AI Jangan Sampai Gantikan Proses Berpikir Mahasiswa, Wamen Nezar Patria Ingatkan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kehadiran Generative AI di lingkungan kampus mulai membawa persoalan baru, bagaimana memastikan teknologi yang semakin mampu memberikan jawaban tidak justru mengambil alih proses berpikir mahasiswa. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan perguruan tinggi agar menempatkan AI sebagai mitra pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Nezar melihat perubahan AI saat ini sudah melampaui fungsi sebagai alat untuk membantu produktivitas. Teknologi ini mulai memengaruhi cara manusia berpikir, belajar, hingga mengambil keputusan. Oleh karena itu, penggunaan AI di perguruan tinggi tidak cukup hanya dilihat dari seberapa efektif teknologi tersebut membantu mahasiswa menyelesaikan pekerjaan akademik.
“Generative AI yang sekarang tidak lagi hanyar alat bantu produktivitas kita, tapi juga telah menjadi infrastruktur kognitif yang membentuk cara manusia berpikir, belajar, dan mengambil keputusan,” ujar Nezar dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), yang diikuti secara daring dari Jakarta Pusat, kemarin.
Menurut dia, perubahan membuat perguruan tinggi perlu meninjau kembali cara pembelajaran dirancang. Dosen tidak hanya dituntut memahami teknologi AI, tetapi juga memastikan penggunaannya tetap mendorong mahasiswa untuk menganalisis, mempertanyakan, dan membangun pemikiran sendiri.
Nezar mendorong Generative AI ditempatkan sebagai “mitra dialektis” dalam proses pembelajaran.
Dengan pendekatan ini, AI dapat digunakan untuk memancing diskusi, menguji argumen, atau membantu mahasiswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang tanpa mengambil alih keseluruhan proses berpikir.
Disamping itu, kemampuan menggunakan AI juga perlu dibarengi pemahaman mengenai batas dan risikonya.
Mahasiswa perlu mengetahui bagaimana AI bekerja, mengenali kemungkinan bias, serta memahami bahwa keluaran yang dihasilkan teknologi tersebut tidak selalu bebas dari kesalahan.
“Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” kata Nezar.
Penguatan literasi AI, lanjut Nezar, juga tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan teknis. Pemahaman terhadap teknologi perlu dikaitkan dengan nilai, wawasan kebangsaan, serta kesadaran mengenai kedaulatan digital Indonesia.
“Kita harus pastikan mahasiswa memahami cara kerja AI, bias dan keterbatasan AI, sekaligus menautkannya dengan wawasan kebangsaan dan kesadaran akan kedaulatan digital bangsa,” ujarnya.
Untuk menghadapi perkembangan tersebut, Nezar mengajak dosen pengampu MKWK melakukan tiga langkah strategis, yakni melakukan reorientasi pedagogi, memperkuat literasi AI berbasis nilai, serta membangun kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dinilai penting agar kampus tidak hanya menjadi pengguna teknologi dalam proses transformasi digital. Perguruan tinggi juga diharapkan mengambil bagian dalam membentuk kebijakan dan etika penggunaan AI di Indonesia.
Bagi Nezar, ukuran kedaulatan digital tidak berhenti pada kemampuan suatu negara mengembangkan atau menggunakan teknologi paling canggih.
Ketangguhan masyarakat dalam memahami, mengkritisi, dan menghadapi perubahan teknologi juga menjadi bagian penting dari kedaulatan tersebut. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
