 12%”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
  • visibility 1.155
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id,- Di negeri yang kadang senyumnya disubsidi dan tawanya numpang lewat di iklan mi instan, hadir satu kabar yang bikin hati mendadak pengin stand up bakal ada Hari Komedi Nasional. Bukan, ini bukan prank tanggal tua. Ini serius tapi jenaka.

Akhir pekan lalu di bawah bayang-bayang Monpera yang biasanya sakral dan heroik, tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar. Bukan karena ada diskon sembako, tapi karena para komedian dari seluruh penjuru tanah tawa berkumpul dalam sarasehan PASKI  semacam rembug nasional para ahli ngelucu.

Gubernur Sumsel, Herman Deru atau yang oleh sebagian warga dijuluki stand up dadakan saat pidato kampanye  pun hadir. Ia dengan wajah khidmat tapi senyum mengembang berkata bahwa profesi komedian itu mulia. Bahkan bisa lebih bermanfaat daripada beberapa influencer yang kerjaannya cuma review skincare tapi lupa pakai logika.

“Profesi ini bikin orang bahagia,” katanya dan kita semua sepakat, di negeri yang harga cabai bisa bikin jantung senam irama, profesi pembuat tawa jauh lebih penting daripada tukang sebar hoaks.

Ketua Umum PASKI, Sujarwo, menambahkan  komedi adalah narasi penyembuh luka. Dan benar juga. Tertawa itu kayak balsem nggak menyelesaikan masalah, tapi bikin rasanya agak adem. Kalau hidup ini berat, ya kita harus ringan-ringan sedikit minimal mulai dari kepala.

Sarasehan ini konon bertujuan menentukan Hari Komedi Nasional, yang kabarnya sedang digodok di DPR. Kita tentu berharap penggodokan itu tidak seperti penggodokan RUU yang seringnya lama, lalu tiba-tiba matang sendiri seperti mi rebus lupa dimatikan.

Komedi itu seperti sandal jepit, kadang dianggap remeh, tapi waktu hilang, baru terasa betapa hidup ini licin tanpanya dan lucunya, banyak pejabat yang lebih takut dikomentari pelawak daripada dikritik ekonom.

Charlie Chaplin pernah bilang, “A day without laughter is a day wasted”. Maksudnya, kalau dalam sehari kita tidak sempat tertawa atau merasakan kegembiraan, maka hari itu terasa kosong dan tidak bermakna. Tawa di sini dianggap sebagai bentuk kebahagiaan, pelipur lara, dan penyeimbang hidup.

Tapi kalau di Indonesia, sehari tanpa tawa itu malah bisa jadi awal dari demo besar-besaran. Maka, usul bikin Hari Komedi Nasional bukan cuma lucu, tapi juga strategis.

Suka nyisir

Lucunya, yang dulu suka nyinyir soal komedi, sekarang ikut selfie di acara sarasehan, dulu dibilang pelawak itu kerjanya cuma ngelawak. Sekarang? Ternyata banyak juga pejabat yang pengin jadi comedian dadakan tiap konferensi pers. Bedanya? Komedian tulen dibayar buat lucu. Yang satu lagi… kadang lucu karena dibayar.

“Daripada menebar hoaks bikin gaduh kampung, mending ikut stand up open mic di warung kopi.”
“Hidup tanpa komedi ibarat lontong sayur tanpa kuah kering, hambar, dan bikin emosi.”

Bukan cuma Hari Komedi Nasional, tapi juga hak hidup layak bagi para komedian karena kalau mereka nggak ada, kita cuma bisa ketawa pas nonton harga BBM naik atau pas ngelihat janji kampanye tinggal kenangan.

Rencana penetapan Hari Komedi Nasional ini bukan sekadar lucu-lucuan. Ini tentang pengakuan terhadap profesi yang sering dianggap “kerjaan sambilan,” padahal dampaknya bisa lebih menyentuh daripada seminar motivasi tiga hari dua malam yang isinya cuma nyuruh kita “bersyukur dan bangkit.” Komedian itu bukan hanya pelawak, mereka itu dokter jiwa rakyat tanpa stetoskop, tapi punya naskah punchline.

Kalau bangsa ini punya Hari Pers, Hari Buruh, bahkan Hari Tanpa Bayangan (yang matahari tepat di atas kepala), kenapa tidak Hari Komedi Nasional?.

Apalagi di tengah negeri yang saban hari penuh drama, korupsi disamarkan sebagai sedekah, dan janji pembangunan lebih sering ditulis dengan tinta yang bisa dihapus, rasanya komedi-lah satu-satunya yang jujur menunjukkan kenyataan meski lewat lelucon.

Bayangkan suatu hari nanti, di kalender nasional ada tulisan merah Hari Komedi Nasional. Dan semua stasiun TV bukan hanya menyiarkan debat politik yang lebih banyak sindirannya daripada solusinya, tapi juga menayangkan para komedian lokal naik panggung, bikin kita ngakak sambil mikir.

Para siswa sekolah disuruh bikin stand-up bertema kejujuran. Para pegawai kantor wajib menyumbang joke tentang birokrasi. Dan para pejabat… ya, mungkin cukup datang dan mendengarkan. Jangan ikut manggung, nanti lucunya nggak disengaja.

Jadi mari kita rawat tawa ini jangan sampai komedi cuma hidup di medsos  tiga detik atau di acara kawinan lewat MC yang lupa skrip. Jangan pula sampai komedian hanya dihargai saat mereka viral, lalu dilupakan saat sedang merintis.

