Kunjungi Way Kambas, Dubes Norwegia Tanya Soal Gajah, “Unchain?” Ini Jawab Menhut
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Mengunjungi Way Kambas, Lampung, Minggu (20/9), Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Kaja Glomm melihat langsung gajah-gajah jinak di kawasan tersebut.
Saat melihat gajah-gajah itu, Kaja Glomm kemudian melontarkan pertanyaan sederhana kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
“That’s the ambition, to unchain?”
Raja Juli menjawab singkat.
“Yes.”
Jawaban pendek itu ternyata berkaitan dengan rencana yang lebih besar dalam pengelolaan gajah di Way Kambas.
Penggunaan rantai pada gajah-gajah jinak diharapkan bisa dikurangi secara bertahap setelah sistem pengamanan kawasan, pengawasan, dan kemampuan adaptasi satwa semakin siap.
Jadi, melepas rantai bukan hanya membuka ikatan pada gajah. Ada sistem yang harus dibangun terlebih dahulu agar gajah tetap aman, begitu pula masyarakat dan petugas yang berada di sekitar kawasan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan barrier atau pembatas kawasan untuk mencegah gajah keluar menuju permukiman dan lahan masyarakat.
Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari sistem mitigasi interaksi negatif antara manusia dan Gajah Sumatera di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Saat berada di lapangan, Raja Juli melihat langsung perkembangan pembangunan barrier tersebut. Brigjen TNI Sriyanto, Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK, turut menjelaskan perkembangan sistem mitigasi kepada rombongan.
Pembatas itu tidak hanya dibuat sebagai garis pemisah antara kawasan hutan dan permukiman. Sistemnya diarahkan untuk membantu mengendalikan pergerakan gajah sekaligus meningkatkan keamanan masyarakat di sekitar kawasan.
Bukan Berarti Gajah Langsung Dilepas
Jawaban “Yes” Raja Juli bukan berarti gajah-gajah jinak di Way Kambas bisa langsung dilepas begitu saja.
Ada proses yang harus dilalui. Gajah perlu beradaptasi secara bertahap, sementara barrier, pengawasan, dan sistem keamanan kawasan harus semakin siap.
Dengan kondisi tersebut, penggunaan rantai diharapkan dapat dikurangi secara bertahap.
Di sinilah pertanyaan Kaja Glomm menjadi menarik. Pembicaraan singkat soal “unchain” ternyata berkaitan dengan pekerjaan yang jauh lebih besar, yakni menciptakan kondisi agar gajah bisa mendapatkan ruang hidup yang lebih bebas tanpa meningkatkan risiko bagi masyarakat maupun petugas.
Mitigasi interaksi manusia dan gajah di sekitar Way Kambas juga tidak hanya mengandalkan pembatas fisik.
Pendekatan berbasis alam seperti pagar sarang lebah dan tanaman yang tidak disukai gajah turut dikembangkan untuk membantu mencegah satwa mendekati area masyarakat.
Way Kambas Tak Hanya Soal Gajah
Kunjungan Raja Juli bersama Kaja Glomm ke Way Kambas juga melihat persoalan lain, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pengendalian karhutla menjadi bagian penting dalam perlindungan kawasan karena habitat satwa di Way Kambas harus tetap terjaga dari ancaman kebakaran.
Oleh karena itu, pengelolaan TNWK tidak hanya berfokus pada satu persoalan. Perlindungan kawasan mencakup pencegahan karhutla, pengamanan habitat, mitigasi interaksi manusia dan gajah, hingga konservasi satwa lainnya seperti Badak Sumatera.
Sehingga diharapkan, pembangunan barrier menjadi bagian dari sistem perlindungan yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya mencegah gajah keluar kawasan, tetapi juga menciptakan kondisi yang lebih aman bagi satwa dan masyarakat yang hidup berdampingan di sekitar Way Kambas.
Targetnya: Gajah Lebih Bebas
Pertanyaan “Unchain?” dari Kaja Glomm pada akhirnya membuka gambaran mengenai target yang ingin dicapai dalam pengelolaan gajah jinak di Way Kambas.
Gajah diharapkan tidak selamanya bergantung pada rantai. Namun, perubahan itu harus mengikuti kesiapan infrastruktur, sistem pengawasan, perilaku masing-masing gajah, serta kemampuan satwa untuk beradaptasi.
Keselamatan masyarakat dan petugas tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Sementara, jawaban “Yes” Raja Juli lebih tepat dipahami sebagai arah yang ingin dicapai, bukan tanda bahwa seluruh proses sudah selesai. Di Way Kambas, upaya membuat gajah lebih bebas justru berjalan bersamaan dengan pembangunan sistem pengamanan yang lebih kuat.
Dan semuanya bermula dari satu pertanyaan sederhana yang dilontarkan Dubes Norwegia setelah melihat gajah-gajah jinak di kawasan tersebut “Unchain?” (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
