Features

Di Palembang, Sampah Bisa Jadi Bayar SPP

PAGI di Kampung Al-Qur’an, Kecamatan Kalidoni, Palembang, terlihat seperti hari sekolah biasa.

Anak-anak datang membawa tas. Ada yang bercanda di pinggir jalan. Ada pula yang masih sibuk merapikan seragamnya. Tapi beberapa di antara mereka membawa barang tambahan: karung kecil berisi botol plastik, kardus bekas, gelas air mineral, hingga kaleng minuman.

Di banyak tempat, benda-benda itu mungkin sudah berakhir di tong sampah. Di sini, sampah justru punya masa depan.

Karena di Kampung Al-Qur’an, sampah bisa berubah menjadi tabungan untuk membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sekolah.

Program unik itu dijalankan oleh Bank Sampah Indonesia Legacy, sebuah bank sampah yang pelan-pelan mengubah cara warga memandang sampah. Bukan lagi sesuatu yang harus buru-buru dibuang atau dibakar, melainkan sesuatu yang bisa bernilai ekonomi jika dikelola dengan benar.

Inovasi itulah yang membuat Wali Kota Palembang Ratu Dewa memberikan apresiasi khusus saat menyerahkan bantuan sarana dan prasarana pengelolaan sampah kepada 25 bank sampah paling aktif di Kota Palembang, Rabu (20/5/2026).

Penyerahan bantuan dipusatkan di Jalan Lebak Jaya 3 Kalidoni.

Di tengah acara yang dipenuhi deretan tempat sampah warna-warni, mesin pencacah plastik, hingga motor sampah, perhatian justru tertarik pada satu gagasan sederhana: anak-anak yang belajar bahwa sampah ternyata bisa membantu biaya pendidikan mereka.

“Ini adalah langkah edukatif yang luar biasa dalam membangun kepedulian lingkungan sejak usia dini. Anak-anak tidak hanya belajar pendidikan formal dan agama, tetapi juga diajarkan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik,” ujar Ratu Dewa.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di kota besar seperti Palembang, persoalan sampah memang sudah bukan lagi urusan sepele.

Setiap hari, volume sampah terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat. Jika tak dikelola serius, dampaknya bisa ke mana-mana: saluran air tersumbat, banjir datang, lingkungan kumuh, hingga gangguan kesehatan.

Karena itulah Pemerintah Kota Palembang menjalankan program “1 Kelurahan 1 Bank Sampah” sebagai salah satu solusi dari hulu.

Saat ini tercatat ada 98 bank sampah tersebar di 18 kecamatan di Palembang. Dari jumlah itu, 25 bank sampah paling aktif mendapat bantuan fasilitas pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Bantuannya cukup lengkap. Mulai dari motor sampah, tempat sampah berbagai ukuran, kotak sampah terpilah, komposter, timbangan, hingga mesin pencacah sampah dan plastik.

Namun sebenarnya, yang sedang dibangun bukan hanya fasilitas.

Melainkan kebiasaan baru.

Sebab mengurus sampah ternyata bukan pekerjaan petugas kebersihan semata. Kota bersih juga lahir dari kebiasaan kecil warga memilah sampah, tidak membuang sembarangan, dan mulai memahami bahwa barang bekas pun masih bisa punya nilai.

Di Kampung Al-Qur’an, pelajaran itu diajarkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak.

Mereka belajar bahwa botol plastik tidak selalu harus berakhir di selokan. Kardus bekas tidak harus menumpuk di dapur. Dan sampah, jika dikelola dengan benar, ternyata bisa membantu meringankan biaya sekolah.

Mungkin itu sebabnya bank sampah ini terasa berbeda.

Karena yang ditabung bukan cuma sampah.

Tetapi juga kesadaran untuk menjaga masa depan kota. (***)

To Top