Rabu, 30 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » JEDA » Berdarah-Darah, Arti, Makna, dan Penggunaan Kata dalam Bahasa Indonesia

Berdarah-Darah, Arti, Makna, dan Penggunaan Kata dalam Bahasa Indonesia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Berdarah-darah merupakan ungkapan yang sering digunakan untuk menggambarkan sebuah perjuangan yang tidak mudah. Seseorang bisa disebut berjuang berdarah-darah ketika ia harus mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, harta, dan berbagai pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diperjuangkan. Dalam kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia, ungkapan ini terasa semakin kuat karena jalan menuju kemerdekaan tidak ditempuh dengan mudah, melainkan melalui penderitaan, kehilangan, pengorbanan, dan pertumpahan darah.

Setiap kali bulan Agustus datang, suasana di sekitar kita biasanya ikut berubah. Bendera Merah Putih mulai terlihat di depan rumah, jalan kampung dihias, tiang-tiang bambu berdiri di pinggir jalan, dan anak-anak mulai sibuk membicarakan berbagai perlombaan. Ada yang latihan balap karung, ada yang mencoba memasukkan pensil ke dalam botol, ada yang sudah mengincar lomba makan kerupuk, dan ada pula yang mulai memikirkan strategi panjat pinang seolah-olah sedang mempersiapkan sebuah ekspedisi besar.

Memang begitulah suasana kemerdekaan. Ramai, gembira, kadang sedikit berisik, tetapi justru di situlah keseruannya. Anak-anak berlarian, orang tua ikut berkumpul, dan warga menikmati suasana Agustus dengan cara sederhana yang sudah menjadi bagian dari tradisi. Hadiah perlombaan mungkin tidak seberapa, tetapi semangat untuk mendapatkannya kadang luar biasa. Yang kalah tertawa, yang menang ikut tertawa, dan besoknya semua kembali bertemu sebagai tetangga.

Kita bisa merayakan kemerdekaan dengan cara seperti itu karena hari ini kita hidup dalam keadaan yang jauh berbeda dari masa perjuangan dahulu. Kita bisa memasang bendera di depan rumah tanpa merasa takut, anak-anak bisa bermain di jalan, warga bisa berkumpul dengan tetangga, dan berbagai kegiatan kemerdekaan dapat berlangsung dengan bebas. Semua terasa biasa karena kita sudah terbiasa menikmatinya.

Namun, kalau kita berhenti sebentar dan melihat ke belakang, keadaan seperti itu ternyata tidak datang dengan sendirinya. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum kita bisa menikmati kemerdekaan dengan cara sesederhana sekarang. Ada generasi yang pernah hidup dalam keadaan sulit, ketika menentukan nasib sendiri bukan perkara mudah dan ketika keinginan untuk merdeka harus dibayar dengan perjuangan yang tidak ringan.

Ada orang-orang yang harus meninggalkan rumah untuk berjuang. Ada keluarga yang menunggu kepulangan orang yang mereka cintai. Ada yang kehilangan harta, tenaga, dan waktu. Ada yang mengalami penderitaan dan luka. Bahkan ada yang kehilangan nyawa. Mereka memberikan apa yang mereka punya untuk sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada kepentingan diri sendiri, yaitu masa depan sebuah bangsa.

Mereka tentu tidak tahu seperti apa Indonesia puluhan tahun kemudian. Mereka tidak tahu bahwa suatu hari anak-anak bisa merayakan kemerdekaan dengan lomba balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, atau berbagai permainan lainnya. Mereka juga tidak tahu bahwa Merah Putih kelak akan berkibar di depan begitu banyak rumah tanpa rasa takut. Yang mereka tahu adalah bahwa perjuangan harus dilakukan, meskipun hasil akhirnya belum tentu bisa mereka nikmati sendiri.

Kalau kita menggunakan bahasa sehari-hari, perjuangan seperti itu bisa disebut berdarah-darah. Bukan hanya karena ada darah yang benar-benar tumpah dalam berbagai peristiwa perjuangan, tetapi juga karena begitu banyak tenaga, pikiran, waktu, harta, keberanian, dan pengorbanan yang dikeluarkan untuk mencapai kemerdekaan.

Apa Arti Berdarah-Darah?

