Gempa Flores, Yohanis Riba Harus Dijemput Helikopter dari Palue untuk Dapat Perawatan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Selamat dari gempa bumi magnitudo (M) 7,7 Flores belum membuat Yohanis Riba (75) bisa langsung terbebas dari persoalan. Warga Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, itu masih harus menjalani proses panjang untuk mendapatkan perawatan setelah kedua kakinya tertimpa reruntuhan rumah.
Yohanis menjadi salah satu penyintas gempa yang mengalami luka akibat bangunan roboh saat guncangan kuat terjadi pada Sabtu (15/8). Ketika berusaha menyelamatkan diri, material rumah justru menimpa kedua kakinya.
Keluarga dan warga sekitar kemudian memberikan pertolongan sebelum Yohanis dibawa ke fasilitas kesehatan di wilayah Palue. Selama beberapa hari, ia mendapat perawatan untuk memantau kondisi luka dan memar yang dialaminya.
Namun, penanganan di pulau tersebut belum cukup untuk kebutuhan medis Yohanis. Kondisinya membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lanjutan yang lebih memadai.
Di sinilah persoalan lain muncul. Bagi penyintas yang berada di wilayah kepulauan seperti Palue, mendapatkan layanan kesehatan tidak selalu sesederhana membawa pasien ke rumah sakit terdekat. Kondisi geografis membuat proses pemindahan pasien membutuhkan moda transportasi khusus dan koordinasi banyak pihak.
Yohanis akhirnya harus dibawa keluar dari Palue menuju Maumere pada Minggu (23/8). Untuk mempercepat proses tersebut, helikopter Polri yang disiagakan di Pos Pendamping Nasional (Pospenas) BNPB di Bandara Frans Seda, Maumere, digunakan dalam evakuasi.
Helikopter tersebut menjemput Yohanis dari Palue dan membawanya menuju Maumere. Dari sana, pasien kemudian diarahkan untuk mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers.
Evakuasi ini memperlihatkan bagaimana akses menjadi persoalan penting dalam penanganan korban bencana di wilayah kepulauan. Ketika fasilitas kesehatan di lokasi terdampak memiliki keterbatasan, keselamatan pasien juga bergantung pada seberapa cepat korban dapat dipindahkan ke fasilitas yang memiliki dukungan medis lebih lengkap.
Dalam kondisi seperti itu, setiap tahapan membutuhkan koordinasi. Tim di lapangan harus memastikan kondisi pasien, menyiapkan proses pemindahan, sekaligus memperhitungkan keselamatan selama perjalanan dari pulau menuju pusat layanan kesehatan.
Penanganan Yohanis melibatkan unsur BNPB, TNI, Polri, tenaga medis, relawan, hingga pihak terkait di lingkungan bandara. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan proses evakuasi dapat dilakukan tanpa menambah risiko terhadap pasien.
Setelah tiba di Maumere, Yohanis mendapatkan penanganan lebih lanjut di RSUD TC Hillers. Pemeriksaan di rumah sakit tersebut diharapkan dapat memberikan penanganan yang lebih optimal terhadap kondisi kedua kakinya.
Kisah Yohanis membuktikan dampak gempa tidak selalu berhenti pada saat bangunan roboh atau korban berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Untuk warga sendiri, yang tinggal di pulau-pulau dengan akses terbatas, perjalanan menuju layanan kesehatan juga menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana.
Oleh karena itu, respons terhadap bencana di wilayah kepulauan tidak hanya membutuhkan kecepatan saat evakuasi awal. Ketersediaan akses transportasi dan layanan medis lanjutan juga menjadi bagian dari upaya memastikan penyintas mendapatkan pertolongan sesuai kebutuhan mereka.
Unutuk Yohanis, perjalanan dari Palue ke Maumere menjadi langkah berikutnya setelah berhasil melewati gempa.
Saat ini, penanganan medis diharapkan membantu memulihkan kondisi kedua kakinya sehingga ia dapat kembali menjalani kehidupan setelah bencana. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
