Rabu, 23 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Saat Sekolah Favorit Masih Jadi Rebutan, Bisakah SPMB Benar-Benar Bersih?

Saat Sekolah Favorit Masih Jadi Rebutan, Bisakah SPMB Benar-Benar Bersih?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SETIAP tahun ajaran baru datang, suasana yang sama kembali terasa. Grup WhatsApp orang tua mulai ramai. Jalur zonasi kembali diperdebatkan. Alamat rumah mendadak jadi hal penting. Sekolah favorit kembali jadi rebutan.

Lantas, pemerintah datang membawa janji yang juga hampir selalu sama, yaitu transparan, objektif, akuntabel, tanpa pungli, tanpa titipan.

Di Palembang belum lama ini komitmen itu kembali ditegaskan melalui Deklarasi Bersama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027. Pemerintah Kota Palembang meminta seluruh pihak menjaga integritas dan menolak praktik titipan maupun pungutan liar dalam proses penerimaan siswa baru.

Komitmen seperti ini tentu penting bahkan memang harus terus diingatkan, pasalnya pendidikan adalah salah satu tempat terakhir yang seharusnya tetap dijaga rasa keadilannya.

Namun pertanyaannya bukan hanya ada atau tidak ada deklarasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar merasa tenang dan percaya?

Pasalnya dibeberapa  daerah, persoalan penerimaan siswa baru bukan lagi hanya urusan administrasi sekolah. Ia sudah berubah menjadi kecemasan sosial tahunan.

Orang tua takut anaknya tidak masuk sekolah yang dianggap baik. Siswa cemas kalah bersaing. Sebagian masyarakat mulai merasa bahwa sekolah tertentu terlalu sulit dijangkau.

Oleh karena itulah kepercayaan publik menjadi jauh lebih penting daripada sekadar spanduk deklarasi.

Sistem yang baik bukan hanya harus bersih, tetapi juga harus terlihat bersih di mata masyarakat.

Masalah terbesar pendidikan kita sebenarnya bukan semata soal penerimaan murid baru. Akar persoalannya juga ada pada kesenjangan kualitas sekolah.

Selama masih ada istilah “sekolah favorit” dan “sekolah biasa”, selama itu pula persaingan akan terus panas.

Orang tua tentu ingin anaknya masuk ke sekolah yang dianggap terbaik. Itu naluri yang sangat wajar. Tidak ada yang salah dengan harapan tersebut.

Tetapi jika kualitas pendidikan antar sekolah terlalu jauh berbeda, maka tekanan terhadap sistem penerimaan akan terus muncul setiap tahun.

Oleh sebab itu memperbaiki SPMB tidak cukup hanya dengan pengawasan dan kanal pengaduan. Pemerintah juga perlu mempersempit jarak kualitas antar sekolah.

Saya pernah membaca penjelasan tentang pendidikan di Finlandia yang membahas bagaimana pemerintah di sana berupaya memperkecil jarak kualitas antar sekolah. Akibatnya, siswa umumnya dapat bersekolah di dekat tempat tinggalnya dengan standar pendidikan yang relatif merata. Karena itu, budaya berebut sekolah favorit di negara tersebut tidak terlalu dominan seperti yang sering terjadi di banyak tempat lain.

Selain Finlandia, saya juga sempat membaca beberapa pembahasan tentang pendidikan di Singapura, termasuk dari situs Ministry of Education Singapore. Mereka cukup menekankan pentingnya transparansi dalam proses penerimaan siswa agar masyarakat memahami mekanisme seleksi dan tidak mudah dipenuhi prasangka.

Tentu Indonesia memiliki tantangan yang berbeda. Jumlah sekolah besar, kondisi daerah beragam, dan pemerataan fasilitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah panjang.

Tetapi semangat membangun rasa adil dalam pendidikan tetap bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana.

Misalnya memastikan seluruh proses penerimaan mudah dipantau masyarakat. Membuka jalur pengaduan yang benar-benar responsif. Mengumumkan hasil seleksi secara terbuka dan mudah dipahami publik. Memberikan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran.

Yang tidak kalah penting, pejabat dan elite daerah juga harus memberi contoh dengan tidak melakukan intervensi apa pun terhadap proses penerimaan siswa.

Karena satu perlakuan istimewa saja bisa merusak kepercayaan banyak orang sementara masyarakat juga perlu mulai mengubah cara pandang terhadap sekolah.

Warisan masa ke masa

Sekolah yang baik tidak selalu harus sekolah yang paling ramai diburu. Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan gedung besar, pagar tinggi, atau status favorit yang diwariskan dari masa ke masa.

Kadang masalah terbesar pendidikan kita justru muncul ketika semua orang berdesakan menuju titik yang sama, sementara sekolah lain terus dipandang sebelah mata.

Padahal jika pemerataan kualitas pendidikan berjalan baik, tekanan terhadap SPMB perlahan juga akan ikut berkurang. Deklarasi yang dilakukan Pemerintah Kota Palembang patut diapresiasi sebagai langkah awal menjaga integritas penerimaan siswa baru. Namun pekerjaan sesungguhnya bukan berhenti pada deklarasi.

Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi di lapangan.

Sebab masyarakat hari ini tidak hanya ingin mendengar janji transparansi. Mereka ingin melihat sistem yang benar-benar memberi rasa adil bagi semua anak.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal siapa yang berhasil masuk sekolah favorit. Tetapi tentang apakah setiap anak benar-benar mendapat kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi tanpa harus kalah oleh akses, koneksi, atau rasa curiga terhadap sistem itu sendiri. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Palembang Rasakan Kembali Suara Balai Kota

    Warga Palembang Rasakan Kembali Suara Balai Kota

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    SEJAK sirine dan lampu skylight di Gedung Kantor Wali Kota kembali aktif pada Senin (16/2), warga Palembang mulai merasakan ritme baru kota. Bunyi sirine yang familiar menandai waktu istirahat dan pulang kerja, sekaligus memberikan pengalaman audio-visual yang memadukan tradisi dan kehidupan modern. Sirine berbunyi setiap Senin hingga Kamis pukul 12.00 WIB, dan Jumat pukul 11.30 […]

  • Laskar Ranggonang Cari Lawan Sparing

    Laskar Ranggonang Cari Lawan Sparing

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.064
    • 0Komentar

    Tim sepakbola kebanggaan masyarakat Musi Banyuasin, Muba Babel United terus menggeber persiapan jelang bergulirnya kompetisi Liga 2 Indonesia 17 Oktober mendatang. Selain latihan rutin anak asuhan pelatih Bambang Nurdiansyah ini juga mengagendakan serangkaian uji tanding dengan tim yang sepadan. Tak tanggung pelatih yang akrab di sapa Banur itu menginginkan sedikitnya empat kali uji coba sebelum […]

  • Masjid Negara IKN Jadi Pusat Fondasi Spiritual Kota Baru

    Masjid Negara IKN Jadi Pusat Fondasi Spiritual Kota Baru

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 105
    • 0Komentar

    PEMERINTAH memulai pembangunan fondasi spiritual ibu kota baru melalui Masjid Negara di Ibu Kota Nusantara (IKN) kemarin. Masjid ini kini menjadi pusat pembinaan dan literasi keagamaan bagi pondok pesantren, musala, dan masjid di sekitar ibu kota. Tim pengelola masjid menyalurkan mushaf Al-Qur’an langsung ke lembaga pendidikan dan fasilitas ibadah di sekitar kawasan inti IKN. Mereka […]

  • SerU Sriwijaya 2020 Diharapkan Motivasi UMKM Sumsel 

    SerU Sriwijaya 2020 Diharapkan Motivasi UMKM Sumsel 

    • calendar_month Jumat, 20 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.758
    • 0Komentar

    SEMARAK UMKM (SerU) Sriwijaya 2020 di Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Sumsel diharapkan memotivasi UMKM di saat pandemi agar lebih kreatif dan inovatif sehingga dapat bersaing di tengah era globalisasi perekonomian bahkan menjadi kekuatan ekonomi baru di Sumsel. “Hal ini penting untuk menyemangati UMKM, karena semangat mereka ini adalah modal utama untuk kita bisa […]

  • Sebatang rokok teman perlipur lara di malam hari…

    Sebatang rokok teman perlipur lara di malam hari…

    • calendar_month Kamis, 29 Feb 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.740
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Rabu malam yang sunyi pekan ini, jarum jam menunjuk angka 22.30 WIB, ku duduk sendiri di kursi teras rumah, ke dua mata ku menyorot ke arah rumput-rumput yang diterangi lampu jalan.Sekali-kali kendaraan roda dua, empat dan orang melintas di jalan depan rumah -Ku.Malam itu semakin sunyi ketika sebagian tetangga rumah mematikan lampu ruang tamunya. […]

  • “Cabai Rawit, Rumah Impian & Sekda Menyimak Tak Berkedip, Saat Sumsel Siap Bangun Asa  dari Tanah Kosong &Angka Inflasi”

    “Cabai Rawit, Rumah Impian & Sekda Menyimak Tak Berkedip, Saat Sumsel Siap Bangun Asa  dari Tanah Kosong &Angka Inflasi”

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 599
    • 0Komentar

    DI sebuah ruangan canggih bernama Sumsel Command Center,  konon katanya mampu memantau segala hal kecuali status mantan, Pak Sekda Edward Candra duduk menyimak rapat daring nasional dengan khidmat. Bukan rapat biasa, ini adalah Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Evaluasi Dukungan Program 3 Juta Rumah, sebuah judul rapat yang panjangnya seperti antrian minyak goreng saat pandemi. […]

expand_less
WordPress Archive Etude — Creative Agency & Portfolio WordPress Theme Eunice – Photography Portfolio WordPress Theme Eunoia – Tech Company Digital Service Elementor Template Kit Eureka – Online Learning Elementor Template Kit EuroSafe – GPSR Directive Compatibility for WooCommerce Eva – Fashion WooCommerce Theme Evalo – Minimal SaaS Startup & Agency WordPress Theme Evana – Responsive WooCommerce Theme Evania – Yoga Studio Elementor Template Kit Evelix – Wedding Agency WordPress Theme