Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » Kebahasaan Puisi Chairil Anwar Tak Lekang Ditelan Waktu

Kebahasaan Puisi Chairil Anwar Tak Lekang Ditelan Waktu

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Mar 2019
  • visibility 2.565
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Berpuisilah. Karena dengan berpuisi, manusia yang lain mampu mengerti bahwa semua perasaan yang ada, tak selalu perlu dipahami.” 

KUTIPAN  di atas  merupakan salah satu ucapan dalam memperingati Hari Puisi Sedunia. Di Indonesia, membicarakan puisi pasti tidak terlepas dari nama Chairil Anwar. Seperti membicarakan prosa, akan dikaitkan dengan Idrus. Karya-karya puisi Chairil mulai lahir semenjak pendudukan Jepang di Indonesia, tahun 1942, yakni puisi berjudul Nisan dan Penghidupan. Dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa di perguruan tinggi masih sering mengapresiasi karya-karya Chairil dari sudut pandang masing-masing. Perlombaan baca puisi pun sering mengangkat puisi karyanya, seperti puisi yang sangat fenomenal “Aku”.

Setelah kedatangan penjajah Jepang, bahasa Belanda pun digantikan dengan bahasa Jepang. Namun, masih berproses sehingga dalam masa peralihan bahasa tersebut Pemerintah Jepang membentuk Komite Bahasa Indonesia, salah satu pengurusnya Sutan Takdir Alisjahbana. Kondisi ini menguntungkan perkembangan bahasa Indonesia dan mulai mendapat respons positif dari para penyair pada masa itu, termasuk Chairil.  Akan tetapi, Chairil tidak puas dengan kosakata bahasa Indonesia yang masih sangat terbatas, rujukan pembendaharaan kosakata dari sajak-sajak Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Beruntung ia mempunyai akses untuk mendapatkan referensi sastra-sastra dunia.

Chairil mulai menambah vitalitas menulis puisinya sejak tahun 1943 atau setahun setelah pendudukan Jepang di Bumi Pertiwi. Walaupun begitu, tetap saja tulisan-tulisannya disensor terlebih dahulu oleh Jepang sebelum diterbitkan. Karena pemerintah Jepang menganggap puisi Chairil mengobarkan api perlawanan terhadap mereka. Apalagi puisi Diponegoro yang mengiaskan tentang semangat perjuangan seperti sebait kutipannya, Di depan sekali tuan menanti, Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri. Berselempang semangat yang tak bisa mati. Semangat perjuangan inilah yang sangat ditakuti oleh penjajah pada masa itu. Oleh karena itulah, puisi-puisi yang ditulisnya sangat susah untuk lolos sensor dari Jepang. Kecuali, ia berusaha menjelaskan puisinya yang tak dimaksudkan untuk menghasut perlawanan terhadap Jepang. Kecerdasan penyair terkenal dengan julukan Aku ini binatang jalang dalam mengolah bahasa juga dapat memperdaya  Jepang. Agar lolos dari sensor Jepang, ia mengganti judul puisi Aku dengan Semangat.

Sikap hidup yang selalu bertualang menggambarkan Chairil adalah ciri seorang seniman. Keidentikan gambaran seorang seniman yang luas pengembaraan imajinasinya. Berbeda dengan seniman pada masanya, ia merupakan penyair muda meletup-letupkan idenya untuk perjuangan revolusi kemerdekaan. Pergaulannya dengan tokoh-tokoh kemerdekaan yang lebih tua dari dari dia, mempertajam tulisan-tulisannya menyikapi kemerdekaan. Apalagi ia masih mempunyai ikatan keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia turut menggodok jiwa kemerdekaannya.

