PSSI dan FIFA Makin Erat, Ada Proyek Besar yang Disiapkan untuk Sepak Bola Indonesia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : pssi.org
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – PSSI dan FIFA tak hanya bekerja sama dalam menjalankan program sepak bola. Di balik pembangunan pusat latihan di Ibu Kota Nusantara (IKN), pembinaan pemain muda hingga pengembangan sepak bola wanita, ada fondasi besar yang sedang dibangun untuk mengubah cara sepak bola Indonesia berkembang.
Selama ini, prestasi Tim Nasional Indonesia menjadi ukuran yang paling mudah dilihat. Namun, sebuah tim tidak lahir begitu saja.
Di belakang pemain yang tampil di lapangan terdapat proses panjang yang dimulai dari usia dini, pencarian bakat, kualitas pelatih, fasilitas latihan hingga sistem pembinaan yang mampu menjaga perkembangan pemain secara berkelanjutan. Kerja sama PSSI dan FIFA kini bergerak di berbagai lapisan tersebut.
Pusat latihan menjadi salah satu fondasi utama
Salah satu proyek terbesar berada di IKN. Pusat Pelatihan Nasional PSSI dibangun di atas lahan seluas 34,52 hektare dengan dukungan USD 5,4 juta dari Program FIFA Forward. Pemerintah Indonesia juga memberikan investasi tambahan untuk proyek tersebut.
Fasilitas di kawasan ini mencakup delapan lapangan sepak bola, stadion mini dan kolam renang setelah seluruh pembangunan fasilitas rampung.
Yang membuat proyek ini penting bukan hanya ukurannya. Indonesia untuk kali pertama memiliki National Training Centre yang secara khusus disiapkan sebagai pusat pembinaan sepak bola nasional.
FIFA menyebut fasilitas tersebut mulai digunakan untuk pemusatan latihan talenta muda, program teknis dan kegiatan sepak bola akar rumput.
Artinya, pusat latihan ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan Timnas senior, tetapi juga memiliki fungsi pembinaan untuk jangka panjang.
Dari sekolah, pintu pencarian pemain dibuka
Pembangunan sepak bola juga tidak mungkin hanya mengandalkan fasilitas elite. Oleh sebab itu, pemain potensial harus ditemukan sejak mereka masih berada di level paling awal.
FIFA Football for Schools memainkan peran dalam proses tersebut. Program ini telah diterapkan di seluruh 38 provinsi di Indonesia dan membawa sepak bola lebih dekat kepada anak-anak serta komunitas, termasuk wilayah yang jauh dari pusat kota.
Pada Mei 2025, dua lapangan mini FIFA Arena juga dibuka di sekitar sekolah di Jakarta. Fasilitas tersebut memberikan akses bermain kepada sekitar 1.450 siswa.
Langkah seperti ini memang tidak langsung menghasilkan pemain Timnas. Namun, semakin luas akses anak untuk bermain sepak bola, semakin besar pula peluang menemukan mereka yang memiliki potensi untuk kemudian diarahkan ke jalur pembinaan yang lebih serius.
Setelah menemukan bakat, tantangannya adalah mengembangkannya
Talenta saja tidak cukup. Pemain muda membutuhkan sistem dan pelatih yang mampu mengubah potensi menjadi kemampuan.
PSSI telah mengikuti FIFA Talent Development Scheme yang mendukung jalur pengembangan teknis Indonesia sejak 2022. Program pengembangan pelatih juga menjadi bagian dari kerja sama tersebut.
Melalui FIFA Coach Education Scholarship, PSSI mendapatkan dukungan untuk meningkatkan jumlah pelatih wanita berlisensi sekaligus memperkuat fondasi sepak bola wanita di Indonesia.
Dengan begitu, perhatian tidak hanya diberikan kepada siapa yang bermain, tetapi juga kepada siapa yang membentuk pemain tersebut.
Sepak bola wanita ikut mendapat arah yang lebih jelas
Perubahan lain terlihat dari sepak bola wanita. Pada 2024, PSSI meluncurkan Strategi Sepak Bola Wanita Indonesia melalui FIFA Women’s Football Development Programmes.
