Karhutla Sumsel Tembus 1.723 Kejadian, 53 Titik Masih Terpantau, Kini Cipayung Plus Diajak Turun ke Posko
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla Sumsel masih menjadi ancaman di tengah musim kemarau. Hingga 23 Agustus 2026, BPBD Sumsel mencatat 1.723 kejadian kebakaran hutan dan lahan, dengan 53 titik masih terpantau di 13 kabupaten/kota.
Angka itu menjadi bukti penanganan karhutla belum selesai. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus memperkuat operasi di lapangan, sekaligus membuka ruang bagi kelompok masyarakat untuk ikut mengawasi dan mendukung upaya mitigasi.
Salah satu langkah yang kini mendapat perhatian adalah pelibatan mahasiswa. Gubernur Sumsel Herman Deru mengajak organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus untuk ikut memonitor kondisi penanganan karhutla melalui posko komando Satgas.
Ajakan itu disampaikan Herman saat menerima audiensi dan silaturahmi perwakilan Mahasiswa Cipayung Plus Sumsel di Ruang Rapat Bina Praja, Kantor Gubernur Sumsel, Senin (24/8/2026).
Menurut Herman, keterlibatan mahasiswa dibutuhkan karena penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masukan dari berbagai pihak dinilai penting agar langkah pencegahan maupun penanggulangan dapat berjalan lebih efektif.
“Saya bangga sekali dengan perhatian adik-adik Cipayung Plus. Pemprov Sumsel butuh masukan dari semua pihak agar langkah pencegahan dan penanggulangan ini tidak sia-sia,” ujar Herman.
Ia menyebut terdapat 10 kabupaten yang memiliki potensi kebakaran dengan tingkat risiko mulai ringan hingga berat. Karena itu, Herman mempersilakan perwakilan Cipayung Plus ikut melihat langsung aktivitas di posko komando Satgas Karhutla.
Di sisi lain, BPBD Sumsel menyebut penanganan karhutla dilakukan secara terpadu, mulai dari pencegahan hingga penanganan di lokasi kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Dr. M. Iqbal Alisyahbana mengatakan hingga saat ini sudah terdapat 1.101 posko Karhutla yang didirikan. Sebanyak 11.026 personel gabungan juga disiagakan untuk mendukung operasi di lapangan.
Penanganan dilakukan dengan berbagai cara. Petugas mengerahkan pemadaman darat, water bombing, pemantauan udara, pendinginan lahan, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, persoalan karhutla tidak hanya dilihat dari luas wilayah yang terbakar. Dampak asap terhadap aktivitas masyarakat juga menjadi perhatian mahasiswa.
Ketua PMII Sumsel Syaidina Ali mengatakan kekhawatiran Cipayung Plus salah satunya berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan serta terganggunya aktivitas sekolah anak-anak akibat asap karhutla.
“Tuntutan kami lahir dari kekhawatiran atas meningkatnya risiko pasien ISPA serta terganggunya aktivitas persekolahan anak-anak akibat asap Karhutla,” kata Syaidina.
Menurutnya, mahasiswa tidak ingin hanya datang menyampaikan kritik. Cipayung Plus menyatakan siap mengambil bagian dalam mitigasi bencana dan membantu pemerintah di lapangan.
Dengan masih terpantau 53 titik kejadian hingga 23 Agustus, penanganan karhutla Sumsel masih membutuhkan pengawasan dan kerja bersama. Pelibatan mahasiswa di posko Satgas menjadi salah satu ruang kolaborasi yang ditawarkan pemerintah untuk memperkuat upaya tersebut. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