Begitu pun dengan Presiden RI pertama, Soekarno, ia menuliskan puisinya yang berjudul Persetujuan dengan Bung Karno. Walau tak tersurat, ia ikut memperjuangkan nasib kemerdekaan dengan menyatakan seiring sejalan dengan Bung Karno, seperti sebait penggalan puisinya Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat. Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar. Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh. Dari tulisan tersebut dapat dimaknai bahwa Chairil sangat bersemangat untuk bersama-sama dengan Bung Karno membawa kemerdekaan yang telah diraih menuju lebih baik.

Sebenarnya, ia adalah anak orang kaya. Bapaknya seorang bupati Inderagiri, Riau. Namun, ia lebih suka hidup bohemian di kota besar, seperti Jakarta. Karena cita-citanya ingin menjadi seorang penyair hebat mengharuskannya untuk berpetualang hidup di Jakarta.  Ketiadaan uang dan hidup pas-pasan tetap tak menyurutkan langkahnya untuk tetap berkarya.

Gaya hidupnya yang vitalitas membuat puisi-puisinya tampil beda. Ke-jalang-an inilah seperti yang diungkapkannya Aku ini binatang jalang, Dari kumpulannya terbuang, membuat ia menggambarkan sesosok seniman pemberani, hebat dalam mendobrak norma bahasa yang biasa digunakan oleh sesama sastrawan di zamannya. Bahkan, dengan lantang ia mengumumkan Aku mau hidup seribu tahun lagi. Kata-kata terakhir ini menunjukkan kepercayaan dirinya sangat besar terhadap karya-karyanya akan abadi menembus batas zaman. Ia terus berkarya meskipun keadaan negeri masih belum stabil pada waktu itu.

Selain bahasa yang menggebu-gebu mengobarkan semangat, Chairil punya sisi romantis dalam tulisannya. Puisi yang berjudul Penerimaan menggambarkan cintanya sangat dalam terhadap perempuan idamannya, tetapi tak berani diungkapkannya. Melalui puisilah ia melukiskan isi hatinya terhadap kekasihnya tersebut, seperti sebait penggalannya, Kalau kau mau kuterima kau kembali. Dengan sepenuh hati. Aku masih tetap sendiri.

Seiring  perjalanan waktu, di akhir-akhir hidupnya, puisi-puisi Chairil sudah mulai bertambah matang maknanya. Pemilihan diksinya tidak lagi menyuarakan semangat revolusi. Ia lebih dewasa memahami kehidupan. Puisi berjudul Derai-Derai Cemara memberikan arti filosofi yang mewarnai kehidupannya. Pilihan bahasanya, seperti kutipan salah satu karyanya ini adalah hidup hanya menunda kekalahan mengisyaratkan akhir dari kehidupannya. Kalau dimaknai, kita semua akan kalah atau berakhir. Namun, akhir dari kehidupan itu yang belum ditunjukkan oleh Yang Maha Memberi Hidup. Belum sampai janji kita terhadap Tuhan. Itu pertanda diberikannya kesempatan kepada kita untuk merubah diri ke keadaan diri yang lebih baik.

Akhirnya, pilihan bahasa yang digunakan Chairil Anwar membuat puisi-puisinya tidak pernah habis untuk dibicarakan, baik untuk dianalisis ataupun dilombakan dalam pembacaan puisi. Semangat kebahasaan Chairil menjadi penggerak penggali bahasa-bahasa Indonesia yang lebih dalam dan maju menembus dunia baru, dunia maya. Dunia yang penuh ke-jalang-an. Semangat inilah yang memacu para sastrawan guna terus menghasilkan karya-karya fenomenal. Selaras dengan kutipan puisinya Aku mau hidup seribu tahun lagi. 

Selamat Hari Puisi Sedunia.

Dr. Darwin Effendi, M.Pd.

