Gempa Sikka Bikin Trauma 1992 Kembali Muncul, Warga Dilatih Hadapi Ketakutan Saat Gempa Susulan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemensos.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Gempa susulan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, bukan hanya membuat warga kembali waspada. Sebagian penyintas, guncangan itu juga membangkitkan ingatan tentang gempa dan tsunami yang pernah mereka alami pada 1992.
Rasa kaget, cemas, hingga ketakutan kembali muncul ketika bumi berguncang. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pendampingan psikososial yang dilakukan di lokasi pengungsian akhir pekan lalu.
Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial menemukan kondisi psikologis penyintas tidak seragam. Dari hasil asesmen, sekitar 19 persen masuk kategori merah atau berisiko sangat tinggi.
Sebanyak 31 persen lainnya berada pada kategori kuning dengan risiko sedang, sedangkan 50 persen masuk kategori hijau atau berisiko ringan.
Pembagian itu menentukan bentuk pendampingan yang diberikan kepada warga.
Mereka berada di zona merah tidak cukup hanya mendapatkan pendampingan umum. Setelah asesmen awal, korban dirujuk kepada psikolog untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
“Yang merah kami rujuk ke psikolog, karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial,” kata Igun Gunawan, Tim LDP Kementerian Sosial.
Pada tahap ini, katanya pengalaman bencana masa lalu menjadi penting. Ketika gempa susulan terjadi, pengalaman traumatis selama bertahun-tahun tersimpan dapat kembali muncul.
Tim LDP kemudian memberikan latihan stabilisasi dan grounding. Warga diajak mengenali respons ketika mulai merasa takut atau cemas sekaligus mengetahui cara menenangkan diri ketika situasi tersebut muncul.
Pendampingan juga tidak berhenti pada persoalan rasa takut. Warga diberikan edukasi mengenai langkah penyelamatan diri jika gempa kembali terjadi.
Sementara korban yang masuk kategori kuning dan hijau mendapat Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreasional, serta aktivitas yang dirancang untuk membantu mereka kembali menjalankan fungsi sosial.
Pendekatan itu diberikan kepada kelompok yang berbeda sesuai kebutuhannya. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang banyak mendapat layanan dari lembaga yang tergabung dalam subcluster LDP.
Sementara perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lansia mendapatkan pendampingan bersama tim Kementerian Sosial.
Sebanyak 18 lembaga dan NGO bergabung dalam subcluster tersebut. Layanan tidak dibuat sebagai kegiatan sesekali, tetapi menjadi bagian dari rutinitas warga selama berada di pengungsian.
Hari dimulai sekitar pukul 06.00 WITA dengan senam pagi yang melibatkan warga, anak-anak, relawan, TNI, dan Polri. Setelah itu warga menjalani aktivitas seperti sarapan dan bersih-bersih.
Menjelang siang, sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WITA, pendampingan lebih banyak diarahkan kepada anak-anak melalui aktivitas rekreasional, PFA, dan kegiatan psikososial lainnya.
Setelah anak-anak beristirahat, sesi berikutnya diperuntukkan bagi perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lansia pada pukul 14.00–16.00 WITA.
Menurut Igun, kegiatan tersebut tak hanya membuat warga memiliki kesibukan selama berada di pengungsian.
“Ada layanan rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur,” ujarnya.
Sore hari, lanjutnya kegiatan kembali diarahkan kepada anak-anak hingga menjelang malam. Untuk anak-anak Muslim, aktivitas dilanjutkan dengan Magrib Mengaji di musala darurat. Sementara anak-anak Katolik mengikuti kegiatan Sekolah Minggu pada hari Minggu.
Dengan pola tersebut, pemulihan psikologis di pengungsian dilakukan secara bertahap. Mereka yang membutuhkan bantuan profesional mendapat rujukan, sementara warga dengan risiko lebih ringan tetap mendapatkan pendampingan agar rasa aman dan fungsi sosial perlahan kembali.
Bagi penyintas yang pernah melewati bencana besar pada 1992, pemulihan itu juga berarti belajar menghadapi kembali rasa takut yang sempat mereka kenal puluhan tahun lalu.
Ketika gempa susulan datang, bekal untuk menghadapi ketakutan itu menjadi sama pentingnya dengan mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
