Kesehatan

Indonesia 80% Bebas Malaria, Tapi Ancaman Belum Selesai

Foto : kemkes

INDONESIA boleh bernafas lebih lega, tapi belum bisa benar-benar tenang. Hingga tahun 2026, sekitar 80 persen wilayah kabupaten dan kota di Indonesia sudah dinyatakan bebas malaria. Dari 514 daerah, sebanyak 412 wilayah telah berhasil memutus penularan penyakit yang ditularkan nyamuk Anopheles ini.

Namun di balik angka keberhasilan itu, ada satu fakta yang tidak bisa diabaikan: malaria belum benar-benar hilang dari Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa eliminasi malaria bukan pekerjaan singkat. Ia menjelaskan upaya ini membutuhkan konsistensi jangka panjang, kerja lintas sektor, dan kewaspadaan yang tidak boleh kendor.

“Setiap daerah harus menyusun strategi berkelanjutan sesuai kondisi wilayahnya,” ujarnya.

Indonesia menargetkan bebas malaria sepenuhnya pada tahun 2030, sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tapi jalan menuju target itu tidak rata.

Papua masih jadi titik kritis

Meski banyak daerah sudah bersih dari malaria, situasi berbeda terjadi di Indonesia bagian timur. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di Papua dan wilayah sekitarnya.

Pada tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 700 ribu kasus malaria di Indonesia. Angka ini bahkan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tapi peningkatan itu tidak serta-merta berarti kondisi memburuk.

Kemenkes menjelaskan, lonjakan kasus justru terjadi karena sistem deteksi yang semakin aktif dan pelaporan yang lebih akurat melalui sistem digital surveilans kesehatan.

Artinya, lebih banyak kasus ditemukan bukan karena malaria menyebar lebih cepat, tapi karena sistem kesehatan bekerja lebih tajam dalam mencari kasus yang sebelumnya tidak terdata.

Ancaman tersembunyi, daerah yang sudah bebas bisa kembali tertular

Inilah bagian yang sering tidak disadari banyak orang, status bebas malaria bukan jaminan wilayah tersebut akan selamanya aman.

Beberapa daerah yang sebelumnya sudah dinyatakan bebas, justru pernah mengalami lonjakan kasus kembali atau bahkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyebabnya beragam, mulai dari mobilitas penduduk hingga perubahan lingkungan.

Nyamuk Anopheles tidak mengenal batas administrasi, selama masih ada genangan air, rawa, tambak tidak terkelola, dan iklim tropis yang mendukung, risiko penularan tetap ada.

Apalagi Indonesia adalah negara dengan mobilitas tinggi. Pekerja proyek, pertambangan, aparat keamanan, hingga masyarakat adat di wilayah terpencil menjadi kelompok yang sering berpindah tempat dan berisiko membawa serta atau terpapar infeksi.

Strategi Kemenkes, temukan, obati, kendalikan

Untuk menghadapi tantangan ini, Kementerian Kesehatan menerapkan strategi yang dikenal dengan TOKEN: Temukan, Obati, dan Kendalikan vektor.

Langkah ini tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan di sumbernya. Nyamuk harus diputus siklus hidupnya, sementara manusia yang terinfeksi harus segera ditemukan dan diobati sebelum menularkan ke orang lain.

Kelompok berisiko tinggi seperti pekerja tambang, pekerja hutan, hingga aparat di wilayah endemis juga menjadi sasaran intervensi khusus. Mereka diberikan kelambu, perlindungan kesehatan, serta pengobatan pencegahan jika diperlukan.

Cara menjaga daerah tetap bebas malaria

Eliminasi malaria tidak berhenti pada pengumuman ‘bebas’, justru tantangan terbesar dimulai setelah status itu dicapai. Karena itu, masyarakat juga punya peran penting.

Berikut langkah sederhana yang menentukan apakah malaria bisa benar-benar hilang atau kembali muncul:

1. Hindari genangan air di sekitar rumah
Nyamuk berkembang biak di air tergenang. Ember, ban bekas, dan saluran air tersumbat harus rutin dibersihkan.

2. Gunakan kelambu saat tidur
Terutama di daerah rawan atau saat musim hujan. Ini perlindungan paling sederhana tapi efektif.

3. Segera periksa jika demam berkepanjangan
Jangan anggap sepele demam, apalagi di daerah endemis. Deteksi cepat menyelamatkan penularan lebih luas.

4. Waspadai pendatang dari daerah endemis
Mobilitas tinggi bisa menjadi jalur masuknya kembali malaria ke daerah bebas.

5. Dukung program pemberantasan nyamuk
Fogging dan pengelolaan lingkungan hanya efektif jika didukung warga.

Indonesia sudah melangkah jauh dalam perang melawan malaria, pasalnya delapan dari sepuluh wilayah kini bebas dari penularan, namun kemenangan ini masih bersifat rapuh sebab malaria tidak hilang hanya karena angka turun, malaria bisa hilang jika semua pihak terus waspada, bahkan saat situasi terlihat aman.

Target 2030 bukan hanya target pemerintah, target itu harus dijadikan tantangan dan ujian, apakah Indonesia bisa menjaga kemenangan kesehatan ini sampai benar-benar tuntas atau justru membiarkan penyakit lama kembali menyelinap lewat celah yang tidak dijaga. (***)

To Top