Penulis adalah Dosen Universitas PGRI Palembang

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Plototin Minyak Goreng Agar Tepat Sasaran, Dua Bahan Pokok Ini Juga di Jual OP OKI

    Plototin Minyak Goreng Agar Tepat Sasaran, Dua Bahan Pokok Ini Juga di Jual OP OKI

    • calendar_month Senin, 17 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 864
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir mengawal operasi pasar Pasar Minyak Goreng yang diselenggarakan oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Kabupaten OKI mendapat jatah 4.000 liter minyak goreng yang didistribusi oleh PT Indokarya Internusa, dengan harga per liter Rp14 ribu dan diperuntukkan bagi 2.000 orang. Wakil Bupati OKI, Dja’far Shodiq menilai kebijakan ini sangat tepat saat harga […]

  • Kreatifood 2017, Tingkatkan Pembangunan Ekonomi Kreatif Sumsel

    Kreatifood 2017, Tingkatkan Pembangunan Ekonomi Kreatif Sumsel

    • calendar_month Rabu, 23 Agt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.384
    • 0Komentar

    Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin bersama Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia, Triawan Munaf, resmi membuka kegiatan Kreatifood 2017 di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Selasa (22/8).

  • Lintasan LRT menyebrangi sungai musi

    BI : Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Didorong dari Perbaikan Harga Batubara & Karet

    • calendar_month Sabtu, 23 Des 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 985
    • 0Komentar

    Pertumbuhan ekonomi Sumsel untuk keseluruhan pada 2017 masih sesuai perkiraan, yakni dalam kisaran 5,1%-5,5%,

  • Sidak Pelabuhan TAA

    Sidak Pelabuhan TAA

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.010
    • 0Komentar

    SETIBANYA di garis finish setelah menempuh rute 73 Km pada kegiatan gowes bersama dalam rangka HUT Kodam II Sriwijaya,  Sabtu (28/12) siang, Gubernur Herman Deru bersama Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan dan  Kapolda Sumsel Irjen Pol Priyo Widyanto berkesempatan  mengecek kondisi pelabuhan Tanjung Api-Api. Tidak hanya melihat kondisi pelabuhan saja, kondisi kapal feri pengangkut  penumpang […]

  • Sangat Berbahaya, Polda Imbau Masyarakat Agar Tak Salahgunakan Ijin Pemasangan Listrik untuk Jebakan Tikus Di Sawah

    Sangat Berbahaya, Polda Imbau Masyarakat Agar Tak Salahgunakan Ijin Pemasangan Listrik untuk Jebakan Tikus Di Sawah

    • calendar_month Sabtu, 28 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 762
    • 0Komentar

    POLDA Jateng mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bijak menggunakan izin pemasangan listrik khususnya di persawahan. Hal tersebut dikatan setelah jatuhnya korban akibat tersengat jebakan tikus berlistrik. “Kebanyakan ini bermula dari penyalahgunaan izin pemasangan listrik oleh warga. Izin yang semula digunakan untuk pemasangan pompa air persawahan, tapi digunakan juga untuk memasang kawat listrik jebakan tikus,” terang […]

  • Sosisolog: Insentif guru ngaji ala Ganjar-Mahfud perlu direalisasikan

    Sosisolog: Insentif guru ngaji ala Ganjar-Mahfud perlu direalisasikan

    • calendar_month Kamis, 28 Des 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 766
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Sosiolog dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tantan Hermansah menyambut positif rencana pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD (Ganjar-Mahfud) memberikan insentif gaji bagi guru ngaji jika memenangi Pilpres 2024. Menurut dia, meskipun turut berkontribusi mendidik masyarakat, guru ngaji tak diapresiasi dengan layak. “Tunjangan bagi guru ngaji bisa dilihat dari dua hal. Pertama, […]

expand_less
WordPress Archive Intervin – Real Estate Elementor Template Kit Intify – Real Estate Elementor Template Kit Intime – Business Consulting WordPress Theme Intra – Modern Digital Agency Elementor Template Kit Intro – Personal Digital Blog WordPress Theme Inventory Management module for Perfex CRM Invested – Venture Capital & Investment WordPress Theme Investex – Corporate & Accounting Theme Investment – Business & Financial Advisor WordPress Theme Investmoon – Finance & Investment Manager Elementor Template Kit