Festival Bidar 2026 Masuk KEN, Saat Sungai Musi Tak Hanya Jadi Panggung Tradisi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sungai Musi yang membelah Kota Palembang, Seberang Ulur dan Ilir kembali menjadi pusat perhatian ketika deretan Perahu Bidar melaju membelah arus pada perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin, (17/8/2026).
Ribuan warga dan wisatawan datang menyaksikan Festival Perahu Bidar Tradisional 2026. Ada yang datang untuk menikmati perlombaan, ada pula hanya ingin melihat kembali salah satu tradisi yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palembang.
Namun, festival tahun ini memiliki cerita yang lebih besar, pasalnya Perahu Bidar Tradisional 2026 masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Posisi tersebut membuka peluang bagi Festival Bidar untuk tidak berhenti sebagai agenda tahunan dalam memeriahkan kemerdekaan, tetapi berkembang menjadi salah satu kekuatan wisata budaya Palembang.
Sehingga Sungai terpanjang di Pulau Sumatera (sekitar 750 kilometer) ini mempunyai peran penting.
Sementara, Jembatan Amperayang penuh sejarah di atas air Sungai Musi mengalir juga menjadi ikon yang hampir selalu melekat ketika Palembang dibicarakan. Tetapi sungai yang menjadi bagian penting dari sejarah kota itu, karena menyimpan banyak cerita yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata.
Festival Bidar adalah salah satunya, keberadaan 12 tim Perahu Bidar Tradisional dan 17 peserta Parade Perahu Motor Hias membuktikan tradisi di atas Sungai Musi masih memiliki daya tarik ketika dikemas dalam sebuah event.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menjelaskan Festival Bidar sebagai momen guna merawat ingatan, identitas, dan kebanggaan masyarakat terhadap sejarah Sungai Musi.
Pernyataan orang nomor satu di kota tertua di Indonesia ini menjadi penting, karena pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan perlombaannya.
Tradisi akan memiliki masa depan ketika generasi berikutnya masih melihatnya sebagai sesuatu yang bernilai, sementara masyarakat luas mendapatkan alasan untuk mengenal dan menikmatinya.
Tradisi menuju wisata
Masuknya Festival Bidar ke dalam KEN 2026 memberikan peluang untuk memperluas cerita tentang Sungai Musi.
Wisatawan yang datang menyaksikan perlombaan sebenarnya tidak harus berhenti di tepian sungai. Mereka dapat diarahkan untuk mengenal kuliner khas, aktivitas masyarakat, seni lokal, produk UMKM, hingga berbagai potensi wisata yang tumbuh di sekitar Sungai Musi.
Dengan pola seperti itu, satu event dapat memberikan efek yang lebih panjang, Pemerintah Kota Palembang menyebutkan kehadiran festival turut memberi dampak bagi UMKM, industri kreatif, kuliner, dan komunitas seni lokal.
Hal ini membuktikanevent budaya mempunyai potensi untuk menjadi titik temu antara pelestarian tradisi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski demikian, dampak ekonomi sebuah festival tidak seharusnya hanya dilihat dari ramainya lokasi acara dalam satu hari saja. Yang jauh lebih menariknya, jika keramaian tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi wisatawan guna mengenal Palembang lebih jauh.
Apalagi, mantan Sekda Pemkot Palembang ini berharap wisatawan yang datang ke Palembang tidak hanya mengenal Jembatan Ampera saja, melainkan juga dapat menikmati da merasakan kekayaan budaya yang berada di sepanjang Sungai Musi.
Gagasan itu sebenarnya menawarkan pekerjaan rumah sekaligus peluang, jika memang digarap serius.
Jangan berhenti pada lomba
Festival Bidar 2026 memang memiliki pemenang. Kabupaten Ogan Ilir keluar sebagai juara pertama dan memperoleh uang pembinaan Rp25 juta.
Sinar Permata Lahat berada di posisi kedua dengan hadiah Rp22,5 juta. PMPB Sumsel menempati posisi ketiga dengan Rp20 juta.
Berikutnya, juara harapan pertama diraih Dinas Perhubungan Kota Palembang, harapan kedua Kabupaten OKI, dan harapan ketiga Perumda Tirta Musi Palembang.
Untuk Parade Perahu Motor Hias, Perumda Tirta Musi Palembang menjadi pemenang dengan hadiah Rp7,5 juta.
Hasil tersebut tentunya menjadi bagian penting dari catatan Festival Bidar tahun ini. Tetapi jika ingin menjadikan event ini sebagai kekuatan wisata, perhatian tidak boleh berhenti pada siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Justru setelah perlombaan selesai, ada pertanyaan yang lebih besar muncul yang patut menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama, bahkan patut juga direnungkan untuk mengisi kemerdekaan.
Salah satunya, yaitu bagaimana membuat orang datang ke Palembang bukan hanya untuk menyaksikan Festival Bidar yang digelar setiap HUT RI saja?
Bagaimana membuat wisatawan yang sudah datang kemudian mengenal lebih banyak potensi Sungai Musi?
Dan bagaimana agar pelaku UMKM, kuliner, komunitas seni, serta masyarakat sekitar ikut mendapatkan manfaat dari berkembangnya event tersebut?
Menurut penulis, pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang akan menentukan apakah Festival Bidar mampu berkembang menjadi lebih dari sebuah perlombaan tradisional.
Sungai Musi punya cerita panjang
Kekuatan Festival Bidar sebenarnya bukan hanya pada kecepatan perahu atau kekompakan para pendayung.
Ada sejarah, identitas, dan cerita masyarakat yang melekat di dalamnya. Ratu Dewa bahkan mengibaratkan kekompakan para pendayung sebagai gambaran semangat gotong royong yang dibutuhkan dalam membangun Palembang.
Pesan itu sebenarnya sejalan dengan karakter Festival Bidar yang mempertemukan olahraga tradisional, budaya, hiburan, dan aktivitas masyarakat dalam satu ruang.
Oleh sebab itu, masuknya Festival Bidar ke KEN 2026 sebaiknya bisa dijadikan momen untuk memperkuat ekosistemnya.
Informasi sejarah Bidar dapat dibuat lebih mudah diakses. Cerita tentang Sungai Musi juga bisa diperkenalkan kepada wisatawan.
Bahkan yang lebih penting, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif dapat diberi ruang semakin kuat bukan hanya di event tahunan, dan satunya lagi komunitas seni lokal pun bisa diberi ruang seluas-luasnya untuk menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Dengan begitu, Sungai Musi tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya perlombaan, sebab Sungai Musi bisa menjadi cerita utama.
Festival Bidar boleh berlangsung sehari, tetapi nilai yang dibawanya seharusnya tidak ikut berakhir ketika perahu terakhir mencapai garis finis.
Masuknya Festival Bidar 2026 ke dalam KEN memberikan peluang bagi Palembang untuk membuktikan tradisi lama masih bisa memiliki tempat dalam wajah pariwisata modern.
Kuncinya sebenarnya bukan mengubah Bidar menjadi sesuatu yang kehilangan akar budayanya.
Tetapi, kekuatan tradisinya yang perlu dijadikan alasan bagi orang untuk datang, melihat, mengenal, dan akhirnya ingin kembali. Artinya semua disajikan memilik rasa di wisatawan baik lokal maupun luar.
Sebab Sungai Musi bukan hanya bagian dari sejarah Palembang, di sana (Musi) masih ada budaya, masyarakat, cerita, dan peluang yang bisa terus dikembangkan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
