Perubahan Iklim Makin Terasa, Ruang Hidup Masyarakat Ikut Terancam
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenlh.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perubahan iklim sekarang bukan lagi cerita soal apa yang mungkin terjadi puluhan tahun ke depan. Dampaknya mulai terasa dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Musim yang sulit ditebak, hujan dengan intensitas tinggi, cuaca panas yang lebih menyengat, sampai kondisi laut yang berubah menjadi tanda bahwa lingkungan sedang mengalami tekanan.
Bagi masyarakat yang hidup bergantung pada alam, perubahan itu tentu tidak berhenti sebagai persoalan cuaca. Ada pekerjaan dan penghasilan yang ikut dipertaruhkan.
Masyarakat pesisir menjadi salah satu kelompok yang berada di garis depan. Laut dan kawasan pantai merupakan bagian penting dari kehidupan mereka. Ketika kondisi lingkungan berubah, dampaknya bisa langsung terasa.
Perubahan Iklim Memperbesar Risiko
Ada istilah yang menarik untuk memahami persoalan ini, yakni risk multiplier atau pengganda risiko.
Istilah tersebut digunakan Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto untuk menggambarkan perubahan iklim sebagai ancaman yang dapat memperbesar risiko yang sudah ada.
Sederhananya, perubahan iklim tidak selalu menciptakan masalah dari nol. Ia bisa membuat persoalan yang sudah ada menjadi lebih berat.
Wilayah yang memang rentan banjir bisa menghadapi risiko lebih besar ketika hujan ekstrem terjadi.
Begitu pula kawasan pesisir yang sudah mengalami abrasi. Tekanan terhadap wilayah tersebut bisa semakin berat ketika cuaca dan kondisi laut ikut berubah.
Masyarakat yang penghasilannya bergantung pada alam juga menghadapi tantangan serupa. Ketika lingkungan berubah, mereka harus beradaptasi dengan keadaan yang belum tentu mudah diprediksi.
Oleh karena itu, persoalan perubahan iklim sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan menjaga suhu bumi atau mengurangi emisi. Ada persoalan yang lebih dekat, yaitu bagaimana masyarakat tetap bisa hidup aman di tengah perubahan lingkungan.
Nelayan Merasakan Dampaknya Lebih Cepat
Cerita mengenai perubahan iklim akan terasa berbeda jika dilihat dari kehidupan masyarakat pesisir.
Eriyanto, nelayan asal Pulau Rupat, Riau, membawa gambaran dari lapangan. Dalam diskusi tersebut, ia menyampaikan abrasi pantai yang menggerus permukiman masyarakat pesisir. Ia juga menyoroti perubahan cuaca ekstrem yang berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan.
Bagi nelayan, perubahan seperti itu bukan sekadar persoalan lingkungan.
Ketika kondisi cuaca dan laut berubah, aktivitas melaut ikut menghadapi tantangan. Hasil tangkapan yang terdampak pada akhirnya juga berkaitan dengan pendapatan keluarga.
Abrasi pun bukan sekadar persoalan garis pantai yang bergeser. Jika berlangsung terus-menerus, permukiman, fasilitas warga, akses menuju pantai, hingga wilayah yang selama ini menjadi tempat mencari penghasilan bisa ikut terancam.
Sehingga perubahan iklim bersentuhan langsung dengan apa yang disebut sebagai ruang hidup.
Ruang Hidup Bukan Hanya Tempat Tinggal
Ruang hidup masyarakat sebenarnya jauh lebih luas daripada rumah, bahkan nelayan sendiri laut diibarattan periuk nasinya alias tempat mereka bekerja. Sementara masyarakat pesisir, pantai dan wilayah sekitarnya bisa menjadi sumber pangan sekaligus sumber pendapatan.
Ketika kondisi lingkungan berubah, semua itu ikut menghadapi tekanan. Itu, sebabnya kebijakan menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya melihat persoalan lingkungan secara terpisah.
Perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah rentan juga harus menjadi bagian dari pembahasan.
Kalau tidak, masyarakat yang sejak awal memiliki keterbatasan bisa menjadi kelompok yang paling berat menanggung dampaknya.
Warga Perlu Dilibatkan
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebijakan lingkungan dibuat. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak seharusnya tidak hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan.
Mereka juga memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Nelayan, misalnya, memiliki pengalaman langsung menghadapi kondisi laut. Warga pesisir juga bisa melihat bagian pantai mana yang mengalami abrasi dan perubahan apa yang terjadi dari waktu ke waktu.
Pengetahuan semacam ini penting, kebijakan dibuat pemerintah dan kajian dari akademisi tetap dibutuhkan, tetapi keduanya akan lebih kuat, jika bertemu dengan pengalaman masyarakat di lapangan.
Oleh sebab itu, partisipasi masyarakat dalam kebijakan perubahan iklim bukan hanya formalitas. Suara warga perlu benar-benar dipertimbangkan ketika keputusan menyangkut ruang hidup mereka dibuat.
Menghadapi Perubahan Iklim dari Sekarang
Perubahan iklim memang merupakan persoalan global. Tetapi dampaknya selalu muncul di tempat yang nyata dan dialami orang yang nyata pula.
Ada nelayan yang harus menghadapi perubahan kondisi laut. Ada warga pesisir yang melihat garis pantai semakin dekat dengan permukiman. Ada pula masyarakat yang harus berhadapan dengan cuaca yang semakin sulit diperkirakan.
Semua itu membuktikan perubahan iklim bukan persoalan yang bisa ditunda pembahasannya. Mengurangi risiko tetap membutuhkan kebijakan, tata kelola lingkungan, perlindungan wilayah rentan, dan keterlibatan masyarakat.
Maka dipertaruhkan bukan hanya kondisi alam, perlu ada ruang hidup, pekerjaan, penghasilan, dan masa depan masyarakat yang ikut bergantung pada kemampuan kita menghadapi perubahan iklim. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
