KETIDAKPASTIAN global kembali sangat berpengaruh sekali bagi perekonomian dunia, terutama terkait dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah, masalah itu tentu berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan Internasional.
Sehingga dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia (BI) memilih tidak hanya bersikap defensif, melainkan harus bisa memperkuat strategi stabilisasi dengan pendekatan kebijakan yang lebih adaptif dan terintegrasi.
Salah satu langkah yang disorot adalah penyesuaian struktur suku bunga pasar melalui instrumen, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kenaikan yield instrumen bertujuan menjaga daya tarik aset keuangan domestik, agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global dan tren suku bunga tinggi di berbagai negara maju.
Strategi ini pada dasarnya bukan cumasoal angka suku bunga, tetapi bagian dari upaya menjaga aliran modal asing tetap masuk. Dalam kondisi global yang sensitif terhadap risiko, investor cenderung mencari negara dengan kombinasi stabilitas makro dan imbal hasil yang menarik, oleh karena itu Indonesia berusaha mengisi dua sisi itu secara bersamaan.
Pertemuan pertemuan dengan investor di Singapura, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rilis dilaman resmi Bank Indonesia (bi.goi.id) menjelaskan BI terus memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar global untuk menjaga kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Pendekatan dinilai penting, karena di era finansial modern, persepsi pasar sering kali bergerak lebih cepat daripada data ekonomi itu sendiri.
Lebih jauh, Ia menjelaskan BI saat ini menjalankan kerangka kebijakan yang disebut integrated monetary policy mix. Kerangka ini mencerminkan evolusi kebijakan moneter yang tidak lagi berdiri pada satu instrumen saja, melainkan kombinasi tiga pilar utama yang dijalankan secara simultan.
Pilar pertama adalah kebijakan suku bunga yang difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta mengendalikan inflasi dalam sasaran. Pilar kedua adalah intervensi di pasar valuta asing, yang berfungsi meredam volatilitas berlebihan pada nilai tukar. Pilar ketiga adalah pengelolaan likuiditas domestik agar sistem keuangan tetap stabil dan tidak mengalami tekanan likuiditas.
Dengan mengaju di atas pendekatan BI tidak lagi mengandalkan satu “senjata utama”, melainkan sistem kebijakan yang saling melengkapi. Ketidakpastian global, fleksibilitas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Selain kebijakan moneter, ungkapnya aspek penting lainnya adalah koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal. BI menekankan stabilitas ekonomi tidak bisa dijaga oleh satu institusi saja, melainkan melalui sinergi kebijakan yang solid antara bank sentral dan pemerintah.
Oleh karena itu koordinasi menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi tetap berada pada kisaran target 2,5±1% serta mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di rentang 4,9–5,7% pada tahun 2026. Meskipun tekanan global meningkat, prospek ekonomi domestik masih berada pada jalur yang relatif stabil.
Selanjutnya BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu instrumen yang diperkuat adalah insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), diberikan kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Tujuannya guna memastikan likuiditas tidak hanya mengendap di sistem keuangan, tetapi benar-benar mengalir ke sektor riil.
Pembiayaan
Selain itu, percepatan penurunan suku bunga kredit juga menjadi perhatian untuk menjaga momen pertumbuhan. Dalam situasi ekonomi global yang tidak pasti, akses pembiayaan menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan dunia usaha.
Di luar kebijakan keuangan, BI juga terus mendorong digitalisasi sistem pembayaran. Pengembangan QRIS, transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal, hingga penguatan infrastruktur pembayaran ritel menjadi bagian dari transformasi besar sistem keuangan Indonesia.
Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperluas inklusi keuangan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan formal.
Jika dilihat secara keseluruhan, strategi BI saat ini mencerminkan pendekatan yang lebih komprehensif. Stabilitas tidak lagi hanya dipahami sebagai pengendalian inflasi atau nilai tukar semata, tetapi juga mencakup ketahanan sistem keuangan, kelancaran kredit, hingga efisiensi transaksi ekonomi.
Di tengah tekanan global yang masih tinggi, Indonesia berusaha menempatkan diri bukan hanya sebagai “korban” dari gejolak eksternal, tetapi sebagai negara dengan kebijakan yang mampu mengelola risiko secara aktif.
Pertemuan dengan investor di Singapura juga menjadi sinyal penting bahwa BI tidak hanya bekerja di dalam negeri, tetapi juga aktif membangun persepsi positif di pasar global. Dalam dunia keuangan modern, kepercayaan investor adalah aset yang sama pentingnya dengan cadangan devisa atau suku bunga.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang adaptif, koordinasi fiskal yang erat, serta reformasi sistem keuangan yang berkelanjutan, Indonesia mencoba menjaga satu hal utama, stabilitas yang tetap hidup, bukan stabilitas yang pasif.
Jadi, di tengah dunia yang masih penuh ketidakpastian, pesan itu menjadi kunci mengapa Indonesia masih dipandang sebagai salah satu destinasi investasi yang relatif menarik di kawasan. (***)