Setelah itu, PSSI terpilih sebagai salah satu dari tiga asosiasi anggota FIFA yang mengikuti FIFA-GIZ Women Empowerment in Sports Programme.
Langkah tersebut memberikan arah yang lebih terstruktur terhadap pengembangan sepak bola wanita di Indonesia.
Dukungan pendidikan pelatih juga menjadi bagian dari proses tersebut. Ini menunjukkan bahwa pembangunan sepak bola nasional mulai diarahkan ke ekosistem yang lebih luas, bukan hanya jalur pemain putra.
Jakarta kini punya posisi berbeda
Hubungan PSSI dan FIFA juga memasuki tahap yang lebih strategis setelah FIFA memperkuat keberadaannya di Jakarta. Pada Juni 2025, FIFA dan PSSI menandatangani Host Country Agreement untuk secara resmi membentuk FIFA Hub di Jakarta.
Hub tersebut mencakup 21 asosiasi anggota FIFA di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Keberadaan FIFA Hub di Jakarta membuat hubungan Indonesia dengan badan sepak bola dunia tidak hanya berkaitan dengan program di dalam negeri.
Indonesia juga memiliki peran yang lebih strategis dalam aktivitas sepak bola kawasan. Pertukaran pengetahuan, kerja sama teknis dan koordinasi dengan asosiasi anggota lainnya menjadi lebih terbuka.
Hal ini menjadi salah satu perkembangan yang membuat kemitraan PSSI dan FIFA semakin menarik untuk diperhatikan.
PSSI sudah mendapat pengakuan, tetapi pekerjaan belum selesai
Pemanfaatan FIFA Forward juga membawa pengakuan bagi PSSI.
Pada FIFA Executive Football Summit di Miami pada Juni 2025, PSSI menerima FIFA Forward Gold Award untuk asosiasi anggota di Asia. Penghargaan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan program FIFA Forward untuk pengembangan sepak bola.
Namun, penghargaan bukan ukuran akhir. Pembangunan sepak bola baru benar-benar bisa dinilai ketika program-program tersebut menghasilkan perubahan nyata.
Anak yang mulai bermain melalui program sekolah harus memiliki kesempatan untuk berkembang. Talenta dari daerah perlu memiliki jalur menuju pembinaan yang lebih tinggi.
Pelatih harus semakin berkualitas dan fasilitas yang dibangun harus benar-benar digunakan secara optimal. Sepak bola wanita juga perlu terus mendapatkan ruang untuk berkembang.
Semua itu membutuhkan waktu.
Yang dibangun bukan cuma fasilitas
Jika seluruh program tersebut dilihat secara terpisah, semuanya terlihat seperti proyek yang berbeda. Ada pusat latihan di IKN, Football for Schools, FIFA Arena, pengembangan talenta, pendidikan pelatih, strategi sepak bola wanita, serta FIFA Hub di Jakarta.
Namun jika semuanya disatukan, terlihat arah yang sama, yaitu membangun sistem sepak bola Indonesia dari bawah hingga level tertinggi.
Kemitraan PSSI dan FIFA pun menjadi lebih dari sekadar hubungan antara federasi nasional dengan badan sepak bola dunia.
Fasilitas bisa dibangun dalam beberapa tahun. Program bisa diluncurkan dalam hitungan bulan. Tetapi ekosistem membutuhkan waktu untuk menghasilkan generasi pemain yang benar-benar matang.
Bahkan, ujian terbesar dari kerja sama ini bukan seberapa banyak proyek yang berhasil diumumkan, melainkan seberapa konsisten sistem tersebut bekerja setelah sorotan media beralih.
Jika pembinaan usia dini, pengembangan talenta, kualitas pelatih, fasilitas dan sepak bola wanita dapat berjalan dalam satu jalur yang berkelanjutan, Indonesia tidak hanya mendapatkan pemain untuk hari ini.
Indonesia sedang membangun mesin sepak bola untuk melahirkan pemain-pemain berikutnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
