Senin, 19 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Obyek Wisata » Kampung Wisata Palembang, Asli Budaya atau Settingan?

Kampung Wisata Palembang, Asli Budaya atau Settingan?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
  • visibility 82
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PAGI belum lama ini, suasana ruang Rapat Bappeda Litbang Palembang terasa berbeda, para camat datang membawa catatan, usulan, juga harapan. Di meja depan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Aprizal Hasyim, memimpin pembahasan persiapan HUT Kota Palembang ke-1343.

Topiknya terdengar sederhana, lomba kampung wisata.

Namun agenda itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Palembang sebenarnya sedang mencari apa? Kampung wisata yang benar-benar hidup, atau hanya kampung yang pandai bersolek ketika lomba datang?

Pertanyaan itu penting, pasalnya hari ituhampir semua daerah berlomba membuat destinasi wisata. Semua ingin terlihat kreatif.

Semua ingin viral.

Semua ingin masuk media sosial.

Tapi tidak semuanya lahir dari akar yang sama.

Ada kampung yang tumbuh karena masyarakatnya memang mencintai budaya dan lingkungannya.

Ada pula kampung yang berubah mendadak hanya karena mendengar kabar juri akan datang minggu depan.

Dan biasanya, perbedaannya mudah terasa.

Kampung yang dibangun dari kesadaran warga punya denyut kehidupan yang alami.

Yang jelas..ya memang  tidak kaku.

Tidak dibuat-buat.

Warganya bergerak karena rasa memiliki, bukan hanya mengejar penilaian.

Misalnya contoh, ada seorang ibu-ibu yang sejak lama membuat kue tradisional karena memang itu warisan keluarga yang mereka banggakan. Di dinding gang sempit, ada mural yang dilukis anak muda kampung karena mereka mencintai seni, bukan karena proyek dadakan. Bahkan naturalnya misalnya lagi di tepian sungai, ada warga yang rutin membersihkan lingkungan tanpa menunggu instruksi.

Semua tumbuh pelan-pelan.

Seperti akar pohon yang diam-diam menguat di bawah tanah.

Dan justru inilah bakal menariknya, dari proses panjang itulah kampung wisata sejati lahir.

Bukan dari cat yang baru kering semalam.

Bukan dari gapura yang mendadak dicat warna-warni.

Bukan pula dari taman instan yang muncul tiga hari sebelum penilaian.

Karena kampung wisata bukan panggung sandiwara.

Kampung wisata  adalah kehidupan sehari-hari yang sudah hidup jauh sebelum lomba diumumkan.

Itulah sebabnya pernyataan Aprizal terasa cukup penting ketika ia menegaskan  kampung wisata tidak boleh dibuat secara dadakan.

Pemerintah Kota Palembang ingin kampung yang memang sudah memiliki potensi budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakat yang aktif.

Apalagi kita terlalu sering melihat budaya hanya muncul ketika ada event.

Lorong tiba-tiba bersih.

Tanaman mendadak tertata.

Warga mendadak kompak.

Setelah acara selesai, semuanya perlahan kembali seperti biasa.

Budaya akhirnya diperlakukan seperti dekorasi panggung. Dipasang saat acara dimulai, lalu dilepas ketika lampu padam.

Padahal budaya tidak tumbuh dalam semalam.

Budaya lahir dari kebiasaan yang dijaga bertahun-tahun.

Dan sesuatu yang dirintis lama selalu punya rasa berbeda.

Ibarat warung tua di sudut kota yang tetap ramai meski tanpa papan besar dan promosi media sosial. Orang datang bukan karena tampilannya mewah, melainkan karena rasa dan cerita yang jujur.

Begitu pula kampung wisata.

Jika lahir dari hati masyarakat, suasananya terasa hangat.

Obrolan warga terdengar alami.

Punya cerita

Kuliner memiliki cerita.

Seni tumbuh tanpa dipaksa.

Bahkan lorong kecil terasa punya identitas sendiri.

Sebaliknya, kampung yang dibangun mendadak sering kali terlihat rapi, tetapi terasa kosong.

Terlalu dipoles.

Terlalu sibuk terlihat menarik.

Namun kehilangan jiwa.

Palembang sebenarnya tidak kekurangan modal untuk membangun kampung wisata yang kuat.

Kota ini memiliki sejarah panjang, budaya besar, dan karakter lokal yang khas.

Dari kampung tepian sungai hingga sentra kuliner rumahan, semuanya menyimpan cerita.

Masalahnya, masyarakat sering terlalu dekat dengan warisan itu sehingga lupa menghargainya.

Kita lebih mudah kagum pada tempat wisata luar daerah dibanding budaya yang tumbuh di lingkungan sendiri.

Padahal sesuatu yang terlihat biasa bagi warga lokal bisa menjadi pengalaman berharga bagi orang luar.

Karena itu, lomba kampung wisata seharusnya jangan hanya menjadi perlombaan mencari kampung paling cantik.

Yang lebih penting ialah membangun kesadaran masyarakat agar mencintai lingkungannya sendiri tanpa harus menunggu momen penilaian.

Sebab kampung wisata sejati tidak hidup karena trofi.

Ia hidup karena masyarakatnya bangga.

Bangga menjaga budaya.

Bangga merawat lingkungan.

Bangga mempertahankan identitas tanpa harus meniru daerah lain.

