Rabu, 4 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

Palembang Belajar dari Negeri yang Hidup di Bawah Laut

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 78
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HUJAN di Palembang kadang hanya turun satu jam, tetapi dampaknya bisa terasa sampai malam.

Saya sendiri mengalaminya kemarin sore, saat hendak menjemput anak kuliah, motor yang saya kendarai tiba-tiba mogok setelah menerobos genangan di kawasan Jalan Patal, Simpang Tiga Sekojo.

Air rupanya masuk hingga ke bagian busi. Hujan sebenarnya sudah reda, tetapi air masih menguasai badan jalan. Akhirnya saya memilih menepi dan berteduh di bawah teras toko bersama pengendara lain yang bernasib serupa.

Pemandangan seperti itu bukan lagi cerita asing di Palembang.

Di beberapa sudut kota, genangan bahkan seperti tamu lama yang selalu tahu jalan pulang.

Ironisnya, semua itu terjadi di kota yang sejak dulu hidup dari air.

Palembang bukan kota yang lahir jauh dari sungai. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, kota ini tumbuh di antara rawa, anak sungai, dan aliran Musi yang menjadi urat nadi perdagangan. Orang-orang tua dahulu membangun rumah panggung bukan cuma tradisi, melainkan cara membaca alam.

Mereka memahami satu hal sederhana, air tidak selalu bisa dilawan.

Namun zaman berubah. Rawa perlahan ditimbun, beton terus bertambah, saluran menyempit, sementara ruang air semakin sedikit. Kawasan pinggiran yang dahulu dipenuhi sawah, kebun, dan rawa penyangga kini berubah menjadi deretan perumahan baru.

Kota terus tumbuh, tetapi air kehilangan tempat singgah.

Di beberapa titik, kolam retensi dan kawasan resapan belum mampu mengimbangi laju pembangunan. Anak-anak sungai yang dahulu menjadi jalur alami aliran air sebagian mulai menyempit, bahkan ada yang perlahan menghilang tertutup pembangunan.

Ketika hujan deras turun bersamaan dengan pasang sungai, genangan akhirnya seperti menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah langkah Pemerintah Kota Palembang membuka diskusi dengan Pemerintah Belanda terasa menarik untuk diperhatikan.

Kamis (7/5/2026), Wali Kota Palembang Ratu Dewa melakukan zoom meeting bersama Senior Climate Affairs and Water Management Officer Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia, Nur An-Nisa Milyana.

Dalam pertemuan itu, Pemkot Palembang membahas peluang kerja sama terkait pengendalian banjir dan penanganan genangan air.

Sekilas memang terlihat seperti rapat pemerintahan biasa. Tetapi sesungguhnya ada simbol besar dibalik pertemuan tersebut.

Palembang kota air di tepian Musi yang kini mulai belajar kepada Belanda, negara yang sebagian wilayahnya justru berada di bawah permukaan laut.

Belanda dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air. Mereka membangun tanggul, kanal, pompa air, hingga sistem tata kota yang dirancang agar air tetap memiliki ruang bergerak.

Di negara itu, air tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi bagian dari kehidupan kota, karena itu banyak negara dan kota pernah belajar kepada mereka.

Jakarta, misalnya, pernah menggandeng Belanda dalam proyek penataan kawasan pesisir dan pengendalian rob. Semarang juga menjalin kerja sama dalam pengelolaan banjir pesisir. Sejumlah kota di Vietnam dan Bangladesh pun mempelajari pendekatan Belanda dalam menghadapi ancaman tenggelam akibat perubahan iklim.

Meski begitu, hasilnya tidak selalu instan.

Sebagian kawasan memang mengalami perbaikan pengendalian banjir dan rob.

Namun banyak proyek juga menghadapi tantangan besar, mulai dari pembiayaan, tata ruang, hingga konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Artinya, belajar kepada Belanda bukan jaminan sebuah kota langsung bebas banjir.

