Kulit Singkong Dibidik Jadi Bio-Fire Retardant, Cara Baru Cegah Karhutla dari Bahan Lokal
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu harus dihadapi setelah api membesar. Upaya pencegahan justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar masyarakat, termasuk memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum banyak dilirik.
Salah satu yang mulai mendapat perhatian adalah kulit singkong. Bahan yang kerap berakhir sebagai limbah tersebut diketahui mengandung kalium dan berpotensi diolah menjadi larutan perintang api alami atau bio-fire retardant.
Pemanfaatannya diarahkan untuk membasahi bahan mudah terbakar di sekitar lahan atau bagian batas lahan yang rawan terbakar. Dengan begitu, bahan tersebut berpotensi menjadi salah satu bagian dari upaya menghambat penyebaran api sejak awal.
Namun, pemanfaatan kulit singkong sebagai bio-fire retardant tetap membutuhkan proses pengolahan dan penerapan yang tepat. Gagasan ini bukan berarti kulit singkong dapat menggantikan bahan atau peralatan pemadam kebakaran yang memang dirancang untuk menangani api.
Pembahasan mengenai pemanfaatan bahan lokal tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Kehutanan mendorong pola baru dalam pengendalian karhutla. Fokusnya bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mengurangi kemungkinan api muncul dan berkembang.
Pencegahan Karhutla Dimulai Sebelum Api Muncul
Pendekatan pencegahan menjadi penting karena kebakaran hutan dan lahan banyak berkaitan dengan aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian, kegiatan ekonomi hingga persoalan di lapangan dapat menjadi pemicu kebakaran.
Oleh sebab itu, pencegahan karhutla perlu dimulai jauh sebelum kondisi berubah menjadi darurat. Penyuluh kehutanan memiliki peran untuk mengenali wilayah rawan, memantau kondisi cuaca dan tingkat kekeringan, memperhatikan perkembangan hotspot, sekaligus membangun kesiapsiagaan masyarakat.
Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) juga menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Kesiapan masyarakat di sekitar kawasan rawan dapat membantu mempercepat respons ketika muncul tanda-tanda kebakaran.
Upaya pencegahan juga tidak cukup hanya dengan mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan. Pilihan lain perlu disiapkan agar kegiatan pengelolaan lahan tetap dapat berjalan tanpa menimbulkan risiko kebakaran.
Salah satunya melalui Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Sisa tanaman dan limbah dari kegiatan pembukaan lahan dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos, briket arang atau produk bernilai guna lainnya.
Pemanfaatan kulit singkong menarik karena pendekatannya berangkat dari bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Jika dikembangkan dengan metode yang tepat, limbah pertanian tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diarahkan menjadi bagian dari solusi pencegahan kebakaran.
Teknologi turut membantu memperkuat langkah tersebut. Informasi mengenai cuaca, tingkat kekeringan dan hotspot dapat dipantau lebih cepat sehingga masyarakat maupun petugas memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan sebelum api meluas.
Pencegahan karhutla pada akhirnya membutuhkan kerja bersama. Masyarakat, penyuluh, pemerintah desa, pengelola kawasan hutan, kelompok MPA, dunia usaha, akademisi serta aparat memiliki peran masing-masing dalam mengurangi risiko kebakaran.
Cara pandang ini membuat pengendalian karhutla tidak berhenti pada kegiatan pemadaman. Semakin dini potensi kebakaran dikenali dan semakin banyak alternatif tanpa bakar yang tersedia, semakin besar pula peluang api dicegah sebelum berubah menjadi bencana.
Pemanfaatan kulit singkong sebagai bio-fire retardant masih membutuhkan pengolahan dan penerapan yang tepat. Meski begitu, gagasan tersebut membuka satu pesan penting: pencegahan kebakaran dapat dimulai dari sumber daya yang ada di sekitar masyarakat, selama diolah secara benar dan digunakan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