Kita tentu sudah sering mendengar kata berdarah-darah dalam berbagai percakapan. Ada orang yang mengatakan, “Usaha ini saya bangun dengan berdarah-darah.” Ada pula yang berkata, “Dia mendapatkan keberhasilan itu melalui perjuangan yang berdarah-darah.” Dalam konteks lain, kita bisa mendengar kalimat, “Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan yang berdarah-darah.”

Kalau mendengar kalimat tersebut, kita tidak selalu harus membayangkan darah dalam arti sebenarnya. Dalam penggunaan kiasan, berdarah-darah digunakan untuk menggambarkan perjuangan yang sangat berat, penuh kesulitan, penderitaan, dan pengorbanan besar. Ada sesuatu yang dikerahkan secara sungguh-sungguh dan ada harga yang harus dibayar sebelum hasil akhirnya diperoleh.

Oleh sebab itu, kata berdarah-darah terasa lebih kuat daripada hanya mengatakan “berusaha keras”. Ketika seseorang disebut berusaha keras, kita mengetahui ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun ketika dikatakan ia berjuang berdarah-darah, ada kesan bahwa perjuangannya jauh lebih berat. Tenaga dikuras, pikiran dicurahkan, waktu dikorbankan, harta dikeluarkan, kesabaran diuji, dan berbagai kesulitan harus dilewati.

Dalam keadaan tertentu, pengorbanan itu bisa menyangkut keselamatan dan nyawa. Itulah sebabnya ungkapan ini memiliki rasa yang lebih dalam ketika digunakan untuk menggambarkan sebuah perjuangan.

Mengapa Menggunakan Kata Darah?

Kalau dipikir-pikir, bahasa Indonesia memang sering menggunakan kata yang dekat dengan kehidupan manusia untuk menggambarkan sesuatu yang lebih luas. Darah secara harfiah berkaitan dengan tubuh. Ketika seseorang terluka dan darah keluar, kita langsung memahami bahwa ada rasa sakit dan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Oleh sebab itu, kata darah memiliki daya gambaran yang kuat. Ketika digunakan dalam bentuk berdarah-darah, kata tersebut dapat memberikan kesan tentang keadaan yang berat, penuh penderitaan, luka, atau perjuangan yang tidak ringan. Dalam pemakaian kiasan, yang ditekankan bukan semata-mata darah yang terlihat, melainkan besarnya pengorbanan yang harus diberikan.

Misalnya seseorang mengatakan, “Ia membangun usahanya dengan berdarah-darah.” Kita tentu tidak perlu membayangkan pemilik usaha itu datang ke tempat kerjanya dengan tubuh penuh luka.

Maksudnya, usaha tersebut dibangun melalui proses yang sangat berat. Modal dikeluarkan, waktu diberikan, pikiran dicurahkan, kegagalan dihadapi, kerugian ditanggung, dan ketika usaha jatuh, ia berusaha bangkit kembali.

Begitu pula ketika seseorang mengatakan, “Saya menyelesaikan pendidikan ini dengan perjuangan berdarah-darah.” Kalimat itu tidak berarti ia mengerjakan tugas atau skripsi sambil terluka. Yang dimaksud adalah prosesnya penuh kesulitan, membutuhkan waktu, tenaga, biaya, kesabaran, dan kemauan untuk terus berjalan meskipun berkali-kali menghadapi masalah.

Berdarah-Darah Seperti Mendaki dengan Beban

Untuk memahami ungkapan ini dengan lebih mudah, kita bisa membayangkannya seperti seseorang yang sedang mendaki gunung sambil membawa beban berat di punggungnya. Jalan yang ditempuh tidak selalu rata. Ada tanjakan, bebatuan, jalan licin, rasa lelah, dan saat-saat ketika kaki terasa ingin berhenti. Dari kejauhan, orang yang melihat mungkin hanya berpikir bahwa pendaki itu tinggal terus berjalan sampai ke atas.

Padahal orang yang berada di jalur pendakian tahu ceritanya. Ia tahu berapa kali harus berhenti untuk mengatur napas, berapa banyak tenaga yang dikeluarkan, seberapa berat beban yang dibawa, dan berapa kali muncul keinginan untuk menyerah. Ketika akhirnya sampai di puncak, orang lain hanya melihat hasil akhirnya: ia sudah berhasil mencapai tujuan.

Begitulah kira-kira perumpamaan untuk perjuangan yang berdarah-darah. Yang terlihat oleh orang lain biasanya hanya keberhasilan, sedangkan proses panjang yang ada di belakangnya sering tidak terlihat. Padahal, hasil yang diperoleh bisa saja merupakan buah dari bertahun-tahun mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, uang, kenyamanan, bahkan kesempatan lain.