Teknologi hanyalah alat, sedangkan keberhasilannya tetap bergantung pada keseriusan pemerintah, keberlanjutan kebijakan, serta keberanian menjaga keseimbangan pembangunan dan lingkungan.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Dinas PUPR dan Bappeda Litbang Kota Palembang memaparkan berbagai persoalan utama penyebab banjir di kota ini. Mulai dari kapasitas drainase yang terbatas, curah hujan tinggi, pengaruh pasang surut sungai, hingga persoalan sampah di saluran air.

Namun menyalahkan masyarakat semata tentu juga tidak cukup adil.

Sebab persoalan banjir di kota besar hampir selalu lahir dari banyak faktor yang saling bertumpuk, misalnya pembangunan yang melaju cepat, berkurangnya ruang resapan, alih fungsi lahan, drainase yang tertinggal, hingga sungai-sungai kecil yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.

Dan Palembang hari ini sedang menghadapi semuanya sekaligus.

Air

Belajar dengan Belanda juga seharusnya tidak dimaknai hanya sekadar mendatangkan proyek, seminar, atau studi banding yang ramai di awal lalu perlahan menghilang tanpa kabar.

Masyarakat  sudah terlalu sering melihat kerja sama besar berhenti di meja presentasi dan tumpukan proposal.

Karena itu tantangan terbesar Palembang sebenarnya bukan memulai diskusi, melainkan menjaga keseriusan setelah diskusi selesai.

Sebab kota ini tidak kekurangan rencana,  yang sering hilang justru konsistensi menjalankan solusi dalam jangka panjang.

Pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa dalam pertemuan itu setidaknya memberi sinyal  persoalan banjir ingin ditangani lebih serius dan terintegrasi.

“Penanggulangan banjir ini harus terintegrasi dengan seluruh stakeholder terkait. Karena itu saya minta ada progres nyata dan segera dieksekusi,” tegas Ratu Dewa.

Kalimatnya progres nyata bahkan menjadi penting, pasalnya masyarakat hari ini tidak lagi hanya ingin mendengar rencana. Masyarakat Palembang ingin melihat suatu perubahan besar, yaitu genangan berkurang, drainase berfungsi, sungai lebih bersih, serta pembangunan kota yang mulai lebih ramah terhadap air.

Pihak Kedutaan Besar Belanda pun melihat peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Palembang.

“Belanda memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air dan pengendalian banjir. Kami melihat ada peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Pemerintah Kota Palembang,” ujar Nur An-Nisa Milyana.

Palembang sebenarnya punya modal sejarah untuk memahami itu. Kota ini sejak dulu hidup bersama sungai. Sayangnya modernisasi kadang membuat kota lupa pada karakter alamnya sendiri.

Rawa ditutup.

Sungai dipersempit.

Air dipaksa pergi terlalu cepat dari kota yang terus dipenuhi beton.

Lantas ketika hujan turun dan genangan datang kembali, semua orang sibuk mencari siapa yang salah.

Padahal mungkin persoalan utamanya bukan semata hujan, melainkan kota yang perlahan kehilangan ruang untuk air.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang sedang dicari Palembang dari negeri yang hidup di bawah laut itu, air tidak selalu harus ditakuti.

Kadang ia hanya perlu diberi ruang untuk kembali bernapas. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wah Keren, Tersedia 14 Bahasa, Samsung Electronics Updates ‘Try Galaxy’ App for Non-Galaxy Users To Explore the Latest Galaxy S23 Series Experience

    Wah Keren, Tersedia 14 Bahasa, Samsung Electronics Updates ‘Try Galaxy’ App for Non-Galaxy Users To Explore the Latest Galaxy S23 Series Experience

    • calendar_month Sabtu, 1 Apr 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Gak rugi gunakan smartphone produk Samsung, karena selalu berinovasi, bukti kemarin Samsung Electronics mengumumkan lagi aplikasi “Try Galaxy” yang disempurnakan, yang memungkinkan pengguna smartphone non-Galaxy1 untuk menguji fitur-fitur baru dari seri Galaxy S23 dan One UI 5.1 yang baru diluncurkan. Aplikasi ini kini juga tersedia dalam 14 bahasa, termasuk Arab, Bahasa Indonesia, Cina […]

