Gulo Palu, Jajanan Jadul Bawa Kenangan Masa Kecil
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gulo Palu, jajanan manis tempo dulu yang pernah populer di kalangan anak-anak era 1980-an, punya cara menikmati terbilang unik. Sebelum disantap, adonan gula yang kenyal harus lebih dulu dipilin dan digulung menggunakan jari hingga warnanya berubah lebih muda. Cara sederhana inilah yang membuat Gulo Palu tak hanya jajanan, tetapi juga menyimpan kenangan masa kecil.
ADA kalanya perjalanan ke masa lalu tak membutuhkan mesin waktu. Cukup mampir ke Festival Jajanan Bingen, melihat jajanan tempo dulu, dan tiba-tiba ingatan masa kecil seperti ikut antre minta diperhatikan.
Itulah yang dialami Ketua TP PKK Sumatera Selatan (Sumsel), Feby Deru, saat mengunjungi Festival Jajanan Bingen dalam rangka HUT salah satu media lokal di Sumsel.
Di antara puluhan jajanan tradisional khas Sumsel yang tersaji, perhatian Feby langsung tertuju pada Gulo Palu. Penganan lawas ini rupanya bukan jajanan sembarangan baginya. Ada kenangan masa kecil yang ikut tersimpan di balik rasanya.
Melihat Gulo Palu, Feby tak sekadar bernostalgia. Ia bahkan ikut mencoba proses pembuatannya. Rupanya, kalau sudah bertemu makanan penuh kenangan, melihat dari kejauhan saja rasanya kurang afdal. Harus ikut mengolah juga!
“Banyak makanan zaman dulu yang saya temukan di sini, seperti Gulo Palu. Saya bahkan coba buat sendiri. Ini makanan masa kecil dulu,” ujar Feby dengan senyum haru belum lama ini.
Jajanan masa lalu mengingatkan lagi kenangan masa lalu semua orang, meski gulo palu mungkin hanya jajanan manis biasa. Namun, bagi mereka yang pernah melewati masa kecil di era 1980-an, makanan ini punya cerita tersendiri.
Penulis sendiri masih ingat betul, sekitar tahun 1982 hingga 1986 saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Gulo Palu menjadi salah satu jajanan yang kerap diburu saat jam istirahat maupun sepulang sekolah.
Kenangan Manis
Cara menikmatinya pun terbilang unik. Gulo Palu dijajakan dengan tusukan kayu kecil, mirip es lilin. Namun, jangan buru-buru menggigitnya begitu dibeli. Ada ritual kecil yang harus dilakukan lebih dahulu.
Adonan gula yang masih kenyal itu harus diolah menggunakan kedua tangan, terutama dengan bantuan ibu jari dan jari telunjuk. Dipilin, digulung, dan diaduk selama beberapa menit hingga teksturnya berubah.
Warnanya yang semula lebih gelap perlahan menjadi cokelat muda keputih-putihan, sekilas mirip warna bumbu pecel atau gado-gado. Bedanya, kalau bumbu pecel cocok disiram ke sayuran, Gulo Palu justru siap menjadi teman ngemil.
Setelah teksturnya pas, barulah jajanan itu bisa dinikmati. Rasanya manis, kenyal, dan cara memakannya mirip permen kojek. Sensasi mengolahnya sebelum dimakan inilah yang membuat Gulo Palu punya keunikan tersendiri.
Bisa dibilang, anak-anak zaman dulu tidak hanya membeli jajanan, tetapi juga mendapatkan hiburan kecil sebelum menikmati rasa manisnya. Belum ada permainan di telepon pintar, tetapi menggulung Gulo Palu saja sudah cukup membuat jam istirahat terasa menyenangkan.
Mengenal Bahan dan Cara Membuat Gulo Palu, meski terlihat sederhana, membuat Gulo Palu membutuhkan ketelatenan. Bahan dasarnya antara lain gula merah dan air. Untuk membantu proses pencetakan, bisa disiapkan sedikit minyak goreng sebagai olesan pada wadah.
Cara membuatnya dimulai dengan merebus gula merah bersama air hingga larut dan mengental. Setelah itu, adonan didinginkan sebentar sebelum memasuki proses pembentukan.
Adonan kemudian diambil menggunakan stik bambu atau kayu kecil, lalu ditarik, dipilin, dan diuleni berulang kali hingga warnanya berubah menjadi lebih muda dan teksturnya semakin kenyal.
Proses ini memang membutuhkan kesabaran. Semakin telaten mengolahnya, semakin terlihat perubahan warna dan tekstur adonan. Setelah selesai dibentuk, Gulo Palu siap dinikmati.
Jadi, rahasia menikmati Gulo Palu bukan cuma soal rasa manisnya. Ada proses mengolah yang menjadi bagian dari keseruannya. Kalau tidak sabar, bisa-bisa belum sempat menikmati, tangan sudah lebih dulu lelah menguleninya!
Resep Gulo Palu
Bahan-bahan:
- 500 gram gula merah atau gula aren
- 200 ml air
- Sedikit minyak goreng untuk mengoles wadah
Cara membuat:
- Sisir atau potong gula merah agar lebih mudah larut.
- Masukkan gula merah dan air ke dalam panci, lalu masak sambil diaduk hingga gula larut dan mengental.
- Angkat adonan dan diamkan sebentar hingga cukup hangat untuk diolah.
- Siapkan wadah yang telah diolesi sedikit minyak agar adonan tidak lengket.
- Ambil adonan menggunakan stik bambu atau kayu kecil.
- Tarik, pilin, dan gulung adonan berulang kali hingga warnanya berubah lebih muda dan teksturnya menjadi kenyal.
- Setelah selesai dibentuk, Gulo Palu siap dinikmati.
Setelah bernostalgia dengan Gulo Palu, perhatian Feby beralih ke Gunjing. Kue tradisional ini juga punya cerita menarik. Hampir setiap daerah di Sumatera Selatan mengenalnya, tetapi jangan salah, Gunjing ternyata tidak punya satu standar rasa dan penampilan.
Di satu daerah bisa berbeda bentuk, di daerah lain bisa berbeda rasa. Jadi, meski namanya sama-sama Gunjing, jangan langsung mengira semuanya kembar identik. Masing-masing daerah punya resep dan ciri khas sendiri.
Ragam Gunjing
Menurut Feby, kekayaan kuliner seperti ini harus terus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Jangan sampai anak-anak sekarang lebih hafal jajanan kekinian, sementara makanan khas daerah sendiri malah harus diperkenalkan ulang.
“Kita harus tahu dengan masakan khas daerah kita sendiri. Nah di festival ini kita bisa mengetahui dan mencicipinya langsung,” katanya.
Feby pun mengapresiasi Festival Jajanan Bingen yang menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas kuliner lokal. Melalui festival ini, masyarakat tidak hanya bisa melihat jajanan tradisional, tetapi juga mengenal dan mencicipi langsung kekayaan rasa dari berbagai daerah di Sumsel.
Sebab, urusan jajanan bingen bukan cuma soal kenyang. Ada kenangan yang bisa dibawa pulang, ada resep warisan yang perlu dijaga. Dan siapa tahu, setelah mengenal Gulo Palu, generasi muda jadi tahu bahwa sebelum jajanan kekinian merajalela, anak-anak zaman dulu sudah punya camilan yang bukan hanya manis, tetapi juga punya cara menikmati yang tak kalah seru. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