Berdarah-Darah Tidak Selalu Berarti Ada Darah

Inilah bagian penting dalam memahami penggunaan kata tersebut. Berdarah-darah tidak selalu digunakan dalam arti harfiah. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini sering digunakan secara kiasan untuk memberikan penekanan bahwa sebuah proses berlangsung sangat berat dan membutuhkan pengorbanan besar.

Seseorang yang berkata, “Rumah ini kami bangun dengan perjuangan berdarah-darah,” misalnya, tidak sedang mengatakan bahwa rumah tersebut dibangun dengan darah. Maksudnya, rumah itu diperoleh setelah keluarga tersebut bekerja bertahun-tahun, menabung, mengurangi kebutuhan yang tidak penting, menahan keinginan, dan mengerahkan kemampuan yang mereka miliki.

Begitu juga seseorang yang berkata, “Bisnis ini saya bangun berdarah-darah.” Artinya, usaha tersebut tidak langsung besar dan berhasil. Mungkin ia memulainya dari modal kecil, mengalami kerugian, kehilangan pelanggan, harus bekerja lebih lama, bahkan sempat ingin menyerah. Tetapi ia terus mencoba sampai akhirnya usahanya berkembang.

Dalam keadaan seperti itu, kata berdarah-darah berfungsi untuk memperkuat gambaran tentang perjuangan. Ia membuat pembaca atau pendengar tidak hanya mengetahui bahwa prosesnya sulit, tetapi juga membayangkan bahwa ada pengorbanan besar yang berada di balik keberhasilan tersebut.

Dari Usaha dan Pendidikan sampai Kehidupan Sehari-hari

Ungkapan berdarah-darah sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada orang tua yang bertahun-tahun bekerja untuk membiayai pendidikan anak. Ada anak muda yang merintis usaha dari nol. Ada seseorang yang terus belajar meskipun berkali-kali gagal. Ada petani yang bekerja sejak pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pekerja yang mengumpulkan sedikit demi sedikit demi memiliki rumah.

Dari luar, hasil akhirnya sering terlihat sederhana. Orang hanya melihat seseorang sudah sukses, sudah lulus, sudah punya rumah, atau sudah memiliki usaha yang berkembang. Yang tidak selalu terlihat adalah apa yang terjadi sebelum semua itu tercapai. Ada waktu yang dikorbankan, uang yang harus dihemat, keinginan yang ditunda, kegagalan yang harus diterima, dan rasa ingin menyerah yang harus dilawan.

Karena itu, ketika kita menyebut sebuah keberhasilan diperoleh dengan perjuangan berdarah-darah, kita sebenarnya sedang mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut mempunyai cerita panjang. Ada harga yang pernah dibayar sebelum hasil itu akhirnya bisa dinikmati.

Mengapa Tepat untuk Menggambarkan Perjuangan Kemerdekaan?

Kalau ungkapan ini kita hubungkan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, maknanya menjadi semakin kuat. Para pejuang tidak hanya mengerahkan tenaga. Mereka juga menggunakan pikiran, keberanian, waktu, harta, dan kemampuan yang mereka miliki. Banyak keluarga harus menghadapi kehilangan dan ketidakpastian. Dalam berbagai peristiwa perjuangan, ada pula luka, penderitaan, dan pertumpahan darah yang benar-benar terjadi.

Karena itu, ketika kita mengatakan bahwa perjuangan kemerdekaan berlangsung berdarah-darah, ungkapan tersebut memiliki dua lapisan rasa. Di satu sisi, ada makna kiasan tentang perjuangan yang sangat berat dan penuh pengorbanan. Di sisi lain, ada kenyataan sejarah bahwa perjuangan bangsa Indonesia memang diwarnai pertempuran, luka, penderitaan, dan korban jiwa.

Itulah yang membuat kata tersebut terasa begitu kuat ketika ditempatkan dalam cerita kemerdekaan. Ia bukan hanya sebuah kata yang terdengar dramatis, tetapi dapat menjadi jembatan untuk mengingat manusia-manusia yang berada di balik sejarah.

Ada orang yang meninggalkan rumah. Ada keluarga yang menunggu. Ada orang yang kehilangan orang terdekat. Ada yang tidak sempat menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Mereka berjuang untuk masa depan yang mungkin belum sempat mereka lihat.