Karena seperti kata pepatah “Lebih baik tertawa bersama rakyat, daripada senyum sendiri di ruang rapat”.Dan siapa tahu, suatu hari nanti, ada satu undang-undang yang isinya cuma satu pasal “Setiap warga negara berhak untuk tertawa, bahkan pada hal-hal yang dianggap tabu, asal tidak merugikan warasnya orang lain.”

Mari tertawa… sebelum hidup ini terlalu serius untuk dihadapi tanpa banyolan. Jadi… maksudnya, kalau dalam sehari kita tidak sempat tertawa atau merasakan kegembiraan, maka hari itu terasa kosong dan tidak bermakna. Tawa di sini dianggap sebagai bentuk kebahagiaan, pelipur lara, dan penyeimbang hidup. Tertawalah puas-puas sebelum tertawa itu dikenakan pajak 12%.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Sepele Jadi Bencana: Rumah Terbakar, Ketua TP PKK Bantu Korban”

    “Sepele Jadi Bencana: Rumah Terbakar, Ketua TP PKK Bantu Korban”

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 995
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Hari itu seharusnya berjalan biasa saja. Warga di Jalan Perdamaian, Sukawinatan, RT 77, sedang sibuk menyiapkan buka puasa. Namun, suasana mendadak mencekam ketika api tiba-tiba berkobar dari sebuah rumah. Panik melanda, warga bergegas mengambil air, mencoba melawan si jago merah sebelum melalap lebih banyak rumah. Apa penyebabnya? Sebuah kipas angin yang lupa dicabut […]

  • Kalau Pariwisata Danau Ranau Ingin Maju, Ini Kiat Menurut Gubernur

    Kalau Pariwisata Danau Ranau Ingin Maju, Ini Kiat Menurut Gubernur

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.519
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan H. Herman Deru secara resmi membuka Festival Danau Ranau XXII Tahun 2019 yang besisikan pagelaran seni dan budaya.   Kegiatan ini dipusatkan di  Dermaga Banding Agung Kecamatan Banding Agung Kabupaten OKU Selatan, Rabu (3/7/2019). Gubernur  dan Ketua TP PKK Sumsel  Hj. Febrita Lustia disambut Bupati OKU Selatan Popo Ali Martopo dan Wakil Bupati Solihin […]

  • Ayo Sukseskan Millennial Road Safety Festival

    Ayo Sukseskan Millennial Road Safety Festival

    • calendar_month Jumat, 15 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.085
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Sekayu – Polres Musi Banyuasin (Muba) tidak lama lagi bakal menggelar puncak acara Millennial Road Safety Festival, tepatnya pada 16 Maret 2019, guna mewujudkan Indonesia tertib dalam berlalulintas. Mewakili Bupati Muba, H Dodi Reza Alex Noerdin, Sekretaris Daerah Kabupaten Muba, Drs H Apriyadi MSi menghimbau kepada seleruh lapisan masyarakat terutama generasi millenial untuk turut hadir pada […]

  • Pernikahan 0-5 Tahun, Jangan Sampai Jadi ‘Ujian Gagal Cinta’

    Pernikahan 0-5 Tahun, Jangan Sampai Jadi ‘Ujian Gagal Cinta’

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 732
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,  – Pernikahan di usia muda sering kali diibaratkan seperti petualangan yang baru dimulai. Nggak tahu ke depan bakal ada badai atau cuma langit cerah sepanjang jalan. Nah, yang sering terlupakan adalah kenyataan  pernikahan itu bukan cuma tentang berbagi cinta, tapi juga berbagi tanggung jawab, tawa, dan terkadang pada titik tertentu, yakni berakhir dengan deru […]

  • Soal Destinasi Taman Wisata Punti Kayu, Pj Walikota Palembang Panggil Dinas Terkait, Ada Apa !

    Soal Destinasi Taman Wisata Punti Kayu, Pj Walikota Palembang Panggil Dinas Terkait, Ada Apa !

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.657
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pj Walikota Palembang, Dr A Damenta terus tindaklanjuti perkembangan sebagian besar destinasi wisata yang ada di kota Palembang, salah satunya yakni destinasi taman wisata Punti Kayu Palembang, Kamis (26/09). Dalam menindaklanjuti hal tersebut, Pj Walikota Palembang, Dr A Damenta sengaja memanggil dinas-dinas terkait guna melakukan rapat evaluasi lanjutan dan pembahasan langsung mengenai destinasi […]

  • Alhamdullilah, Hasil Kreatifitas Warga Binaan LP di Sumsel Bakal Dibantu Pemasaran

    Alhamdullilah, Hasil Kreatifitas Warga Binaan LP di Sumsel Bakal Dibantu Pemasaran

    • calendar_month Minggu, 18 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 918
    • 0Komentar

    “Keterampilan-keterampilan dengan memiliki produk salah satu tanjak yang dihasilkan oleh anak-anak lapas. Saya intruksikan kepada seluruh Dinas terkait baik dari Provinsi, Kabupaten/Kota untuk menjadikan ini mitra untuk dapat diproduksi seperti bahan- bahannya termasuk nanti menjualnya.

expand_less
WordPress Archive Bazz – WooCommerce WordPress Theme Bazzer – Influencer Marketing Agency Elementor Template Kit BBOOTS – Mini CMS system for phpBB bbPress Forums for AMP Bcare – Baby Care Services Elementor Template Kit Bcom - Consulting Business WordPress Theme Bean Barista – Online Barista Course Elementor Template Kit BeatKit – Music Events Elementor Template Kit Beatrix – Modern Magazine WordPress Theme Beats – Responsive Music & Event WordPress Theme