Rusa di Terminal BBM Rewulu Bikin Penasaran, Kok Bisa Ada Konservasi Satwa di Tengah Kawasan BBM?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenlh.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Rusa di Terminal BBM Rewulu menjadi salah satu temuan menarik bagi 13 pelajar peserta Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi 3 “Java Overtrip” saat mengunjungi fasilitas energi di Yogyakarta, akhir pekan lalu. Di kawasan yang digunakan untuk distribusi BBM itu, terdapat penangkaran rusa yang menjadi bagian dari pengelolaan keanekaragaman hayati.
Penangkaran tersebut membuat aktivitas di Fuel Terminal Rewulu tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan dan penyaluran BBM. Kawasan operasional perusahaan juga dimanfaatkan untuk kegiatan konservasi satwa.
Program penangkaran rusa di Rewulu telah berjalan sejak 2012. Populasi rusa yang dikembangkan di lokasi tersebut kemudian tidak hanya dipertahankan di dalam kawasan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya konservasi di habitat lain.
Pada April 2026, sebanyak 14 Rusa Timor hasil penangkaran Fuel Terminal Rewulu ditranslokasikan ke Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Rusa yang dipindahkan terdiri dari 12 jantan dan dua betina.
Translokasi dilakukan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Pemindahan itu menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil penangkaran untuk mendukung populasi rusa di kawasan konservasi.
Bagi 13 pelajar KELANA, keberadaan rusa di area fasilitas distribusi BBM menjadi pengalaman lapangan yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat aktivitas operasional energi, tetapi juga menemukan praktik konservasi satwa yang berlangsung di dalam kawasan tersebut.
Di Rewulu, pengelolaan lingkungan juga menyentuh persoalan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan untuk budidaya maggot.
Maggot dari hasil budidaya kemudian dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya ikan lele. Pengelolaan ikan dilakukan melalui kolam bioflok yang memanfaatkan tampungan air hujan.
Sampah plastik juga tidak langsung dibuang. Material tersebut dicacah untuk mengurangi volumenya dan memudahkan pemanfaatan atau pengolahan pada tahap berikutnya.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, mengatakan anak muda yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan dapat menyampaikan kembali pengalaman yang mereka dapatkan.
“Kami sangat senang dengan adanya program KELANA ini, karena mereka anak muda yang memiliki jiwa endorser yang bisa menularkan kebaikan ke lingkungan sekitarnya,” ujar Taufik.
Setelah dari Fuel Terminal Rewulu, rombongan KELANA menuju Rutan Kelas IIB Bantul. Di lokasi tersebut, mereka melihat pemanfaatan sampah plastik melalui program ecofurniture.
Limbah plastik diolah menjadi furnitur yang memiliki fungsi sekaligus nilai ekonomi. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Fuel Terminal Rewulu dengan Rutan Kelas IIB Bantul dan sekaligus menjadi bagian dari pembinaan keterampilan warga binaan.
Rangkaian kunjungan kemudian ditutup dengan dialog bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Yogyakarta.
Pembahasan tidak lagi sebatas teknis pengolahan sampah. Peserta diajak melihat persoalan lingkungan di Yogyakarta dari sisi kebijakan dan kondisi ekologis masyarakat, termasuk persoalan di kawasan pesisir dan perkotaan.
Dalam diskusi itu, kritik terhadap persoalan lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari kontrol publik. Namun, kritik tersebut dinilai perlu ditopang data yang valid dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kunjungan di Yogyakarta akhirnya mempertemukan sejumlah persoalan yang saling berkaitan, mulai dari konservasi satwa di kawasan energi, pengolahan sampah, pemberdayaan warga binaan hingga pengawasan terhadap kebijakan lingkungan.
Bagi peserta KELANA, rangkaian tersebut menjadi pengalaman langsung untuk melihat bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Pengelolaan energi, sampah, konservasi dan kebijakan bertemu dalam persoalan yang sama di lapangan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