Kemerdekaan yang Sekarang Terasa Biasa

Karena kita lahir dan tumbuh dalam keadaan merdeka, kemerdekaan mungkin terasa seperti sesuatu yang biasa. Setiap tahun bulan Agustus datang, bendera dipasang, berbagai kegiatan dilakukan, lalu kehidupan berjalan seperti biasa setelah semuanya selesai.

Padahal bagi generasi sebelumnya, kemerdekaan bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Ada masa ketika kebebasan harus diperjuangkan dengan cara yang sangat berat. Ada orang-orang yang harus mengorbankan kenyamanan, harta, waktu, keluarga, bahkan keselamatan diri.

Kita hari ini hanya melihat hasil akhirnya. Kita bisa berdiri di depan rumah sambil memasang bendera. Kita bisa berkumpul bersama tetangga. Anak-anak bisa bermain dan tertawa. Orang tua bisa menikmati acara kampung. Kita bisa merayakan kemerdekaan tanpa harus memikirkan apakah esok hari masih bisa hidup dengan tenang.

Semua itu adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Dan mungkin justru karena sudah terbiasa, kita perlu sesekali mengingat perjalanan panjang yang membuat semua itu bisa terjadi.

Berdarah-Darah dan Harga Sebuah Perjuangan

Kata berdarah-darah mengajarkan satu hal sederhana, jangan hanya melihat hasil, tetapi ingat juga perjuangan di balik hasil tersebut.

Sebuah usaha yang sekarang terlihat berhasil mungkin pernah melewati masa ketika pemiliknya hampir menyerah. Seseorang yang sekarang berhasil menyelesaikan pendidikan mungkin pernah mengalami banyak kegagalan. Sebuah keluarga yang sekarang memiliki rumah mungkin pernah bertahun-tahun menabung dan menahan berbagai keinginan.

Begitu juga dengan sebuah bangsa.

Hari ini kita melihat Indonesia sebagai negara yang merdeka. Kita melihat bendera berkibar, mendengar lagu kebangsaan, dan merayakan HUT RI dengan berbagai kegiatan. Namun di balik semua itu ada perjalanan panjang yang pernah ditempuh oleh generasi sebelumnya.

Mereka memberikan apa yang mereka punya. Tenaga, pikiran, waktu, harta, keberanian, dan bagi sebagian dari mereka, nyawa.

Maka ketika bulan Agustus datang, kita tentu boleh merayakannya dengan gembira. Ikut lomba, memasang bendera, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati berbagai kegiatan bersama masyarakat adalah bagian dari cara kita mensyukuri kemerdekaan.

Namun ketika melihat Merah Putih berkibar, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan mengingat kemerdekaan tidak datang melalui jalan yang sederhana. Ada perjuangan panjang di belakangnya, ada pengorbanan yang besar, dan ada manusia-manusia yang memberikan sesuatu dari hidup mereka agar generasi setelahnya bisa menikmati kebebasan.

Di situlah kata berdarah-darah menemukan maknanya. Ia bukan cuma kata untuk menggambarkan sesuatu yang sulit. Ia membawa gambaran tentang perjuangan yang dilakukan dengan segenap kemampuan dan pengorbanan, ketika seseorang mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, harta, bahkan mempertaruhkan keselamatan demi sesuatu yang dianggap lebih besar.

Kemerdekaan yang hari ini kita rayakan dengan tawa pernah diperjuangkan oleh orang-orang dalam keadaan yang jauh dari mudah. Mereka mungkin tidak sempat menikmati semua yang kita nikmati sekarang, tetapi perjuangan mereka menjadi bagian dari jalan yang membawa kita sampai ke sini.

Oleh karena itu, kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang pantas dirayakan. Kemerdekaan juga pantas dihargai, karena di balik kebebasan yang terasa biasa hari ini, pernah ada perjuangan yang luar biasa. (***)

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan tulisan edukatif mengenai makna dan penggunaan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Penjelasan mengenai “berdarah-darah” disajikan dengan pendekatan naratif dan penggunaan kiasan dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami, tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta dikaitkan dengan konteks perjuangan dan perayaan kemerdekaan Indonesia.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Ingatkan Kepala Daerah Jangan Pelit Anggaran

