PFW 2026, Dewi Tak Ingin UMKM Palembang Jadi Penonton
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Palembang Fashion Week (PFW) 2026 diharapkan tidak hanya menjadi panggung bagi desainer untuk memamerkan koleksi busana. Ajang ini juga ditargetkan membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM lokal agar produknya semakin dikenal dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Ketua TP PKK Kota Palembang, Hj. Dewi Sastrani, menegaskan industri fesyen daerah harus tumbuh bersama pelaku usaha kecil. UMKM perlu mendapat ruang untuk terlibat langsung, bukan sekadar menyaksikan perkembangan industri kreatif.
Pesan tersebut disampaikan Dewi saat menghadiri pembukaan Palembang Fashion Week 2026 di Top Hall M3, PTC Mall Palembang, Rabu (4/11/2026).
Menurut Dewi, Palembang memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri fesyen. Kekayaan budaya, khususnya kain songket dan jumputan, menjadi identitas yang dapat diolah menjadi produk modern dengan nilai ekonomi tinggi.
Ia melihat wastra lokal memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas apabila dikemas melalui kreativitas dan inovasi para desainer.
“Saya sangat mengapresiasi terselenggaranya Palembang Fashion Week 2026. Kegiatan seperti ini menjadi wadah yang sangat positif untuk mempertemukan para desainer, pelaku UMKM, serta insan kreatif dalam menghadirkan karya-karya terbaik. Kita ingin industri fesyen Palembang terus berkembang dan memiliki daya saing,” ujar Dewi.
Ia juga mendorong para desainer agar tidak berhenti pada pola rancangan konvensional. Kekayaan budaya Palembang, menurutnya, perlu diterjemahkan ke dalam desain yang mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter daerah.
Songket dan jumputan, misalnya, tidak harus selalu tampil dalam bentuk busana tradisional. Dengan sentuhan kreativitas, kedua wastra tersebut dapat hadir dalam berbagai rancangan modern yang diminati pasar.
“Kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Songket dan jumputan merupakan warisan yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Saya berharap para desainer bisa semakin kreatif mengemas wastra lokal menjadi busana yang modern, mengikuti perkembangan tren, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Palembang,” ungkapnya.
Namun, perhatian Dewi tidak hanya tertuju pada desainer. Ia menilai keberhasilan industri fesyen daerah juga harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan pelaku UMKM dan industri kecil menengah (IKM).
Menurutnya, ajang seperti PFW semestinya menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk, memperluas relasi bisnis, hingga menemukan calon pasar baru.
“Kita ingin UMKM lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Melalui kegiatan ini, mereka bisa memperkenalkan produknya, membangun jaringan, serta membuka peluang pasar yang lebih luas,” katanya.
PFW 2026 mengusung tema “CollaborACTION – Goes to Trend 2027” dan berlangsung pada 4–8 November 2026. Tema tersebut membawa semangat kolaborasi antara pemerintah, desainer, pelaku usaha, komunitas, serta berbagai pihak yang terlibat dalam industri fesyen.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia Herman Deru, jajaran Dinas Kebudayaan, serta sejumlah desainer dan pelaku industri fesyen, termasuk Tria Gunawan. Penyelenggaraan acara ini juga menggandeng CB Stage Management.
Pengembangan industri fesyen Palembang sendiri telah menjadi bagian dari pembahasan antara pemerintah daerah dan pihak penyelenggara. Sebelumnya, audiensi antara Dinas Perindustrian Kota Palembang dan CB Stage Management digelar pada Selasa (1/9/2026) di Ruang Rapat II Setda Kota Palembang.
Pertemuan yang dipimpin Ketua Dekranasda Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, tersebut membahas penguatan potensi industri sandang dan IKM fesyen lokal melalui kreativitas, inovasi, promosi, serta perluasan akses pasar.
Dewi berharap PFW tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang ramai selama penyelenggaraan, tetapi mampu meninggalkan dampak ekonomi bagi masyarakat setelah acara berakhir.
Ia ingin karya desainer dan produk UMKM Palembang memiliki jangkauan lebih luas, sehingga mampu bersaing di luar Sumatera Selatan hingga pasar internasional.
“Harapannya, Palembang Fashion Week ini bisa terus berkelanjutan dan menjadi agenda yang semakin besar. Kita ingin karya-karya desainer dan UMKM Palembang semakin dikenal, tidak hanya di Sumatera Selatan, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