  • Ravid Tes Positif COVID-19, Pedagang Sayur PS Pangkalan Balai Di Karantina, Riwayat Perjalanan Belanja Sayur di Ps. Jakabaring

    Ravid Tes Positif COVID-19, Pedagang Sayur PS Pangkalan Balai Di Karantina, Riwayat Perjalanan Belanja Sayur di Ps. Jakabaring

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.062
    • 0Komentar

    SEORANG Pedagang sayur  di Pasar tradisional Pangkalan Balai, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin terpaksa menjalani karanitina di Rusunawa Pemkab. Banyuasin. Warga Kelurahan Kayu Ara Kuning, Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin,ini dinyatakan positif COVID-19 setelah hasil Ravid Tes di lakukan tim medis Gugus Tugas, Kabupaten Banyuasin. Ketua Gugus Tugas Kabupaten Banyuasin H. Askolani SH MH melalui […]

  • Tangkos Jadi Cuan, Warga Muba Jangan Cuma Nonton!

    Tangkos Jadi Cuan, Warga Muba Jangan Cuma Nonton!

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 839
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Kalau biasanya tandan kosong kelapa sawit alias tangkos cuma dijadikan sarang semut atau alat mainan anak-anak kampung buat perang-perangan, kali ini nasib si tangkos bakalan naik derajat. Bukan lagi limbah nganggur, tapi bakal disulap jadi pabrik biomassa di Kecamatan Sungai Lilin, Musi Banyuasin. Investasinya datang bukan untuk selfie bareng bupati atau sekadar gunting […]

  • Mantap, Kemenag tawarkan 6 gagasan berantas korupsi

    Mantap, Kemenag tawarkan 6 gagasan berantas korupsi

    • calendar_month Senin, 16 Des 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.164
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Saat ini berbagai peraturan yang ada dinilai belum dapat menurunkan kasus korupsi di Indonesia. Karena itu Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menawarkan enam gagasan untuk dapat dilakukan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. “Saya akan mencoba untuk memperkenalkan, bagaimana kalau kita menggunakan bahasa agama untuk menyentuh hati dan batin masyarakat kembali pada keluhuran fitrah […]

  • Seorang Wanita Diciduk Polda Metro Jaya, Ini Modusnya ?

    Seorang Wanita Diciduk Polda Metro Jaya, Ini Modusnya ?

    • calendar_month Selasa, 25 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.000
    • 0Komentar

    POLDA Metro Jaya menangkap seorang wanita berinisal MS dan tiga anak buahnya T, MZI, dan MLU yang diduga melakukan penipuan dan penggelapan mobil rental dan mobil kredit. Setidaknya ada 50 unit mobil yang berhasil dijual kepada sejumlah orang beberapa modus. “Ini sekitar 30 unit kendaraan roda empat, tapi diperkirakan ada sekitar 20 unit lagi. Pelaku […]

  • Wagub Tegaskan  Seleksi CPNS 2021 di  Sumsel Sesuai Prosedur

    Wagub Tegaskan  Seleksi CPNS 2021 di  Sumsel Sesuai Prosedur

    • calendar_month Jumat, 21 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 739
    • 0Komentar

    WAKIL Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya memastikan pelaksanaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Sumsel beberapa waktu lalu berlangsung dengan baik. Bahkan dalam pelaksanaannya, tidak terdapat adanya laporan kecurangan seperti yang terjadi di beberapa daerah lainnya. “Situasi dan kondisi di Sumsel dalam pelaksanaan seleksi CPNS berjalan baik. Tidak ada protes ataupun laporan terjadinya kecurangan […]

expand_less
WordPress Archive AntiqueMall – Antique Store Marketplace WordPress Theme Antomi – Multipurpose Theme for WooCommerce WordPress Anubia | Smoking and Hookah Bar WordPress Theme Anwalt – Law Firm and Lawyer WordPress Theme AnyCar – Automotive, Dealership WordPress Theme Anymag – Magazine Style WordPress Blog AnyWhere Elementor Pro WordPress Plugin AOi – Software & Technology WordPress Theme Aoki – Creative Design Agency WordPress Theme Aonsil – Business & Consulting Elementor Template Kit