Anak Banteng Jawa Lahir Lagi di Pangandaran, Sinyal Kebangkitan Satwa yang Sempat Hilang 23 Tahun
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 4 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seekor anak Banteng Jawa jantan lahir di Pangandaran, Jawa Barat, Selasa malam (27/10/2026). Kelahiran ini menambah populasi Banteng Jawa di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa) menjadi tujuh ekor, sekaligus memberi harapan baru bagi satwa yang sempat menghilang dari kawasan itu selama lebih dari dua dekade.
DI DALAM kandang beralas pasir, seekor anak banteng tampak berdiri di dekat induknya. Tubuhnya masih mungil, kakinya terlihat ramping, sementara sang induk berdiri tenang di sisinya. Pemandangan sederhana itu menyimpan arti penting bagi konservasi, Karena kehidupan baru mulai tumbuh di kawasan yang kembali disiapkan sebagai rumah bagi Banteng Jawa.
Anak banteng tersebut lahir sekitar pukul 22.23 WIB dari induk betina bernama Bindi dan pejantan Senta. Tim Purbajapa kini memantau kondisi keduanya untuk memastikan induk dan anak tetap sehat setelah proses kelahiran.
Tujuh ekor banteng, dari empat individu awal
Kelahiran ini menjadi yang ketiga sejak program reintroduksi Banteng Jawa berjalan di Purbajapa. Sebelumnya, anak pertama lahir dari induk Uchi pada 27 Juli 2025, disusul kelahiran kedua dari Bindi pada 7 Agustus 2025.
Riwayat perkembangbiakan terbaru itu juga menjadi proses yang dipantau secara bertahap. Tim mencatat perkawinan Bindi dan Senta pada 5 Januari 2026. Setelah itu, pengamatan kebuntingan dilakukan secara berkala hingga kelahiran anak banteng ketiga.
Kini, jumlah Banteng Jawa di Purbajapa mencapai tujuh ekor. Angka tersebut berkembang dari empat individu yang dilepasliarkan pada 11 Desember 2024, bertepatan dengan peresmian pusat reintroduksi oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Dari empat individu menjadi tujuh ekor, pertambahan ini menjadi perkembangan penting bagi program reintroduksi. Namun, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari jumlah kelahiran.
Kesehatan satwa, keberhasilan perkembangbiakan berikutnya, dan kemampuan populasi bertahan dalam jangka panjang juga menentukan hasilnya.
Setelah 23 tahun, Banteng Jawa kembali punya peluang di Pangandaran
Banteng Jawa (Bos javanicus) merupakan satwa liar asli Indonesia yang menghadapi ancaman terhadap kelestarian populasinya. Di Cagar Alam Pananjung Pangandaran, satwa ini dinyatakan hilang sejak 2003 sebelum program reintroduksi membuka peluang untuk mengembalikannya ke kawasan tersebut.
Purbajapa dibangun untuk mendukung upaya itu melalui konsep pengembangbiakan semi-alami. Area seluas kurang lebih lima hektare tersebut menjadi tempat bagi banteng untuk hidup, berkembang biak, dan menjalani pemantauan sebelum tujuan konservasi jangka panjang dapat tercapai.
Indukan yang menjadi bagian dari program berasal dari tiga lembaga konservasi. Taman Safari Indonesia Bogor menyumbangkan Uchi, betina yang menjadi induk kelahiran pertama. Taman Safari Indonesia Prigen menjadi asal Bindi, sedangkan dua pejantan, Bejo dan Senta, berasal dari Taman Safari Indonesia Gianyar, Bali.
Kombinasi tersebut menjadi fondasi awal bagi pengembangan populasi Banteng Jawa di Pangandaran. Kelahiran demi kelahiran membuktikan upaya perkembangbiakan mulai berjalan, meskipun pemulihan populasi satwa liar membutuhkan pemantauan dan pengelolaan berkelanjutan.
Sembilan petugas menjaga kehidupan baru
Di balik kelahiran anak banteng, ada pekerjaan rutin yang berlangsung setiap hari. Sebanyak sembilan petugas lapangan merawat satwa di Purbajapa, mulai dari menyediakan pakan dan nutrisi tambahan hingga memeriksa kesehatan serta memantau masa birahi.
Mereka juga menjaga kandang, padang gembala, dan pagar agar kondisi lingkungan tetap mendukung kehidupan banteng. Setelah kelahiran terbaru, perhatian tim medis turut diarahkan pada kondisi induk dan anaknya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Mahfudz, menyampaikan apresiasi kepada BBKSDA Jawa Barat dan para mitra atas keberhasilan tersebut. Kelahiran ini dinilai menjadi bukti keseriusan dalam menjaga dan melindungi satwa liar asli Jawa.
Program Purbajapa sendiri merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Jawa Barat, Taman Safari Indonesia, PT Star Energy Geothermal Darajat II Limited, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, serta masyarakat.
Ujian konservasi berikutnya
Kelahiran anak banteng ketiga membawa kabar baik bagi konservasi Banteng Jawa di Pangandaran. Akan tetapi, tantangan berikutnya masih panjang: memastikan anak mampu tumbuh sehat, menjaga keberhasilan reproduksi, serta membangun populasi yang berkelanjutan.
Kembalinya Banteng Jawa ke Pananjung Pangandaran juga memulihkan satwa yang pernah hilang dari suatu kawasan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan habitat yang layak, pengelolaan yang konsisten, dan kerja sama berbagai pihak.
Untuk saat ini, seekor anak banteng yang berdiri di sisi induknya menjadi tanda bahwa upaya tersebut masih memiliki harapan. Tujuh ekor memang belum menjamin pemulihan populasi, tetapi setiap kelahiran memberi kesempatan baru bagi Banteng Jawa untuk kembali menjadi bagian dari alam Pangandaran. (***)/diolah dari sumber : kehutanan
- Penulis: Irwan Wahyudi
