Hotspot Sumsel Anjlok Hampir Separuh, Kalteng-Kalbar Malah Bikin Pemerintah Waspada
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot Sumatera Selatan (Sumsel) anjlok hampir separuh hanya dalam sehari. Penurunan ini menjadi kabar positif di tengah karhutla yang masih membayangi sejumlah wilayah, tetapi pemerintah belum bisa bernapas lega lantaran kondisi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat justru menunjukkan tekanan berbeda.
Jumlah hotspot tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Sumsel berkurang 59 titik dalam sehari. Jika dibandingkan dengan data sebelumnya, penurunannya mencapai sekitar 49 persen.
Perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang cukup menonjol dalam pemantauan karhutla di enam provinsi prioritas. Namun, tren positif di Sumsel belum menggambarkan kondisi secara keseluruhan.
Di saat titik panas di Sumsel turun, Kalimantan Tengah tercatat memiliki 243 hotspot high confidence. Kalimantan Barat juga berada di angka tinggi dengan 138 titik.
Dua provinsi itu kini menjadi perhatian karena peningkatan aktivitas panas membutuhkan respons cepat agar indikasi kebakaran tidak berkembang menjadi kejadian yang lebih luas.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana situasi karhutla dapat berubah dari satu wilayah ke wilayah lain dalam waktu singkat. Penurunan di satu daerah belum otomatis berarti ancaman secara nasional ikut mereda.
Hotspot Nasional Justru Naik
Gambaran terlihat dari data pemantauan nasional. Pada Minggu, 6 September 2026 pukul 21.25 WIB, terdeteksi 674 hotspot high confidence di Indonesia.
Sehari sebelumnya, jumlahnya masih berada di angka 558 titik. Artinya, secara nasional terjadi kenaikan 116 hotspot.
Data itu berasal dari pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan dengan dukungan data satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Selain Kalteng, Kalbar dan Sumsel, tiga provinsi prioritas lainnya mencatat jumlah hotspot yang lebih rendah. Jambi berada di angka 26 titik, Kalimantan Selatan 20 titik, sedangkan Riau hanya 7 titik.
Angka-angka itu menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam operasi pengendalian.
Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi, hotspot bukan berarti jumlah titik kebakaran.
Kenapa Hotspot Harus Dicek Lagi?
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang ditangkap oleh sensor satelit. Data sangat penting untuk mendeteksi perubahan dan menentukan lokasi yang perlu diperiksa, tetapi belum cukup untuk memastikan telah terjadi kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Sebaliknya, titik yang terdeteksi satelit juga tetap membutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Oleh sebab itu, petugas tidak hanya melihat peta satelit. Tim melakukan groundcheck untuk memastikan apakah indikasi panas tersebut berkaitan dengan api aktif, bekas kebakaran, atau kondisi lain.
Cara kerja tersebut menjadi penting terutama ketika jumlah hotspot meningkat di suatu wilayah. Data satelit memberikan petunjuk awal, sedangkan kondisi lapangan menjadi penentu tindakan berikutnya.
53 Armada Udara Masih Bergerak
Di tengah situasi yang berubah-ubah tersebut, pengendalian dilakukan dari darat maupun udara.
Sebanyak 53 armada udara disiapkan untuk mendukung operasi di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumsel, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 armada lainnya diperuntukkan bagi water bombing.
Pengerahan tidak dilakukan dengan pola yang sama di setiap daerah. Armada diarahkan mengikuti perkembangan kondisi dan kebutuhan operasi di lapangan.
Sementara di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan pihak terkait terus melakukan pemantauan.
Ketika api ditemukan, penanganan dapat dilanjutkan dengan pemadaman, penyekatan agar api tidak menjalar, hingga mopping up dan pendinginan. Tahap terakhir penting untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali memicu kebakaran.
Bukan Cuma Api, Asap Juga Dipantau
Ancaman karhutla tidak berhenti pada keberadaan api. Pemerintah juga harus melihat dampaknya terhadap udara dan aktivitas masyarakat.
Pemantauan kualitas udara berbasis PM2.5 pada 6 September menunjukkan kondisi yang tidak seragam. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, terdapat area yang masuk kategori berbahaya.
Kondisi jarak pandang juga memberikan gambaran berbeda di enam provinsi prioritas. Pontianak menjadi salah satu yang perlu diperhatikan karena jarak pandang sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Sementara Palangka Raya berada di sekitar 8 kilometer dengan cuaca berawan.
Di Banjarmasin, jarak pandang sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan. Palembang tercatat 10 kilometer atau lebih, sedangkan Jambi sekitar 7 kilometer dan Pekanbaru sekitar 8 kilometer.
Kondisi tersebut bukan angka yang bersifat tetap. Pergerakan asap bisa berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, aktivitas kebakaran serta dinamika atmosfer.
Maka, perkembangan karhutla terus dibaca dari berbagai arah, mulai dari citra satelit, laporan petugas, kondisi api, kualitas udara hingga jarak pandang.
Penurunan hotspot Sumsel menjadi kabar baik, tetapi belum cukup untuk menyatakan situasi karhutla aman. Kalteng dan Kalbar yang justru mencatat angka tinggi membuat operasi pengendalian tetap harus berjalan.
Pemerintah pun mengingatkan masyarakat agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang berada di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca dan jarak pandang sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Pemantauan dan respons cepat tetap menjadi kunci agar api yang muncul tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih besar. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
