Film Buatan AI Kian Realistis, LSF Hadapi Tantangan Penyensoran
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Film buatan AI kian realistis dan menghadirkan tantangan baru bagi proses penyensoran. Teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini memungkinkan pembuatan video hingga film tanpa harus memiliki keahlian khusus di bidang sinema.
Perkembangan tersebut membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk memproduksi karya audiovisual. Namun, kemampuan AI menghasilkan adegan yang menyerupai kenyataan juga menuntut kecermatan dalam menilai isi dan konteks sebuah film.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan, perubahan teknologi telah mengubah cara produksi dalam industri perfilman. Peralatan yang semakin mudah diakses membuat proses pembuatan film menjadi lebih terbuka bagi berbagai kalangan.
“Inovasi teknologi mengubah cara-cara produksi dalam dunia perfilman. Perubahan alat produksi ini membuat produksi film bisa diakses oleh siapa saja dan pembuatan film menjadi lebih demokratis. Namun, film dengan kualitas sinematik tetap membutuhkan keterampilan dan rasa estetika yang tinggi,” ujar Nezar dalam acara Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan Lembaga Sensor Film (LSF) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Menurut Nezar, AI generatif menjadi salah satu perkembangan yang perlu dicermati karena mampu menghasilkan konten baru melalui pemrosesan data. Teknologi ini dapat membuat gambar, menghasilkan suara, hingga meniru karakteristik suara seseorang.
Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan dalam proses produksi film. Namun, persoalan muncul ketika konten hasil AI disajikan seolah-olah merupakan rekaman atau peristiwa nyata.
“Generative AI bisa menciptakan sesuatu yang baru. Dengan teknologi ini, kita bisa membuat gambar atau foto, bahkan menduplikasi suara seseorang untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia ucapkan,” jelas Nezar.
Perkembangan konten berbasis AI juga terlihat melalui berbagai platform digital, termasuk film pendek dan drama yang diproduksi menggunakan teknologi generatif.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan beragam adegan, termasuk kekerasan, pornografi, maupun materi yang berpotensi menimbulkan persoalan sosial. Kondisi ini membuat penilaian terhadap isi film perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar tampilan visual.
Tantangan penyensoran juga berkaitan dengan besarnya jumlah film yang harus ditangani. Nezar menyebut sekitar 110 orang di LSF menangani penyensoran terhadap 40 ribu film setiap tahun.
Besarnya volume pekerjaan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan teknologi untuk membantu proses identifikasi adegan dan unsur tertentu dalam film.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses pemeriksaan. Meski demikian, hasil identifikasi mesin tetap perlu ditelaah agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami isi sebuah karya.
Nezar menegaskan, kemampuan AI mengenali objek atau adegan belum tentu diikuti pemahaman terhadap konteks cerita dan pesan yang ingin disampaikan pembuat film.
“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” tegasnya.
Untuk menghadapi perkembangan tersebut, Nezar mendorong LSF memperkuat kompetensi dalam memahami cara kerja AI, mengenali keterbatasannya, serta menilai pemanfaatan teknologi dalam produksi dan penyensoran film.
Literasi AI juga perlu mencakup aspek hukum dan etika, termasuk transparansi, akuntabilitas, keamanan, serta penilaian risiko dalam penggunaan teknologi.
Pemahaman tersebut dinilai penting agar LSF mampu merespons perubahan industri perfilman sekaligus mempertahankan ketelitian dalam proses penyensoran.
Dengan demikian, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali dan memeriksa konten film. Namun, keputusan penilaian tetap memerlukan pertimbangan manusia agar konteks, pesan, dan dampak sebuah karya terhadap masyarakat tidak terabaikan.(***)/diolah dari sumber komdigi.
- Penulis: Irwan Wahyudi
