Hotspot Sumsel Turun Jadi 107, Palembang Masih Panas dan Kabur
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : sumselterkini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Penurunan jumlah titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel) belum menjadi alasan untuk lengah terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Palembang, cuaca masih terasa terik, sementara pengamatan meteorologi pada Sabtu (10/10/2026) menjelang siang menunjukkan kondisi udara kabur.
Data terbaru pemantauan karhutla memperlihatkan pergerakan yang berbeda antara Sumatera Selatan dan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Ketika hotspot di Sumsel berkurang, jumlah titik panas secara nasional justru mengalami peningkatan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) mencapai 437 titik. Angka ini bertambah 50 titik dibandingkan pemantauan Kamis (8/10/2026) yang mencatat 387 titik.
Di Sumsel, jumlah hotspot turun dari 130 menjadi 107 titik. Meski demikian, penurunan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan ancaman karhutla di wilayah ini telah mereda sepenuhnya.
Palembang Terik, Udara Masih Kabur
Pengamatan cuaca di kawasan 15 Ulu, Palembang, pada Sabtu pukul 11.00 WIB mencatat suhu udara mencapai 34 derajat Celsius, dengan kelembapan 45 persen dan angin dari timur sekitar 4,7 kilometer per jam.
Kondisi tersebut menunjukkan cuaca panas masih terasa menjelang siang. Namun, udara kabur yang teramati tidak serta-merta membuktikan adanya kabut asap akibat karhutla. Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan data kualitas udara dan informasi pendukung dari instansi berwenang.
Prakiraan cuaca untuk Palembang juga menunjukkan adanya potensi hujan pada malam hingga dini hari. Meski demikian, hujan yang turun di satu kawasan belum tentu menjangkau seluruh wilayah kota, sehingga perubahan kondisi udara perlu dilihat berdasarkan pengamatan aktual.
Kalimantan Tengah Catat Hotspot Terbanyak
Di tengah perkembangan tersebut, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Hingga Jumat malam, Kalimantan Tengah mencatat 122 titik panas, naik dari 86 titik sehari sebelumnya. Sementara itu, Sumatera Selatan menempati urutan berikutnya dengan 107 titik, meskipun jumlahnya mengalami penurunan.
Perubahan juga terjadi di provinsi lain. Jambi mencatat kenaikan dari 3 menjadi 15 titik, sedangkan Kalimantan Barat bertambah dari 12 menjadi 13 titik.
Sebaliknya, jumlah hotspot di Kalimantan Selatan turun dari 37 menjadi 13 titik. Riau tetap tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Jika digabungkan, enam provinsi prioritas mencatat 270 hotspot, relatif stabil dibandingkan 268 titik pada pemantauan sebelumnya. Artinya, kenaikan hotspot secara nasional tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah.
Penurunan Hotspot Tetap Perlu Diikuti Pemantauan
Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian karhutla melalui pemantauan satelit, patroli darat, operasi udara, serta verifikasi langsung terhadap indikasi titik panas.
Data hotspot sendiri merupakan hasil deteksi anomali suhu permukaan melalui satelit. Titik yang terdeteksi tidak selalu berarti satu kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi, sehingga pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Bagi Sumsel, penurunan dari 130 menjadi 107 titik merupakan perkembangan yang patut dicermati, tetapi belum cukup untuk menyatakan risiko karhutla telah berakhir. Pemantauan lanjutan terhadap titik panas, kondisi cuaca, serta kualitas udara tetap penting dilakukan.
Sementara itu, kondisi Palembang yang panas dan kabur pada Sabtu siang menjadi gambaran cuaca yang perlu terus dipantau. Kepastian apakah kondisi udara tersebut berkaitan dengan asap karhutla harus didasarkan pada data kualitas udara dan keterangan resmi, bukan semata-mata pada jumlah hotspot. (****)
- Penulis: Irwan Wahyudi