Aprizal juga menekankan pentingnya keamanan, ketertiban, kebersihan, dan kesejukan lingkungan dalam penilaian kampung wisata.

Hal ini tentunya  bukan sekadar syarat lomba, tetap harus menjadi pondasi utama, pasalnya wisata tidak akan bertahan di tempat yang semrawut.

Orang mungkin datang sekali karena penasaran. Namun mereka hanya akan kembali jika merasa nyaman.

Dan kenyamanan tidak lahir dari kerja bakti panik semalam sebelum lomba.

Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Maka dari itu sudah selayaknya juga  masyarakat memegang peran paling penting.

Pemerintah bisa membuat program, lomba, hingga festival besar. Tetapi tanpa kesadaran warga, semuanya hanya akan menjadi acara tahunan yang ramai sebentar lalu hilang.

Karena sejatinya, kampung wisata bukan soal siapa paling pandai bersolek ketika juri datang.

Melainkan siapa yang tetap hidup bahkan ketika panggung acara sudah lama dibongkar. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemendikbudristek Terus Dorong LKSN Upaya Ciptakan Siswa Berprestasi

    Kemendikbudristek Terus Dorong LKSN Upaya Ciptakan Siswa Berprestasi

    • calendar_month Minggu, 31 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 880
    • 0Komentar

    UPAYA serentak bergerak dalam menyiapkan serta mengasah talenta emas nasional terus dilakukan secara berkelanjutan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), upaya tersebut salah satunya diwujudnyatakan lewat Lomba Kompetensi Siswa Nasional (LKSN) tahun 2021 secara daring bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) […]

  • Bicara Pertanian Ada 3 Hal Ini Yang Harus Diperhatikan

    Bicara Pertanian Ada 3 Hal Ini Yang Harus Diperhatikan

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.797
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru membuka Webinar Sarasehan Data dengan tema “Peta Potensi Pangan Strategis Sumatera Selatan, mengamankan Lumbung Pangan di Masa Pandemi” diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel secara virtual di Command Center, Jumat (16/10/20). Dalam kesempatan itu HD meminta agar kepala daerah menjadikan pertanian sebagai fokus dalam mempertahankan pertumbuhan […]

  • bitcoin-ethereum

    Wow Harga Bitcoin Terus Meroket

    • calendar_month Selasa, 15 Agt 2017
    • account_circle Bono
    • visibility 1.428
    • 0Komentar

    Harga Bitcoin naik 40% di bulan Agustus, dan naik lebih dari 280% tahun ini. Untuk pertama kalinya, Harga Bitcoin pada hari Minggu kemarin, melintasi angka $ 4.000/BTC.

  • PEMIRA FKM ?, KPU Mengkerut Suasana Carut Marut

    PEMIRA FKM ?, KPU Mengkerut Suasana Carut Marut

    • calendar_month Sabtu, 26 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.757
    • 0Komentar

    DINAMIKA PEMIRA di UNSRI sering kali terjadi baik itu sebelum mendaftar, ketika proses pendaftaran, dan disaat berjalannya Pemira. Seperti yang terjadi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat terdapat sebuah masalah yang sedang diterpa PEMIRA FKM. Lantas apa masalah? Adanya usaha dari pihak KPU untuk menggagalkan salah satu dari paslon yg mendaftar. Cara penggagalan ini sudah sering terjadi […]

  • “Rempah, Cita Rasa & Cita-Cita, Saat Pelajar SMA Masak Bukan Lagi Karena Lapar”

    “Rempah, Cita Rasa & Cita-Cita, Saat Pelajar SMA Masak Bukan Lagi Karena Lapar”

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 691
    • 0Komentar

    Kompetisi Koki Muda Koepoe Koepoe Jadi Ajang Ngulek Rasa, Ngasah Bakat, dan Ngarungi Masa Depan Kuliner Indonesia COBA jika seorang anak SMA lagi ngulek sambal, bukan karena disuruh emak, tapi karena sedang mengejar gelar chef muda nasional. Inilah kenyataan baru di negeri +62, di mana kompetisi memasak “Koki Muda Koepoe Koepoe” resmi bikin dapur sekolah […]

  • Dorong anak muda terkait isu lingkungan, Toyota Indonesia kenalkan program TEY

    Dorong anak muda terkait isu lingkungan, Toyota Indonesia kenalkan program TEY

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.535
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Toyota Indonesia melalui program Toyota Eco Youth (TEY) menyambangi langsung SMA Negeri 2 Unggul Sekayu dalam rangka Genba Eco Project yaitu suatu lomba yang berfokus untuk terlibat langsung dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Kegiatan ini berlangsung di Aula SMA Negeri 2 Unggul Sekayu, Selasa (14 Januari 2025). Kegiatan ini merupakan edukasi dalam rangka meningkatkan kesadaran […]

expand_less
WordPress Archive GreenMart – Organic & Food WooCommerce WordPress Theme Greenshift Page Builder + Addons Greenside – Golf Club & Academy Elementor Template Kit GreensKeeper – Gardening & Landscaping Responsive WordPress Theme GreenTech – Green Technology Services Elementor Template Kit Greenture – Environment / Non-Profit WordPress Theme Greenville | Private School & University Education WordPress Theme GreenWay - Golf Club & Course Elementor Template Kit Greeny – Interior Elementor Template Kit Grenda – Event Planner WordPress Theme