Singkong Rebus, Sarapan Jadul Kembali Dicari, Teman Ngopi Pagi yang Sederhana tapi Bikin Kangen Kampung
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 28 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada kalanya sarapan pagi tidak perlu roti, sereal, atau makanan yang macam-macam. Sepiring singkong rebus hangat ditemani secangkir kopi justru bisa menjadi pilihan yang paling pas untuk membuka hari.
Masyarakat yang tinggal di kampung, singkong rebus bukan makanan asing. Dulu, pangan sederhana ini kerap hadir di meja makan sebagai sarapan atau teman minum kopi sebelum memulai aktivitas.
Saya pun teringat masa lalu, sering di sugukan gorengan singkong rebus di rumah sebagai sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.
Singkong memang makanan sederhana dan ribet karena cukup dikupas, dicuci, lalu direbus sampai empuk. Setelah matang, teksturnya yang lembut dengan rasa gurih alami membuatnya mudah disantap tanpa banyak tambahan.
Kalau ingin lebih nikmat, singkong rebus bisa diberi sedikit kelapa parut, garam, atau gula. Ada pula yang menyantapnya begitu saja sambil menyeruput kopi hitam panas.
Sarapan kampung yang sederhana
Menariknya, sarapan kampung seperti singkong rebus memiliki daya tarik yang tidak selalu ditemukan pada makanan modern. Bahan yang digunakan sederhana dan cara memasaknya pun tidak rumit.
Di sejumlah daerah, singkong bahkan masih menjadi salah satu pilihan pangan rumahan yang mudah ditemukan. Harganya relatif terjangkau dan dapat diolah menjadi berbagai makanan, mulai dari singkong rebus, singkong goreng, getuk, tape hingga aneka kue tradisional.
Untuk suasana pagi, singkong rebus punya kelebihan tersendiri. Makanan ini bisa disantap perlahan sambil menikmati kopi dan berbincang bersama keluarga.
Teman ngopi yang bikin ingat masa lalu
Ada sensasi berbeda ketika kopi panas bertemu singkong rebus. Rasa pahit kopi berpadu dengan cita rasa singkong yang cenderung ringan.
Kombinasi itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi sebagian orang, justru kesederhanaannya yang membuat makanan kampung ini terasa istimewa.
Apalagi ketika singkong masih hangat dan uapnya baru saja hilang dari piring. Secangkir kopi di sampingnya seolah melengkapi sarapan sederhana yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
Bukan sekadar makanan jadul
Singkong rebus memang identik dengan sarapan jadul, tetapi bukan berarti makanan ini kehilangan tempat di meja makan.
Di tengah banyaknya pilihan sarapan, pangan tradisional justru kembali menarik perhatian karena menawarkan rasa yang akrab dan cara penyajian yang sederhana.
Singkong juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat dalam menu sehari-hari. Tentu, agar sarapan lebih seimbang, singkong dapat dipadukan dengan sumber protein seperti telur atau lauk sederhana lainnya.
Pada akhirnya, yang membuat singkong rebus menarik bukan hanya rasanya. Ada kenangan yang ikut tersaji di dalamnya.
Pagi yang tenang, kopi panas, singkong rebus dan obrolan ringan di teras rumah mungkin terdengar sederhana. Namun dari hal-hal kecil seperti itulah sarapan tradisional sering meninggalkan rasa yang sulit digantikan.
Boleh jadi, makanan yang dulu dianggap biasa justru menjadi hidangan yang paling dirindukan ketika seseorang sudah jauh dari kampung halaman. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
