Likuiditas Bank Sumsel Babel Mengetat, Ini Jurusnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 47 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bsb
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bank Sumsel Babel (BSB) menghadapi tekanan likuiditas seiring pertumbuhan kredit yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Penguatan dana murah, sinergi dengan pemerintah daerah, dan pengendalian risiko kredit menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menjaga ruang ekspansi.
Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel, Teddy Kurniawan, menjelaskan kondisi dan strategi tersebut saat menjawab pertanyaan melalui pesan WhatsApp (WA).
Berdasarkan data yang disampaikan, rasio loan to deposit ratio (LDR) BSB tercatat 84,32 persen pada akhir 2025. Hingga Agustus 2026, LDR diperkirakan meningkat menjadi 85-87 persen.
Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit yang diperkirakan mencapai 9,5-10,5 persen secara tahunan, sedangkan DPK diperkirakan tumbuh 8-9 persen.
Data historis menerangkan DPK BSB mencapai Rp32 triliun pada September 2025, sementara kredit tercatat Rp25,7 triliun.
Salah satu kekuatan BSB dalam menghadapi tekanan pendanaan adalah rasio current account saving account (CASA) yang dilaporkan mencapai 70,49 persen.
Rasio CASA, BSB melaporkan, porsi dana giro dan tabungan dalam struktur pendanaan bank. Porsi dana murah yang kuat dapat membantu mengendalikan biaya dana, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada perkembangan suku bunga dan pertumbuhan simpanan.
Untuk memperkuat penghimpunan dana, BSB mengandalkan digitalisasi pembayaran pajak daerah melalui virtual account (VA), optimalisasi giro pemerintah daerah dan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), serta pengembangan tabungan pelajar melalui program GENCARKAN.
Di tingkat industri, rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) tercatat 23,04 persen pada Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang penting bagi bank untuk menjaga keseimbangan penyaluran kredit dan penghimpunan dana.
Selain likuiditas, lanjutnya Teddy, biaya dana atau cost of fund menjadi tantangan bagi BSB di tengah suku bunga simpanan yang masih tinggi. Data yang disampaikan menyebutkan net interest margin (NIM) BSB sebesar 6,38 persen.
Dari risiko kredit, NPL net BSB tercatat 0,72 persen berdasarkan data RUPS 2025. Angka tersebut lebih rendah daripada NPL net industri sebesar 0,84 persen yang digunakan sebagai pembanding.
Untuk Agustus 2026, NPL net BSB diperkirakan berada di kisaran 0,75-0,85 persen. Angka itu masih berupa estimasi dan perlu dikonfirmasi dengan laporan terbaru.
Dalam pengelolaan risiko, BSB menyiapkan skoring digital untuk kredit konsumtif, persyaratan agunan tambahan bagi kredit komersial, serta lelang agunan secara serentak dengan nilai yang disebut mencapai Rp30 miliar untuk mendukung pemulihan kredit bermasalah. Langkah itu ditujukan untuk menjaga kualitas aset ketika perseroan tetap mendorong pertumbuhan pembiayaan.
Sementara itu, BSB memproyeksikan pertumbuhan kredit 11-13 persen pada 2027. Target itu akan ditopang oleh penguatan DPK, potensi penurunan biaya dana, keberlanjutan insentif KLM Bank Indonesia, serta peluang pembiayaan dari hilirisasi sawit dan karet di Sumatera Selatan.
Dengan demikian, tantangan perseroan bukan hanya meningkatkan penyaluran kredit, melainkan juga memastikan pertumbuhan tersebut didukung sumber pendanaan yang memadai. Penguatan CASA, sinergi dengan pemerintah daerah, dan pengendalian risiko menjadi faktor penting untuk menjaga likuiditas sehingga mendukung ekspansi BSB secara berkelanjutan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
