Hotspot Sumsel Mendadak Anjlok, Sehari Turun dari 285 Jadi 23
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot di Sumatera Selatan mendadak turun tajam, menyusul dalam sehari, titik panas kategori high confidence yang terdeteksi satelit merosot dari 285 titik menjadi hanya 23 titik.
Penurunan ini mencapai sekitar 92 persen hanya dalam satu hari. Data terbaru SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat, pada Minggu (20/9) masih terdapat 285 hotspot high confidence di Sumatera Selatan.
Sehari kemudian, hingga Senin (21/9) pukul 21.10 WIB, jumlahnya tinggal 23 titik. Angka tersebut menjadi salah satu penurunan paling mencolok di antara enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, turunnya hotspot bukan berarti persoalan karhutla di Sumsel otomatis selesai. Kementerian Kehutanan mengingatkan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit. Satu titik hotspot tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai satu kejadian kebakaran, apalagi dijadikan ukuran luas lahan yang terbakar. Oleh sebab itu, setiap indikasi tetap membutuhkan pengecekan langsung di lapangan.
Sumsel Turun Tajam, Kalteng Masih Jadi Perhatian
Perubahan di Sumsel terjadi ketika jumlah hotspot secara nasional juga mengalami penurunan besar. Pada periode yang sama, hotspot high confidence secara nasional turun dari 1.532 titik menjadi 688 titik.
Artinya, terdapat pengurangan sebanyak 844 titik hanya dalam sehari. Jika enam provinsi prioritas digabung, jumlah hotspot bahkan turun dari 1.417 menjadi 360 titik atau berkurang sekitar 74,6 persen.
Meski grafik bergerak turun, peta karhutla belum sepenuhnya aman. Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Pada Senin, tercatat 228 titik, turun jauh dari 968 titik sehari sebelumnya.
Sementara itu, Kalimantan Selatan justru bergerak berlawanan. Hotspot di provinsi tersebut naik dari 39 menjadi 71 titik.
Adapun Kalimantan Barat turun dari 98 menjadi 36 titik. Jambi merosot dari 26 menjadi 2 titik, sedangkan Riau tidak lagi mencatat hotspot high confidence dari sebelumnya satu titik.
Perubahan angka yang sangat cepat ini menunjukkan bahwa situasi karhutla masih bergerak dinamis dan tidak cukup dibaca hanya dari jumlah hotspot dalam satu hari.
Asap Masih Jadi Masalah Meski Hotspot Turun
Di Kalimantan Tengah, penurunan hotspot belum serta-merta membuat dampak karhutla menghilang.
Pada Senin (21/9), kabut asap bahkan sempat mengganggu aktivitas penerbangan. Jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut berada di kisaran 400 meter pada pagi hari sehingga sejumlah penerbangan mengalami penundaan hingga pembatalan. Kondisi tersebut juga memengaruhi operasi pemerintah.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rilis dilaman resmi kehutanan dijadwalkan menuju Palangka Raya harus mengalihkan pendaratan ke Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan.
Dari sana, keduanya melanjutkan perjalanan darat menuju Pulang Pisau. Keduanya kemudian meninjau langsung penanganan karhutla di Camp Peat Tumbang Nusa. Di lokasi tersebut digelar evaluasi bersama unsur Kementerian Kehutanan, BNPB, pemerintah daerah, TNI, Polri dan instansi terkait.
150 Hektare Sudah Dipadamkan
Dalam evaluasi itu terungkap, dari sekitar 180 hektare areal yang sebelumnya terbakar di lokasi penanganan, sekitar 150 hektare telah berhasil dipadamkan oleh satgas darat.
Masih ada sekitar 30 hektare yang harus ditangani. Persoalannya, lahan gambut memiliki karakter berbeda. Api yang terlihat padam di permukaan masih berpotensi menyisakan bara di bawah tanah dan kembali muncul.
Pekerjaan petugas tidak berhenti ketika api besar sudah tidak terlihat. Patroli, groundcheck, penyekatan, pembasahan, mopping up hingga pendinginan tetap dilakukan untuk mencegah api kembali menjalar.
Pemerintah juga mempertahankan pengerahan armada udara di Sumatera dan Kalimantan. Total terdapat 64 unit armada yang digunakan untuk mendukung pengendalian karhutla, mulai dari helikopter patroli, pesawat CASA untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), hingga helikopter water bombing.
Basis operasi pun disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kabut asap yang membatasi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut membuat operasi OMC disesuaikan dengan memanfaatkan Bandara Syamsudin Noor dan Pangkalan Bun.
Faktor awan, arah angin, jarak pandang dan keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan dalam menentukan operasi udara.
Pemerintah Mulai Menekan Pemegang Konsesi
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api. Pemerintah juga mulai mempertegas sisi penegakan hukum terhadap pemegang konsesi.
Pada Senin (21/9), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengumumkan pencabutan izin usaha lima perusahaan pemegang PBPH yang berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Luas total konsesi kelima perusahaan tersebut mencapai sekitar 92.464 hektare.
Dari paparan Kementerian Kehutanan, sekitar 1.169 hektare area terbakar berada di lima konsesi tersebut.
Raja Juli menegaskan pemegang PBPH mempunyai kewajiban menjaga kawasan dan menjalankan seluruh kewajiban pencegahan serta pengendalian kebakaran yang melekat pada izin.
Menurut dia, pencabutan izin tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar penegakan hukum karhutla dilakukan tanpa pandang bulu.
“Ini bagian dari perintah Bapak Presiden, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, tidak hanya kepada yang kecil, tapi juga tajam ke atas,” ujar Raja Juli Antoni.
Pemerintah berharap langkah tersebut menjadi peringatan bagi pemegang konsesi lainnya untuk memperkuat pencegahan dan tidak membiarkan kebakaran terjadi di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Hotspot Turun, Warga Tetap Harus Waspada
Kondisi kualitas udara masih belum seragam sebab sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di bagian tertentu Kalimantan, kondisi udara bahkan masih masuk kategori berbahaya.
Situasi ini penting diperhatikan karena penurunan hotspot tidak otomatis berarti asap langsung hilang. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan. Asap yang sudah terbentuk juga dapat bergerak mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer.
Masyarakat di wilayah terdampak karena itu diminta tetap memantau perkembangan kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah daerah.
Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih.
Yang tidak kalah penting, masyarakat dan pelaku usaha kembali diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Sebab, 23 hotspot di Sumsel hari ini memang jauh lebih rendah dibanding 285 titik kemarin, tetapi angka itu belum menjadi tanda bahwa ancaman karhutla sudah benar-benar berakhir. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