    Gubernur Ingatkan Kepala Daerah Jangan Pelit Anggaran

    • calendar_month Jumat, 22 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 925
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Gubernur Sumsel H. Herman Deru resmi dilantik menjadi Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Kamabida) Gerakan Pramuka Sumsel masa bhakti 2019-2022, Jumat (22/3/2019) di Griya Agung. Pelantikan tersebut dilakukan langsung oleh Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka Komjen Pol (Purn) Budi Waseso (Buwas). Sebagai Ketua Mabida baru, Herman Deru memastikan gerakan Pramuka di Sumsel akan […]

  • Festival Seni Palembang

    Festival Seni Palembang

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 944
    • 0Komentar

    WAKIL Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda sangat mengapresiasi kegiatan yang mengemukan adat dan istiadat Palembang tersebut yang melibat 18 kecamatan yang ada di kota tertua di Indonesia ini. “Kita berharap dengan festival lomba ini bukan dikenal oleh orang tua saja, tetapi mengajak para pemuda untuk mengetahui kebudayaan di Kota Palembang dan juga bisa membawa bibit […]

  • Wujudkan Satu Data Indonesia, Sekda Muba : Semua Bisa Direalisasikan, Asalkan Ada Komitmen Bersama, Ini Yang Dilakukan Muba

    Wujudkan Satu Data Indonesia, Sekda Muba : Semua Bisa Direalisasikan, Asalkan Ada Komitmen Bersama, Ini Yang Dilakukan Muba

    • calendar_month Rabu, 1 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 884
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin melalui Dinas Kominfo menggelar Focus Group Discussion (FGD) Konsep Satu Data Indonesia di Daerah Tingkat Kabupaten Muba Tahun 2021, Rabu (1/9/2021) di Ruang Rapat Serasan Sekate. Bupati Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA melalui Sekretaris Daerah Muba Drs H Apriyadi MSi mengatakan, berdasarkan arahan Presiden Republik […]

  • FIFA Matchday Timnas Lawan Palestina Sebut Ketum PSSI, Catat Tanggalnya..

    FIFA Matchday Timnas Lawan Palestina Sebut Ketum PSSI, Catat Tanggalnya..

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.606
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Ketua Umum PSSI Erick Thohir sudah komunikasi dengan Presiden Federasi Sepakbola Palestina dan mereka sudah setuju untuk laga FIFA matchday  2023. Seperti janji Ketua Umum PSSI Erick Thohir ke depan, PSSI harus bisa merancang dengan negara mana saat digelar FIFA matchday. Sebab, selama ini jadwal FIFA matchday baru ditentukan beberapa hari jelang pertandingan. ‘’Presiden Federasi […]

  • Sah Jadi Perda, Apa Itu ?

    Sah Jadi Perda, Apa Itu ?

    • calendar_month Selasa, 18 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.120
    • 0Komentar

    Sekayu – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Prakarsa DPRD Muba tentang Pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah Kabupaten Musi Banyuasin serta Raperda tentang penyelenggaraan dan Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang akhirnya disetujui ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. Ditandai dengan Penandatanganan Keputusan Bersama antara DPRD Muba dengan Bupati Muba Pada Rapat Paripurna Masa Persidangan III Rapat ke-32 bertempat di Ruang […]

  • Rakor Melalui Vicon Penanggulangan Karhutlabun Bersama FKPD

    Rakor Melalui Vicon Penanggulangan Karhutlabun Bersama FKPD

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 848
    • 0Komentar

    WAKIL Bupati Muba Beni Hernedi mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) melalui Video Conference terkait Kesiapan Penanggulangan Kebakaran Hutan, Kebun dan Lahan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Sumsel. Rakor turut diikuti bersama unsur Forkopimda terdiri dari Kapolres Muba AKBP Yudhi Surya Markus Pinem SIk, Dandim 0401 Muba Letkol Arm M Saufudin Khoiruzzamani SSos, Kajari Muba Suyanto […]

expand_less
WordPress Archive Vibecast - Podcast Studio Elementor Pro Template Kit Vibra – Music WordPress Theme for DJs, Artists and Festivals Vibranet – Broadband & Internet Service Provider Elementor Template Kit Viceversa – Minimal Photography and Portfolio WordPress Theme VicTheme Icons – WPBakery Page Builder Addon Victo – Digital MarketPlace WordPress Theme (Mobile Layouts Included) Victoria Premium Restaurant WordPress Theme Victory – Esports & Gaming Elementor Template Kit Videen – Video Editor Studio Elementor Template Kit Video Events Listener – Green Popups Add-On