HUBUNGAN Indonesia dan Malaysia itu kadang mirip tetangga kompleks. Dekat, sering ketemu, kadang saling ejek soal bola, tapi kalau ada masalah besar biasanya tetap saling bantu.
Nah, kali ini yang lagi “gandengan” bukan warga komplek, melainkan dua penjaga dompet negara, Bank Indonesia (BI) dan Bank Negara Malaysia (BNM).
Keduanya resmi menandatangani Nota Kesepahaman (NK) untuk memperdalam kerja sama bilateral antara dua bank sentral. Kedengarannya memang formal sekali. Bahasa yang biasa muncul di ruangan dingin penuh jas dan map tebal.
Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat biasa, kira-kira begini “Dunia lagi ribut, ekonomi gampang goyang, jadi kita jangan jalan sendiri-sendiri.”
Sederhana, tapi penting.
Sebab sekarang dunia ekonomi bukan lagi soal siapa paling kaya atau siapa paling banyak gedung pencakar langit. Yang lebih penting justru siapa paling siap menghadapi kejutan global.
Dan kejutan global sekarang datangnya macam-macam.
Kadang perang dagang.
Kadang geopolitik panas.
Kadang harga minyak naik.
Kadang nilai tukar bikin jidat berkerut seperti habis lihat cicilan belum jatuh tempo tapi saldo ATM sudah ngos-ngosan.
Di situ –lah tugas bank sentral jadi penting.
Mereka ini ibarat orang dewasa di tengah keributan.
Saat ekonomi mulai demam, mereka cari obat.
Saat pasar panik, mereka menenangkan.
Saat inflasi mulai liar seperti cabe rawit menjelang lebaran, mereka sibuk pasang rem.
Karena itu, kerja sama BI dan BNM bukan cuma acara tanda tangan lalu foto sambil senyum tiga detik.
Isi kerja samanya cukup luas.
Mulai dari kebijakan moneter, stabilitas keuangan, sistem pembayaran, digitalisasi, pengembangan sektor keuangan, sampai pertukaran informasi dan pengembangan kapasitas.
Ibaratnya seperti dua tetangga yang sepakat bukan cuma pinjam tangga, tapi juga berbagi cara supaya rumah sama-sama aman saat badai datang.
Gubernur Bank Negara Malaysia, Dato’ Abdul Rasheed Ghaffour, mengatakan kerja sama ini menegaskan kembali kemitraan panjang antara BNM dan BI.
Bahkan bukan hanya memperkuat kerja sama lama, tapi juga membuka ruang kolaborasi baru di bidang yang menjadi kepentingan bersama.
Sementara Gubernur BI Perry Warjiyo dilaman resmi bi.go.id menegaskan NK ini bukan sekadar simbolis, melainkan tonggak penting memperkuat hubungan kelembagaan dan kerja sama bilateral di tengah lanskap geopolitik global yang menantang.
Nah, bagian “geopolitik menantang” itu memang terasa sekali sekarang.
Dunia sedang gampang panas.
Kadang baru bangun pagi, berita ekonomi sudah bikin orang pengin rebahan lagi.
Kurs mata uang bergerak cepat, teknologi finansial berubah terus, sementara masyarakat maunya transaksi serba instan.
Kalau dulu orang pergi ke luar negeri sibuk tukar uang sambil menghitung receh di bandara, sekarang dunia sudah berubah.
Teknologi bergerak cepat
Era digital membuat transaksi lintas negara makin mudah. Belanja, transfer, pembayaran, semuanya ingin cepat. Orang maunya cukup buka ponsel, pencet dua kali, selesai. Tidak mau lagi ribet seperti membuka toples kerupuk yang tutupnya lebih keras dari hubungan tanpa kepastian.
Karena itu, kerja sama sistem pembayaran dan digitalisasi jadi bagian penting dalam kesepakatan BI dan BNM.
Artinya apa?
Artinya kedua negara sadar masa depan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada cara lama.
Teknologi bergerak cepat, sistem keuangan juga harus ikut lari, bukan jalan santai sambil ngopi.
Tapi dibalik semua istilah serius itu, ada pesan sederhana yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ekonomi yang stabil membuat masyarakat lebih tenang.
Harga tidak gampang melonjak. Sistem pembayaran makin mudah. Dunia usaha lebih percaya diri. Investor tidak gampang panik. Dan masyarakat kecil bisa menjalani hidup tanpa terlalu sering waswas melihat harga kebutuhan pokok naik seperti roket tahun baru.
Memang, kerja bank sentral sering tidak terlihat langsung. Tidak viral. Tidak seramai gosip artis atau drama media sosial.
Namun dampaknya terasa.
Sebab ketika ekonomi stabil, orang bisa bekerja lebih tenang. Pedagang bisa berjualan lebih nyaman. Dunia usaha bisa bergerak lebih pasti.
Dan mungkin itu yang paling penting.
Bahwa di tengah dunia yang kadang gaduh, dua negara bertetangga memilih duduk bersama, saling menguatkan, dan menjaga kawasan tetap stabil.
Karena tetangga yang baik bukan yang tiap hari datang cuma untuk pinjam garam.
Tapi yang mau ikut menjaga supaya dapur bersama tetap mengepul. (***)