Dari Hutan ke Pasar Digital, Kemenhut Cetak Forestpreneur Muda Lewat Bisnis Lebah Trigona
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Forestpreneur muda mulai disiapkan Kementerian Kehutanan melalui pengembangan usaha berbasis potensi hutan, salah satunya budidaya lebah Trigona. Di Banyumas, Jawa Tengah, 95 anak muda dari Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga mendapat pembekalan tidak hanya untuk membudidayakan lebah tanpa sengat, tetapi juga mengolah produk, membangun merek, dan memasarkannya melalui kanal digital.
Pembekalan tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis Kewirausahaan Kreatif Kehutanan Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona (Trigona spp.) yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan.
Kegiatan berlangsung pada 18–20 Agustus 2026 di Wanawiyata Widyakarya Petani Muda Prawita, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Yang dibangun dalam kegiatan ini bukan sekadar kemampuan menghasilkan madu. Peserta diarahkan memahami bagaimana potensi hutan dapat diubah menjadi produk bernilai tambah, kemudian diperkenalkan kepada konsumen dengan strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan pasar digital.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, mengatakan keterlibatan generasi muda dalam pembangunan kehutanan perlu diperluas dengan memberikan mereka pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan ruang untuk mengembangkan usaha produktif.
“Kami ingin generasi muda melihat bahwa menjaga hutan dan membangun kesejahteraan dapat berjalan bersama. Melalui forestpreneurship, anak muda dapat menciptakan nilai ekonomi dari potensi hutan tanpa harus merusaknya,” ujar Luckmi.
Menurut Luckmi, kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial merupakan modal yang perlu diarahkan untuk memperkuat produk-produk kehutanan.
“Jangan hanya bisa menghasilkan produk yang baik, tetapi harus mampu membangun cerita, merek, dan pasar yang baik,” katanya.
Lebah Trigona dan peluang ekonomi dari ekosistem
Lebah Trigona atau lebah tanpa sengat menjadi salah satu komoditas yang dinilai potensial karena dapat dibudidayakan dengan tetap menjaga lingkungan. Keberadaan vegetasi dan ekosistem yang sehat menjadi bagian penting bagi keberlangsungan koloni lebah.
Di sinilah budidaya Trigona memiliki hubungan langsung dengan konsep forestpreneurship. Usaha dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat, sementara keberlangsungan usaha juga bergantung pada terjaganya lingkungan sebagai sumber pakan lebah.
Dengan pendekatan tersebut, potensi hutan tidak hanya dilihat sebagai sumber bahan baku, tetapi sebagai ekosistem yang harus dipertahankan agar usaha dapat terus berjalan.
Dari budidaya menuju pasar digital
Bimtek di Banyumas memberikan materi yang lebih luas dari teknik budidaya. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan produk, digitalisasi pemasaran, pemanfaatan media sosial, hingga penguatan branding.
Kemampuan tersebut diharapkan membuat generasi muda tidak berhenti pada tahap produksi. Mereka didorong memahami bagaimana sebuah produk dibangun menjadi merek, memiliki cerita, dikenal konsumen, dan akhirnya menemukan pasarnya.
Banyumas sendiri memiliki pengalaman dalam pengembangan usaha berbasis lebah. Wanawiyata Widyakarya Petani Muda Prawita di Desa Darmakradenan menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengembangkan budidaya lebah dan potensi usaha lokal.
Dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan juga diharapkan memperkuat pengembangan usaha tersebut, termasuk melalui jejaring, inovasi produk, pemasaran, dan kolaborasi dengan usaha lokal lainnya.
421 generasi muda dibina jadi forestpreneur
Bimtek Lebah Trigona di Banyumas merupakan bagian dari program pembinaan kewirausahaan kreatif kehutanan. Sepanjang 2025–2026, sebanyak 421 generasi muda telah mengikuti pembinaan dengan berbagai rintisan usaha berbasis potensi hutan.
Kementerian Kehutanan mendorong agar pembinaan tersebut tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan bimtek. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan berkembang menjadi usaha nyata melalui pendampingan dan jejaring bersama pemerintah daerah, penyuluh, pelaku usaha, komunitas, akademisi, serta mitra lainnya.
Bagi Kementerian Kehutanan, regenerasi pelaku usaha kehutanan menjadi bagian penting dalam membangun masa depan sektor tersebut. Generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku yang mampu menciptakan nilai tambah dari potensi hutan.
Di bawah arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, pengembangan kewirausahaan kreatif kehutanan diarahkan untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.
Budidaya lebah Trigona menjadi salah satu contohnya. Ketika hutan dan vegetasi tetap terjaga, sumber pakan lebah tersedia, usaha dapat berkembang, dan masyarakat memperoleh peluang ekonomi.
Dari sinilah forestpreneur muda diharapkan tumbuh: memanfaatkan potensi hutan tanpa merusaknya, mengolahnya menjadi produk bernilai, lalu membawa produk tersebut dari desa menuju pasar yang lebih luas melalui teknologi digital. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
